Selama ini, menurutnya, Dinkes Kabupaten Pasuruan harus menunggu lama untuk memastikan pasien positif korona atau tidak. Sebab, harus menunggu tes swab dari Surabaya.
“Kami ingin ada percepatan dalam pendeteksian pasien positif korona atau tidak. Karena selama ini, untuk menunggu hasilnya positif atau negatif, harus menunggu berhari-hari dari hasil swab,” tambahnya.
Ia mengakui, untuk mendeteksi awal, Dinkes atau RSUD Bangil menggunakan rapid test. Padahal, rapid test tidak seakurat tes swab.
Selama ini, hanya hasil swab yang bisa memastikan pasien tersebut terinfeksi korona ataupun tidak. Untuk itulah, pihaknya mendorong Pemkab untuk melakukan pengadaan alat tersebut.
“Pengadaan alat PCR itu kami rasa sudah mendesak. Supaya, ada kepastian dalam pemeriksaan pasien,” sambungnya.
Kepala Dinkes Kabupaten Pasuruan Agung Basuki mengungkapkan, pengadaan alat PCR memang menjadi agenda yang akan direalisasikan dalam waktu dekat. Hal ini dibutuhkan dalam upaya percepatan dalam pendeteksian pasien.
Karena dengan PCR, positif atau tidaknya pasien Covid-19, bisa diketahui dengan waktu hanya sekitar tiga jam. “Berbeda dengan saat ini, membutuhkan waktu hingga berhari-hari. Karena harus menunggu dari Unair,” bebernya.
Biaya pembelian PCR itu diakuinya tidak murah. Bisa mencapai Rp 1 miliar per unitnya. Ia mengaku, membutuhkan minimal satu unit. Yakni, untuk RSUD Bangil.
“Kami akan ajukan dua unit. Satu untuk di RSUD Bangil dan satu di RS Grati. Kalaupun hanya satu unit, kami rasa tidak masalah,” tutupnya. (one/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin