Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gedung Yayasan SMK Suropati yang Dulunya Societeit Harmonie

Fandi Armanto • Senin, 19 April 2021 | 12:23 WIB
DULU DAN KINI: Societeit Harmonie zaman dulu. Kanan: Gedung yayasan SMK Suropati saat ini. (Foto: Jawa Pos Radar Bromo)
DULU DAN KINI: Societeit Harmonie zaman dulu. Kanan: Gedung yayasan SMK Suropati saat ini. (Foto: Jawa Pos Radar Bromo)
Gedung SMK (Untung Suropati) Unsur adalah saksi sejarah. Berdiri kokoh pada masa perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, sampai sekarang. Bangunan Belanda ini mengalami lima kali perubahan fungsi. Akhirnya menjadi gedung sekolah sejak 1964.

 

GEDUNG ini awalnya didirikan sebagai ballroom pada 1858 untuk memfasilitasi orang-orang Eropa, terutama Belanda. Khususnya untuk tempat hiburan. Waktu terus berlalu. Pada 1921, gedung ini diresmikan dan diberi nama Societeit Harmonie. Di dalamnya ada ruang dansa, biliar, arena bermain kartu, gudang minuman, teater, ruang pertemuan, sampai penginapan. Kamar-kamar tersedia untuk tempat singgah.

Pembangunan awal gedung ini tidak lepas berlakunya UU Gula dan UU Agraria pada 1830. Aturan itu memberikan izin semakin luas kepada perusahan swasta Eropa untuk menanamkan investasi di wilayah Hindia Belanda.

Salah satunya, industri gula di Oosthoek (yang berkembang menjadi Karesidenan Besuki dan Probolinggo, hingga menjadi Gemeente Pasuruan). Pendirian industri gula ini membuat beberapa perubahan. Semakin banyak orang Belanda dan Eropa tinggal di sini waktu itu.

”Mereka membutuhkan beberapa sarana. Mulai permukiman, sekolah, dan hiburan,” ungkap Ketua Dewan Kebudayaan Kota Pasuruan Muhamad Roem Latif kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Dia menjelaskan, Gedung Harmoni terdiri atas tiga bangunan. Satu bangunan utama dan dua bangunan samping yang sudah mengalami banyak perubahan. Bangunan utama terdiri atas dua lantai. Bangunan samping terdiri atas satu lantai. Bangunan utama dan samping membujur dari timur ke barat dan menghadap barat. Di sekelilingnya ada halaman di depan, belakang, dan samping.

Bangunan utama berukuran lebih besar daripada bangunan samping. Posisinya menjorok ke depan. Lantainya lebih tinggi dengan atap berbentuk pelana. Teras depan menggunakan lantai marmer berwarna abu abu. Plafonnya pelat seng warna putih.

Di sisi barat teras terdapat tiga pasang pintu kaca. Pintu itu berbentuk persegi panjang. Setelah melewati pintu, terdapat central room yang berukuran besar. Ruangan ini menghubungkan teras depan dengan teras belakang serta halaman samping.

Ruang tengah terdiri atas bagian depan, tengah, dan belakang. Lantainya beberapa macam. Lantai samping menggunakan tegel berbentuk persegi dan segi enam, serta lantai persegi, dan marmer. Setelah melewati ruang tengah, terdapat kamar di sisi kanan dan kiri. Kamar itu memiliki pintu kayu. Menghadapnya ke ruang tengah. Kedua kamar ini mempunya pintu yang saling berhadapan.

Di teras belakang terdapat tangga menuju lantai dua. Lantai ini terbuat dari papan kayu. Tangga kayu dan ruang atas ini merupakan tambahan yang dibangun tidak sezaman dengan bangunan utama. Bangunan samping ada dua. Bangunan samping selatan dan utara. Namun, keduanya sudah sangat berubah. ”Keberadaanya terlihat dari struktur di selatan bangunan utara,” jelas Bang Roem-sapaan Roem Latif.

Photo
Photo
SAKSI SEJARAH: Societeit Harmonie yang kini jadi gedung milik Yayasan Pendidikan Untung Surapati. (Foto: Jawa Pos Radar Bromo)

Proses Menjadi Sekolah Teknik

GEDUNG Harmoni ini dijadikan bangunan sekolah sejak 1964. Semua berawal dari kepedulian tokoh pendidikan setempat. Karena saat itu belum ada sekolah kejuruan. Saat itu, P3GI dan PT Boma digandeng untuk mewujudkannya. Dan yang pertama memimpin sekolah ini adalah orang Boma.

Terhitung sudah ada enam kali kepemimpinan sampai sekarang. Yakni, Abdurrohman (1964-1983), Soegondo (1983-1992), Soemarno (1992-1994), Ir H Chafi Chuzaimi (1994-2012), Drs Mokh. Taukhid (2012-2016), dan Drs Suprijadi (2017—sekarang). Di awal berdirinya, ada dua kelas untuk STM. Jumlah siswanya 62 orang. Jurusan yang dibuka saat itu adalah mesin.

Saat ini, 746 siswa dengan lima program keahlian. Listrik, mesin, kendaraan ringan, komputer jaringan, dan teknis sepeda motor. Dan dibagi dalam 25 rombongan belajar (rombel),” ungkap Kepala SMK Unsur Suprijadi.

Menurut dia, Gedung Harmoni sudah mengalami sejumlah perubahan demi kepentingan rehab. Pertama pada 1921, saat diresmikan oleh Hinda Belanda. Gedung itu diperluas dan dipercantik di lantai aula utama.

Lalu, pada 1947, gedung ini direhab lagi dan berubah fungsi menjadi markas Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Ada rehab pilar sampai 1951. Sebelum akhirnya menjadi Gedung Rakyat pada 1962. Kemudian, menjadi bangunan sekolah pada 1964.

Tak hanya bentuk. Luas gedung juga mengalami perubahan. Awalnya sertifikat tahun 1970. Berdasar surat ukur yang diterbitkan pada 1955, luas Gedung Harmoni 6.502 meter persegi. Sekarang tinggal 6.000 meter persegi. Sebab, yang 502 meter persegi diminta menjadi akses Jalan Tengger di sisi utara gedung.

“Di luar itu, gedung tidak berubah. Kecuali tambahan ruang kelas di sisi sekitar bangunan utama. Perubahan juga hanya rehab agar kondisi bangunan tetap terjaga,” tambah Bang Roem Latif. (riz/far)

  Editor : Fandi Armanto
#yayasan pendidikan untung surapati #peninggalan belanda di pasuruan #gedung harmoni #societeit harmonie #cagar budaya kota pasuruan