Radar Pasuruan - Massa dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jakarta Pusat menggelar demonstrasi dengan membawa simbol yang dinilai sangat berani, yakni memasang foto Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di atas tiga salib berwarna merah mencolok. Dua salib di sisi kanan dan kiri ditempeli foto kedua pemimpin negara tersebut, sementara massa juga membentangkan banner berisi rentetan tuntutan kepada pemerintah.
Ketua Presidium PMKRI Cabang Jakarta Pusat Yohanes Jonianus Taek menjelaskan bahwa simbol salib tersebut tidak berkaitan dengan aspek keagamaan, melainkan representasi gerakan perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan.
"Nah, dalam gerakan kali ini kami membawa konsep atau simbolisasi tiga salib merah. Salib merah tersebut merupakan simbol perlawanan. Salib bukanlah simbol religius bagi umat Kristiani, tetapi lebih daripada itu, salib merupakan simbol keberanian, simbol perlawanan terhadap penindasan, simbol perlawanan terhadap ketimpangan, simbol perlawanan terhadap ketidakadilan," jelasnya.
Yohanes mengisahkan penyaliban Yesus Kristus yang disalib di antara dua orang berdosa, dengan kedua sosok tersebut disimbolkan sebagai Prabowo dan Gibran dalam konteks aksi ini.
"Dan di belakang kami telah terpampang jelas ada foto Prabowo dan Gibran yang berada di samping kiri-kanan salib yang di tengah. Foto tersebut atau salib tersebut kita angkat dari kisah penyaliban Yesus Kristus di mana Yesus disalib di antara dua orang berdosa. Nah, dua orang berdosa tersebut dalam konteks yang kali ini kami angkat tentunya dua orang berdosa itu adalah Prabowo dan Gibran," terangnya.
PMKRI Jakarta Pusat menilai duet kepemimpinan nasional belum berhasil menyelesaikan problem mendasar yang membebani masyarakat kecil, mulai dari stabilitas ekonomi hingga persoalan struktural yang tak kunjung tuntas.
Baca Juga: Istana Bantah Demo Tolak MBG: Salah Besar Kalau Minta Prabowo Ingkari Janji ke Pemilih
"Kenapa mereka berdosa teman-teman semua? Karena Prabowo dan Gibran merupakan pucuk tertinggi kepemimpinan di negara, tidak mampu menjawab persoalan rakyat, tidak mampu membawa masyarakat yang miskin menaikkan kelasnya menjadi masyarakat yang lebih mapan, tidak mampu untuk mempersoalkan problem-problem struktural yang hari ini ada di negara, teman-teman semua," ucapnya.
Meski melayangkan kritik keras, mahasiswa mengaku masih berharap pemerintah mau berbenah. Mereka menyinggung bahwa dalam kisah penyaliban, dua orang berdosa di samping Yesus mampu bertobat, sementara Prabowo dan Gibran dinilai belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan serupa.
"Tetapi perlu kita ketahui bersama, dua orang dalam kisah penyaliban Yesus Kristus mampu untuk mempertobatkan dirinya. Tetapi dua orang yaitu Prabowo dan Gibran yang hari ini kami angkat sebagai orang berdosa, tidak mampu bertobat, tidak menginginkan pertobatan," katanya.
PMKRI juga mendorong reformasi total sistem kepartaian nasional yang dinilai dikuasai oligarki, agar menghasilkan pemimpin yang benar-benar merepresentasikan suara rakyat.
"Partai politik hari ini kita ketahui bahwa di dalamnya itu feodal, di dalamnya itu dikuasai oleh oligarki. Partai politik semacam itu apa yang mau kita harapkan? Tentunya tidak. Oleh karena itu kami mendorong untuk negara, pemerintahan, semua pejabat yang ada mampu untuk mempertobatkan dirinya, mampu untuk bertobat agar mereformasi partai politik agar ke depannya lebih aspiratif dan lebih merepresentasi suara rakyat," imbuhnya.
Baca Juga: Siswa NTT Keracunan Massal akibat MBG Basi, PMKRI Desak Evaluasi Total Program Andalan Prabowo
Editor : Moch Vikry Romadhoni