RUBRIK Klinik Fotografi Jawa Pos Radar Bromo di dua pekan lalu sudah membahas tentang merangkai sebuah foto dalam bentuk cerita. Namun sebatas pengenalan secara umum saja. Nah, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi tip bagaimana caranya membuat foto cerita dengan menggunakan metode secara spesifik. Yakni dengan metode EDFAT.
Istilah EDFAT itu sendiri merupakan gabungan abjad yang memiliki kepanjangan. EDFAT adalah singkatan Entire (Keseluruhan), Detail (Perincian), Frame (Bingkai), Angle (Sudut Pengambilan Gambar), and Time (Waktu). Metode ini pertama kali dikenalkan pada tahun 1970-an dan menjadi pembelajaran di Walter Cronkite School of Journalism and Mass Communication, Arizona State University, Amerika Serikat. Hingga akhirnya menjadi sebuah metode rujukan yang banyak dipakai oleh kalangan fotografer jurnalistik di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Lalu apa sih keistimewaan menggunakan metode ini? Metode EDFAT ini sangat mempermudah kinerja seorang fotografer dalam mencipta sebuah karya foto cerita. Seperti yang saya rasakan sendiri. Sejak menggeluti dunia fotografi jurnalistik, saya selalu menerapkan metode ini dalam menjalankan kerja sebagai jurnalis foto. Metode EDFAT dapat membantu saya untuk lebih akrab dengan lingkungan. Tak hanya itu, metode ini juga melatih tentang bagaimana memandang sesuatu secara detail dan teratur. Alhasil, karya foto yang dihasilkan tersebut menghasilkan rangkaian cerita yang mudah dipahami banyak orang.
Nah, untuk lebih rincinya apa dan bagaimana itu metade EDFAT, berikut sedikit saya paparkan tentang metode tersebut satu-persatu.
E: Entire (Keseluruhan)
Makna dari Entire atau keseluruhan dalam hal ini yaitu keseluruhan pemotretan sebuah peristiwa pada suatu tempat. Dikenal juga dengan istilah established shot. Entire bisa dikatakan merupakan tahapan awal atau perkenalan untuk memulai merangkai foto cerita. Visual yang diharapkan adalah suasana keseluruhan gambar. Secara teknis fotografi, untuk mendapatkan sisi entire ini umumnya menggunakan lensa dengan sudut lebar (wide angle). Tak menutup kemungkinan juga bisa dilakukan dengan bukaan diafragma sempit yang tujuannya untuk menonjolkan sesuatu yang merupakan poin tema.
D: Detail (Perincian)
Detail merupakan sebuah sudut pandang yang menampilkan foto-foto lebih rinci. Jika pada entire adalah mengambil foto secara luas, sedang detai ini sebaliknya. Yakni bisa berupa foto-foto close up, seperti mimik subjek, simbol-simbol, detail benda-benda yang ada dalam peristiwa. Untuk mendapatkan hasil foto detail Anda bisa melakukannya dengan dua cara. Yakni dengen menggunakan bantuan lensa tele. Atau bisa juga memotret dengan mendekati objek yang hendak dibidik.
F: Frame (Bingkai)
Selain mendapatkan hasil foto menyeluruh dan detail, seorang fotografer juga dituntut untuk mampu memperhatikan sekeliling guna mendapatkan kemungkinan pembingkaian yang menarik dan menunjang rasa dalam foto cerita. Rasa artistik seperti komposisi, pola, tekstur dan bentuk sangatlah penting dalam tahap pembingkaian foto ini. Untuk membuat sebuah frame foto caranya sangat mudah. Cara paling sederhana yakni cukup jauhi objek. Kemudian amati sekitar sambil melihat apakah ada yang sekiranya bisa dijadikan bingkai. Ingat, apapun bisa kok digunakan sebagai frame foto. Tinggal menguji kreatifitas Anda saja.
A: Angle (Sudut Pandang)
Sebelum mengeksekusi gambar, seorang fotografer biasanya bergerak mengitari sambil mengamati objek yang hendak difoto. Nah, selanjutnya ia akan bisa menyimpulkan sudut pandang mana yang paling tepat untuk memotret. Angle atau sudut pandang pengambilan foto bisa dilakukan dengan berbagai angle. Bisa memotret dari hadapan objek atau dikenal dengan eye level view. Bisa juga dari bawah dengan cara berjongkok atau frog eye view. Atau bisa pula memotret
dengan posisi kamera di atas atau dikenal dengan istilah bird eye view. Nah untuk mendapat foto yang tepat, jangan segan-segan untuk mengecek hasil jepretan Anda usai memotret. Pilih mana yang bagus dan paling sesuai dengan tema foto cerita Anda.
T: Time (Waktu)
Time atau waktu merupakan tahap penentuan dalam proses memotret di lapangan. Mengapa demikian, karena ini merupakan tahapan penentuan dalam mengkombinasikan teknik fotografi dengan ketepatan angle bidikan foto. Teknis fotografi bisa meliputi pencahayaan atau diafragma, ISO dan juga kecepatan shutter kamera Anda. Sedangkan ketepatan angle bidikan bisa mencakup ketepatan Anda dalam menangkap momen puncak yang ada. Dengan memperhatikan tahapan time ini seorang fotografer harus memiliki kemampuan dalam menangkap sebuah adegan atau peristiwa untuk mendapatkan foto yang kuat rasa dan drmatis. Jadi, untuk mendapatkan momen yang pass, usahakan Anda selalu dalam posisi “siaga.”
Berikut saya berikan sedikit contoh foto cerita menggunakan metode EDFAT pada saat hunting kejadian musibah bencana banjir yang terjadi di seputaran wilayah Kota maupun Kabupaten Pasuruan. (ube/fun) Editor : Jawanto Arifin