“Ada tujuh bungkus yang saya terima di hari pertama Idul Adha usai penyembelihan. Itu belum di hari kedua. Sebagian besar sudah saya sebar ke kerabat,” beber Mujiana, 55, warga Purworejo.
Dia mengaku, saat Idul Adha dia memang kerap dapat daging dalam jumlah yang melimpah. Bukan kemaruk. Selain dapat jatah karena hampir tiap tahun berkurban, suami Mujiana adalah seorang takmir masjid. Dan setiap tahun selalu jadi panitia kurban. Sehingga suaminya selalu dapat jatah banyak.
Nah, biasanya daging-daging itu disimpan di freezer. Entah itu kambing ataupun sapi, daging-daging itu dimasukkan ke dalam plastik. Kemudian plastik-plastik itu ditandai dengan tulisan spidol. “Sewaktu-waktu mau dimasak, tinggal dipilih. Biasanya kambing yang paling sering didahulukan. Pernah juga ada yang sampai harus dibuang, karena sudah tersimpan lebih dari enam bulan,” kata Mujiana.
Beda halnya dengan Mutia Sari, 32. Wanita asal Gadingrejo tersebut mengaku, tak pernah lama menyimpan daging. Paling banter, daging hanya sebulan ada di freezer kulkasnya. Lebih dari itu, daging harus dimanfaatkan. “Segera dimasak atau diberi ke pembantu. Karena daging itu kan pasti juga ada kadaluarsanya. Wong dimasukkan ke kaleng seperti produk pabrik, tanggal kadaluarsanya juga tak lama,” beber Mutia.
Wanita berhijab tersebut juga mengaku, dirinya juga selalu melimpah akan daging, tiap kali Idul Adha. Ayahnya juga kerap jadi panitia penyembelihan hewan. Dan saudara serta dirinya rutin berkurban. Belum lagi rumahnya yang berdekatan dengan masjid. Sehingga, anter-anter daging kurban kerap membuat kulkasnya menumpuk.
Buang Jika Berubah Warna
Apa benar daging mentah yang disimpan di dalam freezer akan tetap aman dikonsumsi meski dalam waktu relatif lama? Bagaimana cara penyimpanan yang baik supaya daging itu benar-benar aman dikonsumsi?
Pertama, pastikan tangan kita higienis sebelum menyentuh daging. Paling tidak, kita harus mencuci tangan dengan sabun agar kondisinya bersih. Sehingga kotoran yang mungkin menempel di tangan kita tidak sampai mencemari daging. Selanjutnya, barulah kita bisa mencuci daging dengan air bersih yang mengalir. Lalu menaruhnya di wadah yang juga bersih dan sesuai.
Kedua, jangan langsung dimasukkan dalam freezer. Cek dulu apakah suhu freezer di rumah kita sudah sesuai untuk menyimpan daging. Caranya cukup mudah. Es batu yang ada di dalam freezer bisa menjadi patokan. Kalau es batu yang kita simpan belum cukup keras, itu artinya suhu freezer kita perlu ditambah.
drh Nemu Hermawan mengatakan, daging bisa tetap aman meski disimpan di dalam freezer dengan waktu cukup lama. “Bisa bertahan hingga 4 sampai 12 bulan, tapi tergantung jenis dagingnya juga,” kata Nemu.
Ada baiknya, daging yang akan disimpan di dalam freezer terlebih dahulu dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil. Lebih enak lagi bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan daging yang akan diolah. Mengapa begitu? Supaya daging yang sudah membeku tak terlalu sering keluar dari freezer. Sehingga jika kita hendak mengolahnya, tinggal mengambil bagian-bagian yang sudah dipotong menjadi lebih kecil. Dia menambahkan, membekukan kembali daging beku yang kemudian sudah mencair, bisa menurunkan kualitas daging. Sehingga membuatnya lebih cepat busuk.
“Karena daging beku yang bolak-balik keluar masuk freezer bisa mempengaruhi pada kondisi daging itu sendiri. Akibatnya bisa tidak awet,” tambah pria yang juga menjadi Kepala UPT Rumah Potong Hewan di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Pasuruan tersebut.
Jangan lupa, lanjut Nemu, selalu cek kembali kondisi daging mentah yang dikeluarkan dari freezer. Bila daging sudah berubah warna kecoklatan dan terlihat tidak segar lagi, buang. Jangan lanjutkan diolah. Kondisi daging yang cenderung kecoklatan, sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi. Berbahaya bagi kesehatan.
“Apabila Anda memasak daging kurban yang sudah tidak layak lagi dikonsumsi, dikhawatirkan Anda dan keluarga dapat mengalami keracunan makanan,” kata Nemu.
Dia menyebut, daging yang sudah mulai busuk merupakan tempat bersarangnya berbagai bakteri penyebab penyakit. Antara lain seperti stafilokokus, salmonela, basilus, clostridium, dan escherichia coli. Karena itu, tidak ada pilihan lagi selain membuangnya.
“Sebaiknya daging yang rusak tidak dimanfaatkan lagi. Tidak baik untuk kesehatan kita. Bahkan juga tidak baik buat hewan kesayangan seperti anjing ataupun kucing. Mungkin masih boleh buat pakan lele,” pungkas Nemu. (tom/fun) Editor : Jawanto Arifin