Radar Bromo - Kabupaten Agam tercatat sebagai salah satu daerah dengan dampak terparah akibat banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Barat.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, dari total 191 korban meninggal dunia di Sumbar, mayoritas merupakan warga Kabupaten Agam.
Saat ini, BNPB tengah mengupayakan percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak, dengan target awal sebanyak 117 unit.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa pemerintah bersama BNPB terus menggeser fokus penanganan dari masa darurat menuju tahap pemulihan pascabencana di Agam.
Salah satu langkah konkret dilakukan melalui pembangunan huntara di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.
“Di lokasi tersebut akan dibangun sebanyak 117 unit huntara. Proses pembangunannya didukung oleh 100 personel dari Tim Gabungan TNI,” ujar Abdul Muhari, Kamis (25/12).
BNPB menargetkan pembangunan ratusan unit huntara tersebut dapat diselesaikan pada Selasa pekan depan, tepatnya 30 Desember 2025.
Menurut Abdul Muhari, percepatan pembangunan huntara ini dilakukan karena ruang kelas SDN 05 Kayu Pasak yang saat ini digunakan sebagai lokasi pengungsian akan kembali difungsikan sebagai tempat belajar mengajar mulai Januari 2026.
Oleh karena itu, huntara yang dibangun di area lapangan sekolah tersebut harus segera dirampungkan agar warga terdampak dapat segera menempati hunian sementara yang layak.
Selain di Lapangan SDN 05 Kayu Pasak, BNPB juga merencanakan pembangunan huntara tahap kedua di Lapangan Bola Padang Sibabaju sebanyak 85 unit, serta di Lapangan Bola Jajaran Tantaman sebanyak 7 unit.
“Dengan demikian, total huntara yang dibangun di Kecamatan Palembayan mencapai 207 unit. Sedangkan secara keseluruhan di Kabupaten Agam, jumlah huntara yang akan dibangun mencapai 584 unit,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Agam Benni Warlis menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menyediakan tempat tinggal yang lebih layak bagi warga terdampak bencana yang masih mengungsi.
Ia memastikan setiap kepala keluarga akan mendapatkan satu unit huntara guna menunjang pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis para penyintas hingga nantinya dapat menempati hunian tetap.
Editor : Moch Vikry Romadhoni