Ahmad Subairi, satu guru mengaji asal Desa Karangren, Kecamatan Krejengan ini megatakan, hingga sekarang dia masih katakutan. “Tidak hanya saya yang masih merasa takut. Santripun banyak yang sudah tidak mau untuk azan. Jadi masih menyisakan trauma berkepanjangan,” ujarnya saat ditemui Kamis (3/9).
Beberapa hari yang lalu, kejadian yang membuat suasana lembaga pendidikan nonformalnya ini berbalut ketakutan terjadi. Beberapa santri yang hendak menghidupkan mesin pengeras suara tersengat listrik. Kejadian itu tidak hanya sekali saja.
“Sudah ada tiga santri sampai sekarang yang tersengat listrik dari mesin yang disabotase. Padahal selepas kejadian itu mesin langsung saya perbaiki. Munkin karena adanya sabotase itu meski mesin diperbaiki namun tidak bisa kembali normal,” ujarnya.
Dengan adanya kejadian yang menimpa santrinya itu, lantas membuat Ahmad memiliki ide untuk membungkus mesin dan mikron yang masih tidak normal itu dengan kain kafan. Mengingat, menurutnya, listrik tidak dapat mengalir pada kain.
“Semementara ini saya bungkus mesin dengan kain kafan. Disamping untuk menjaga agar tidak tersengat listrik, kain kafan ini diharapkan agar apabila pelaku hendak menyabotase mikrofon lagi bisa sadar pada kematian, sehingga pelaku dapat mlberfikir dan mengurungkan niatnya,” ujarnya.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Krejengan Bripka Fajar Kurniawan mengatakan, hingga saat ini aduan yang dilakukan korban masih masuk pada penyelidikan. “Stastusnya masih aduan, dan saat ini masih masuk pada penyelidikan,” ujarnya.
Kejadian sabotase mikrofon yang di sambungkan pada trafo mesin itu sebelumnya terjadi Minggu (23/8), sekitar pukul 04.14. Saat itu Ahmad hendak melangsungkan azan subuh di musalanya. Beruntung pada wakyu itu Ahmad selamat akibat tidak memegang mikrofon yang sedang terali listrik secara langsung. (mu/fun) Editor : Fandi Armanto