----------------
KABUPATEN Probolinggo memiliki potensi wisata yang tersebar di seluruh wilayah hingga pelosok desa. Salah satunya di Kecamatan Krucil dan Tiris yang saat ini secara bertahap terus dikembangkan oleh Disporaparbud Kabupaten Probolinggo.
Dalam proses pengembangan, upaya promosi terus gencar dilakukan. Seperti dengan menggelar Lomba Layang-Layang Hias di Rest Area Desa Betek, Kecamatan Krucil, Sabtu (26/9) lalu.
Lomba layang-layang dipilih dengan pertimbangan, layang-layang merupakan olahraga sekaligus hobi yang banyak digandrungi masyarakat ketika musim kemarau. Mulai anak-anak hingga dewasa banyak yang menyukai layang-layang.
Tidak hanya itu, bermain layang-layang juga dapat mengasah kreativitas, terutama dalam pembuatannya. Serta, memerlukan ketangkasan agar layangan yang telah dibuat dapat mengudara dengan baik. Karenanya, kegiatan ini memiliki manfaat yang beragam, baik untuk peningkatan sumber daya manusia (SDM) dan perekonomian dari sektor wisata.
“Lomba ini merupakan salah satu upaya untuk mengenalkan dan mempromosikan wisata yang ada di Kabupaten Probolinggo. Harapannya dapat meningkatkan ekonomi masyarakat desa,” ujar Kepala Disporaparbud Kabupaten Probolinggo, Sugeng Wiyanto.
Lomba ini juga turut diundang jajaran Forkopimda, Forkompika Krucil dan Tiris, dan tokoh masyarakat. Serta, sejumlah pihak yang turut membantu menyukseskan terselenggaranya kegiatan ini.
Meski masih suasana pandemi Covid-19, antuasiasme peserta dan penonton masih cukup tinggi. Karenanya, panitia menerapkan protokol kesehatan dengan sangat ketat.
Saat memasuki areal perlombaan, peserta dan penonton diwajibkan menggunakan masker. Setelah itu, harus menjalani pemeriksaan suhu tubuh. Selama perlombaan berlangsung, panitia tak henti-hentinya mengawasi dan mengimbau hadirin untuk tetap menjaga jarak dan tidak berkerumun.
“Perlombaan betul-betul menerapkan protokol kesehatan. Pengurangan peserta dilakukan dan pelaksanaannya dilakukan secepat mungkin menghindari kerumunan yang berlebihan,” ujar Sugeng.
“Mayoritas berupa burung, barong, orang, dan abstrak. Namun, harus tetap mematuhi ukuran yang telah disepakati,” ujar salah satu juri Firman Maulana Nursafri.
Menurutnya, ada 3 poin penilaian yang dilakukan dalam Lomba Layang-Layang Hias. Pertama, penilaian bawah. Berkaitan dengan keindahan, kerapian, dan kerumitan corak layangan. Selanjutnya, berhasil mengudara dan bergerak bebas saat telah berada di awan. Terakhir, saat diturunkan harus dapat ditangkap oleh tangan peserta dan tidak boleh menyentuh tanah.
“Pada prinsipnya aspek yang dinilai kreativitas dan teknik bermain. Layangan yang baik akan mengudara dengan baik, ketika sudah berada di atas akan berdansa mengikuti ritme angin yang berhembus,” tuturnya.
Selama 2,5 jam peserta berlomba menggunakan layangan andalan serta menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Akhirnya, setelah seluruh tim menerbangkan layangan, dewan juri merekapitulasi hasil penilaiannya.
Diputuskanlah, ada tiga peserta yang mendapatkan nilai tertinggi. Nama layangan Mbah Kliwon, dengan nomor urut 16, milik Abdul Latif, warga Desa Sumberrejo, Kecamatan Paiton, menjadi juara 1.
Disusul Buto Ijo, nomor urut 14, milik Ahmad Baihaki, warga Desa Sukorejo, Kecamatan Kotaanyar, juara 2. Juara 3, diraih oleh layangan Covid-19, nomor urut 19, milik Pravasta Arga, warga Desa/Kecamatan Krucil.
Abdul Latif mengaku telah beberapa kali mengikuti lomba layang-layang hias. Namun, pada Lomba Layang-Layang Hias dalam rangka dua tahun Nawahati ini berhasil menjadi juara dan mendapatkan hadiah utama berupa satu unit televisi 32 inchi.
“Tentu bangga bisa menjadi juara dalam lomba yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo. Semoga nanti kreativitas meningkat dan wisata semakin diminati pengunjung,” ujarnya.
Kepala Disporaparbud Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto mengatakan, para pemenang yang dibagi menjadi beberapa kategori juara, juara harapan, dan nominasi mendapatkan hadiah, trofi, dan piagam penghargaan.
“Semoga event ini menjadi pemacu kreativitas masyarakat, khususnya peserta. Kami rencanakan kegiatan serupa akan dilakukan di wilayah lain agar wisatanya dikenal serta dibanjiri pengunjung,” ujarnya. (ar/rud/adv) Editor : Jawanto Arifin