Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Pilu Santri Ponpes Al Khoziny, Ada yang Terpaksa Diamputasi di Bawah Reruntuhan

Moch Vikry Romadhoni • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 23:22 WIB

 

Mengintip sederet momen dramatis penyelamatan korban insiden runtuhnya bangunan 3 lantai di Ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo.
Mengintip sederet momen dramatis penyelamatan korban insiden runtuhnya bangunan 3 lantai di Ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo.

Radar Pasuruan - Masyarakat Indonesia dikejutkan dengan robohnya bangunan musala tiga lantai di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin, 29 September 2025.

Hingga Sabtu, 4 Oktober 2025, Kepala Kantor Basarnas Surabaya, Nanang Sigit, melaporkan jumlah korban telah mencapai 118 orang.

"Jumlah total sekarang 118 orang, dengan rincian 14 meninggal dunia dan 104 selamat," kata Nanang di lokasi kejadian, Sidoarjo, pada hari yang sama.

Sebelumnya, Tim SAR Gabungan mengumumkan bahwa tidak lagi ada tanda kehidupan dari balik reruntuhan bangunan beton Ponpes Al Khoziny, Kamis, 2 Oktober 2025.

Syaiful Rosi Abdillah (13) tercatat menjadi korban terakhir yang berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup dan kini menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat.

Proses penyelamatan korban meninggalkan banyak kisah pilu sekaligus mengharukan.

Cerita itu tidak lepas dari keputusan genting Tim SAR Gabungan, perjuangan korban bertahan hidup, hingga doa penuh harap keluarga dan masyarakat yang menanti.

Berikut rangkuman sejumlah kisah korban selamat dari ambruknya bangunan Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo:

Diamputasi di Bawah Reruntuhan

Salah satu korban yang selamat, Nur Ahmad, berhasil dievakuasi pada Selasa, 30 September 2025.

Namun, tangannya harus diamputasi oleh Tim SAR Gabungan agar bisa keluar dari himpitan bangunan.

Salah seorang tenaga medis yang terlibat langsung adalah dr. Aaron Franklyn Suaduon Simatupang.

Bagi Aaron, yang terpenting saat itu hanyalah membawa Ahmad keluar dalam keadaan hidup.

Risiko juga mengintai, sebab para tenaga medis bisa tertimpa bangunan yang sewaktu-waktu mungkin runtuh kembali.

"Pikiran saya, saya sudah siap mati sama pasien kalau bangunan itu runtuh. Karena itu sangat berbahaya, salah gerak sedikit ambruk," ujar Aaron kepada awak media di lokasi kejadian, pada Jumat, 3 Oktober 2025.

Syukurlah, proses amputasi selesai pada pukul 01.30 WIB. Setelah itu, Ahmad berhasil dibawa keluar dari reruntuhan dan dirawat di ICU.

Bertahan 3 Hari Tanpa Makan dan Minum

Syaiful Rosi Abdillah (13) juga harus diamputasi untuk bisa selamat dari reruntuhan Ponpes Al Khoziny.

Kakinya mengalami kerusakan parah setelah tertimpa beton selama tiga hari.

Tim SAR Gabungan menyebut telapak kaki kanan Rosi hancur. Setelah operasi amputasi, ia dirawat intensif di RSUD Sidoarjo.

Saat insiden, Rosi tengah bersama enam temannya. Ia mengaku beberapa kali tertimpa reruntuhan hingga gemuruh berhenti.

Mereka mencoba mendorong beton, namun tidak berhasil.

"Nggak lama nambah ada yang jatuh lagi. Beton semua, nggak bisa dorong. Kami minta tolong bareng-bareng, tapi nggak kedengaran. Baru jam 12 malam ada orang kampung datang bantuin," ujar Rosi di ruang perawatan RSUD Sidoarjo, pada Kamis, 2 Oktober 2025.

Rosi bertahan tiga hari hanya dengan membaca selawat dan istighfar. Ia juga tidak mendapat asupan makan dan minum selama terjebak di reruntuhan.

Tetap Menunaikan Salat di Bawah Puing

Syahlendra Haical atau Haikal (13) juga terjebak di reruntuhan ponpes selama dua hari.

Saat itu, petugas menemukan dua santri, Haikal dan Yusuf (16).

"Semuanya sakit," kata Haikal dari balik reruntuhan pada Selasa, 30 September 2025.

Petugas sempat mencoba menarik Haikal, namun ia berteriak kesakitan karena pinggangnya terhimpit beton.

Akhirnya, Haikal berhasil dievakuasi pada Rabu, 1 Oktober 2025 sore dan langsung dirawat di RSUD RT Notopuro Sidoarjo.

Di rumah sakit, Haikal menceritakan kembali detik-detik sebelum musibah terjadi.

Ia mengatakan sempat mengajak temannya untuk salat bersama. Naas, temannya meninggal di sampingnya.

Meski terhimpit, Haikal tetap melaksanakan salat dengan posisi berbaring.

Santri asal Probolinggo itu juga sempat mengajak temannya salat bersama di bawah reruntuhan.

Temannya masih merespons saat salat Isya. Namun saat Subuh, temannya tak lagi menyahut, hingga Haikal menyadari kawannya telah meninggal dalam posisi sujud.

Baru Menyadari Ambruk Setelah Dievakuasi

Korban lain, Al Fatih Cakra Buana (14), awalnya tidak menyadari musala yang dimasukinya roboh.

Fatih baru sadar setelah dievakuasi. Ia mengira sedang tertidur selama tiga hari, dan menganggap semua yang dialami hanyalah mimpi.

Cerita itu semula diungkapkan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Fatih berhasil dievakuasi pada hari ketiga.

"Ternyata selama tiga hari tertidur. Ketika dievakuasi baru sadar ada gedung yang ambruk," kata Khofifah di Sidoarjo, pada Jumat, 3 September 2025.

Setelah keluar dari reruntuhan, Fatih baru menyadari ponpesnya telah rata dengan tanah.

Remaja 14 tahun itu segera dilarikan ke RSUD Notopuro Sidoarjo. Setelah stabil, ia berbagi pengalaman kepada awak media.

"Saya sempat lari, tapi masih kena (runtuhan). Pas sadar, saya nggak merasa sakit sama sekali," ujar Fatih pada hari yang sama.

Ia mengaku tidak sepenuhnya sadar saat terjebak. Bahkan, dirinya sempat bermimpi seperti berada di dunia lain.

"Seperti tertidur pulas, lalu mimpi minum pakai selang. Rasanya nyata banget. Seperti jalan-jalan di tempat gelap, naik mobil pikap, tapi tidak tahu ke mana," lanjut Fatih.

Fatih berhasil selamat karena tubuhnya tertutup tumpukan pasir.

Kepalanya terlindung seng sehingga terhindar dari material yang lebih berat. Ia juga mengatakan ada lima orang di sekitarnya sebelum bangunan runtuh.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#santri #Ponpes Al Khoziny #reruntuhan #tim sar