Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Kelam di Balik Motif Garis-garis yang Klasik

Achmad Syaifudin • Sabtu, 13 September 2025 | 18:25 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

SOBAT Desain, sebagai motif visual, garis-garis adalah salah satu yang paling klasik. Saking lazimnya dalam sejarah desain kita, asal muasalnya sulit dilacak.

Pakaian bergaris kini hadir di mana-mana dalam budaya kita. Kita menganggap motifnya sangat fleksibel dalam hal suasana, gaya, skala, dan nada. Namun, di masa lalu, motif garis memiliki konotasi yang sangat tidak diinginkan.

Pada abad pertengahan, semua jenis warga eropa klas pinggiran masyarakat mengenakan garis-garis, berdasarkan keputusan pemerintah, karena memudahkan untuk mengumpulkan mereka di tengah kerumunan.

Garis-garis merupakan cara untuk membuat orang luar mudah dikenali oleh petugas. Pelacur, penjahat, mereka yang dipenjara di sanatorium, serta penyanyi keliling dan pelawak istana mengenakan garis-garis. Garis-garis khas pemain sirkus (dan tenda sirkus) mengingatkan kita pada visual ini.

Anggota geng Chain di AS mengenakan seragam bergaris, yang mencerminkan warisan negatif yang sama. Bahkan anggota Zoot Suits bergaris dan gangster seperti Al Capone dengan setelan bergaris-garis mereka berasal dari latar belakang yang sama. Garis-garis memiliki masa lalu yang panjang dan bernoda.

Breton Stripe Angkatan Laut Prancis

Berbeda dengan garis-garis pada umumnya, garis Breton bersifat ikonik dan memiliki warisan yang jauh lebih harmonis. Garis Breton kemudian dikenal sebagai kemeja pelaut, dinamai berdasarkan Breton (pantai Brittany) di Prancis.

Baju Breton awalnya berupa pullover rajutan wol dengan leher lebar. Secara teknis, kemeja garis Breton memiliki garis-garis biru dan putih yang berselang-seling, dengan garis-garis putih (dua puluh satu garis) dua kali lebih lebar dari garis-garis biru.

Baju ini merupakan seragam resmi angkatan laut Prancis selama 150 tahun. Awalnya, hanya perwira tinggi yang mengenakan garis-garis Breton, tetapi akhirnya garis Breton diperluas untuk semua pelaut angkatan laut.

Ketika garis Breton hanya dikenakan oleh perwira tinggi di angkatan laut Prancis, semua pelaut berpangkat rendah naik ke kapal dengan pakaian mereka sendiri (yang seringkali compang-camping). Pada tahun 1958, Laksamana Hamelin, Menteri Kelautan Prancis, mengumumkan bahwa garis Breton akan dipasok dan dikenakan bahkan oleh pelaut berpangkat rendah.

Setelah kejadian ini, persediaan garis-garis Breton menurun drastic karena banyaknya permintan, dan para pelaut yang mengenakan garis-garis Breton tiba-tiba, dengan nada merendahkan, dipanggil zebra oleh perwira di atas mereka yang sebelumnya mengenakannya, yang kini mengenakan seragam baru perwira tak lagi garis-garis.

Selain itu, pola garis-garis tersebut diyakini memudahkan siapa pun yang terjatuh ke laut untuk dikenali di air. Garis-garis tersebut tampak mencolok.

Di pesisir pantai yang lebih cerah, tak lama setelah garis Breton dikenakan oleh angkatan laut, para pelaut dan nelayan lokal di Prancis Utara mengadopsi pola tersebut untuk kemeja kerja mereka sendiri. Pola ini juga digunakan oleh para nelayan yang menangkap dan menjual ikan, serta para penjual bawang putih dan bawang merah yang berjualan di dermaga Breton.

Breton Stripe Dipopulerkan oleh Coco Chanel

Mungkin Sobat Desain mengenal Coco Chanel? Dia adalah seorang perancang busana yang memiliki brand Chanel. Secara kebetulan saat bepergian ke French Riviera (tempat ia dulu tinggal), Coco Chanel terinspirasi oleh garis-garis yang dikenakan di dermaga. Pada tahun 1917, ia memasukkan garis-garis Breton ke dalam koleksi busana wanitanya.

Karena ini adalah era Modernisme Prancis, pola yang elegan ini sangat cocok untuk masa itu, dan mudah diterima.

Baju resmi yang menyiksa seperti korset masih ada di lemari pakaian setiap wanita Eropa pada tahun 1917. Tetapi jika seorang wanita berada di pedesaan atau pesisir, ia akan mengenakan pakaian kasual berupa celana panjang dan sesuatu seperti kaus.

Selama beberapa dekade, hingga Perang Dunia II, budaya anak muda menghidupkan kembali garis Breton. Pada tahun 1950-an, anak muda memadukannya dengan celana jin biru. Budaya beatnik tahun 1960-an dan anak muda French New Wave kembali merangkul garis Breton.

Nah Sobat desain, garis Breton adalah bagian dari struktur budaya visual kita. Garis ini telah meresap ke dalam budaya kita, baik dalam desain resmi maupun tidak resmi. Garis ini terus-menerus ditafsirkan dan tetap menjadi pola yang dapat dikenali dan abadi. Bagaimana menurut Sobat Desain? (asa/fun)

Editor : Abdul Wahid
#klasik #motif garis