Radar Pasuruan - Presiden Prabowo Subianto mengkritik sejumlah pengusaha nasional yang masih menempatkan modal serta hasil usahanya di luar negeri, meskipun telah memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah.
"Kita kasih konsesi tambang, kita kasih konsesi perkebunan, kita kasih lagi kredit dari bank pemerintah, bank milik rakyat, tapi mereka begitu berhasil hasil usahanya tidak ditempatkan di Indonesia," kata Presiden dalam siaran YouTube Sekretariat Negara di Jakarta, Rabu.
Ia menegaskan tidak akan membiarkan praktik pengalihan kekayaan ke luar negeri terus berlangsung selama masa pemerintahannya. Menurutnya, seluruh potensi ekonomi dan sumber daya alam seharusnya dikelola di dalam negeri agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia.
Presiden juga mengingatkan pentingnya sikap nasionalisme bagi para pelaku usaha, agar tidak menjadikan Indonesia hanya sebagai tempat untuk meraih keuntungan semata.
"Bangsa Indonesia tidak mau jadi sawahnya orang lain, tidak mau jadi ladangnya orang lain, bangsa Indonesia ingin kekayaan Indonesia di tangan dan dinikmati oleh rakyat Indonesia," kata Presiden menegaskan.
Ia bahkan menegaskan tidak akan memberi ruang bagi pihak yang tidak memiliki semangat patriotisme jika lebih memilih berpihak pada kepentingan asing.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upaya pemerintah mempercepat program hilirisasi sebagai strategi utama menuju kemandirian ekonomi nasional.
Dalam kesempatan itu, Presiden juga meresmikan dimulainya 13 proyek hilirisasi tahap II di Cilacap, Jawa Tengah, dengan total investasi mencapai Rp116 triliun.
Proyek tersebut mencakup pembangunan fasilitas strategis di sektor energi, mineral, dan pertanian. Beberapa di antaranya adalah pembangunan kilang gasoline di Cilacap dan Dumai, serta fasilitas pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim.
Program ini melibatkan sejumlah BUMN strategis seperti Pertamina, MIND ID, Krakatau Steel, dan PTPN.
Peluncuran proyek tersebut menjadi langkah awal integrasi program hilirisasi yang ditargetkan berjalan secara simultan guna mempercepat investasi dan pembangunan industri bernilai tambah di dalam negeri.
Editor : Moch Vikry Romadhoni