Kehilangan sosok ibu saat masih duduk di bangku sekolah dasar menjadi salah satu babak paling berat dalam hidup Mil (nama samaran), 32. Warga Kabupaten Probolinggo itu harus menjalani masa kecil tanpa kasih sayang seorang ibu. Di usia ketika anak-anak lain masih bisa menikmati perhatian dan kebutuhan dari orang tua secara utuh, Mil justru harus belajar menjalani hidup dengan segala keterbatasan.
SEPENINGGAL ibunya, kehidupan Mil tak berjalan mudah. Sang ayah kemudian menikah lagi. Sementara itu, Mil tinggal di rumah peninggalan ibunya bersama sang adik. Kesehariannya dia tinggal bersama nenek, tepatnya adik dari nenek kandungnya.
Nenek kandungnya sudah lama meninggal. Sementara nenek yang tinggal bersama Mil kondisinya sudah menua. Kehidupan keluarga yang tak lagi utuh membuat Mil tumbuh dengan keadaan yang jauh dari kata berkecukupan.
Bukan hanya kehilangan tempat bercerita, Mil juga mengaku tak pernah mendapatkan uang saku sejak kecil. Untuk kebutuhan sederhana yang mungkin dianggap biasa oleh anak-anak seusianya, ia tak selalu bisa merasakannya. Kondisi itu perlahan membentuk kesehariannya. Ada kebutuhan, ada keinginan, tetapi tak ada uang di tangan untuk memenuhinya.
Di usia yang masih belia, Mil belum sepenuhnya memahami bagaimana menghadapi keadaan tersebut. Ia hanya menjalani hari-harinya dengan lingkungan yang ada di sekelilingnya. Sayangnya, lingkungan itu justru membawanya semakin jauh dari jalan yang benar.
Teman sepergaulan Mil saat itu bukanlah anak-anak yang terbiasa melakukan hal positif. Sebagian besar justru dikenal nakal dan terlibat aksi pencurian, minum miras dan mengkonsumsi baranf haram. Hampir setiap hari, Mil berinteraksi dengan mereka. Apa yang semula hanya dilihatnya dari kejauhan, lambat laun mulai dianggap biasa.
“Awalnya saya hanya ikut bergaul. Namun, pergaulan yang terus-menerus dengan teman-teman yang salah membuat batas antara benar dan salah semakin kabur,” kata Mil yang mengaku ikut terjerumus dalam aksi pencurian. Dari situlah perjalanan kelamnya dimulai.
Bagi Mil, uang hasil mencuri memberikan sesuatu yang selama ini sulit didapatkannya. Ia bisa memegang uang sendiri, membeli sesuatu, dan memenuhi keinginan yang sebelumnya hanya bisa dipendam. Sayangnya, uang yang didapat dengan cara mudah itu justru menumbuhkan keinginan untuk mengulanginya.
Sekali berhasil, ia tergoda untuk melakukannya lagi. Begitu seterusnya. Kebiasaan yang awalnya mungkin dianggap sebagai jalan pintas untuk mendapatkan uang, perlahan berubah menjadi bagian dari kehidupannya.
Mil tak lagi hanya terlibat dalam pencurian kecil-kecilan. Seiring waktu, ia mengaku pernah melakukan pencurian dengan sasaran barang bernilai besar. Sapi, sepeda motor, dan barang berharga lainnya pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya yang kelam.
Celakanya, Mil juga ikut terjerumus mengkonsumsi alkohol atau miras, narkotika. “Di saat mengingkannya, saya pernah harus mencuri dulu untuk membelinya. Saya terjebak dalam lingkaran yang sulit diputus,” kenang Mil.
Mil tak melihat risiko yang mengintai di depan mata. Mil pun bukan orang yang sama sekali tak pernah merasakan akibat dari perbuatannya. Ia mengaku beberapa kali harus berurusan dengan hukum hingga merasakan dinginnya ruang tahanan karena kasus pencurian.
“Bahkan dalam perjalanan semasa remaja, saya pernah mengalami kejadian yang nyaris merenggut nyawa. Saya hampir mati diamuk massa,” beber Mil.
Namun, jalan menuju perubahan ternyata tak selalu bisa ditempuh hanya dengan satu kali peringatan. Meski pernah berurusan dengan hukum dan menghadapi ancaman dari masyarakat, Mil masih membutuhkan waktu panjang untuk benar-benar meninggalkan kebiasaan buruknya.
Siapa sangka, perubahan besar dalam hidup Mil justru datang ketika ia bertemu dengan seseorang yang kemudian menjadi belahan jiwanya. Perempuan yang kini menjadi istrinya itu hadir di tengah kehidupan Mil yang penuh masa lalu kelam.
“Istri saya bukan hanya menjadi pasangan hidup, tetapi juga bagian penting dari perjalanan untuk memperbaiki diri. Pernikahan menjadi titik saya mulai memandang hidup dari sudut yang berbeda,” beber Mil.
Jika sebelumnya ia lebih banyak memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk memenuhi keinginannya, setelah menikah ia mulai belajar memikirkan kehidupan bersama orang lain. Ada seorang istri yang harus dijaga, ada rumah tangga yang perlu dipertahankan, dan ada masa depan yang harus dibangun.
Perlahan, Mil mulai mengurangi kebiasaan mencurinya. Keputusan itu tidak semata-mata tentang menghindari penjara atau takut tertangkap. Ada kesadaran baru yang mulai tumbuh dalam dirinya bahwa kehidupan tak lagi hanya tentang dirinya sendiri.
Perubahan tersebut semakin kuat setelah ia dikaruniai anak. Kehadiran buah hati membuat Mil berpikir lebih jauh tentang tanggung jawab sebagai seorang ayah.
Anak yang dahulu mungkin hanya akan dipandang sebagai bagian dari kehidupan, kini menjadi alasan kuat baginya untuk mengubah arah perjalanan hidup.
Di titik inilah, masa lalu yang selama bertahun-tahun dijalaninya mulai terasa berbeda. Uang yang dahulu mudah diperoleh dari hasil pencurian kini justru menjadi sesuatu yang ingin ia tinggalkan. Ia mulai memikirkan dari mana uang untuk kebutuhan keluarga berasal dan bagaimana cara mendapatkannya.
Mil pun memiliki pemikiran yang sederhana, tetapi mengena. Ia tak ingin anaknya tumbuh dengan kebutuhan yang dipenuhi dari hasil kejahatan.
"Masak anak saya mau dikasih makan uang hasil haram," begitu pemikiran yang kini menjadi pegangan Mil.
Kalimat tersebut menjadi pengingat bagi dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa seorang ayah bukan hanya bertugas mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Lebih dari itu, seorang ayah juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan contoh kepada anaknya.
Apa artinya bisa membeli banyak hal jika uang yang digunakan berasal dari perbuatan yang merugikan orang lain? Apa artinya keluarga bisa menikmati kecukupan sesaat jika sewaktu-waktu sang ayah harus kembali berurusan dengan hukum dan kehilangan kesempatan untuk mendampingi anaknya tumbuh besar?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seolah mengubah cara Mil memandang kehidupan. Ia mulai memahami bahwa uang yang diperoleh dengan susah payah, tetapi melalui jalan yang benar, memiliki arti berbeda dibandingkan uang yang didapat dari mencuri.
Kini, Mil berupaya mencari nafkah dengan cara yang halal. Menjual pentol di depan salah satu indomart di Kabupaten Probolinggo. Penghasilannya mungkin tidak seberapa. Ada kalanya uang yang dibawa pulang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sederhana. Tak semua keinginan bisa langsung terpenuhi. Bahkan, ia harus belajar menerima keadaan ketika hasil kerja kerasnya belum mampu memberikan kehidupan yang serba berkecukupan.
Namun, bagi Mil, keadaan itu jauh lebih baik daripada harus kembali mengambil milik orang lain.
Ia memilih menjalani hidup dengan kemampuan yang dimiliki. Sedikit demi sedikit, ia berusaha memenuhi kebutuhan keluarga tanpa harus mengulangi kesalahan masa lalu. Baginya, mendapatkan uang dengan cara yang benar menjadi bagian penting dari upaya membangun kehidupan baru.
Perjalanan tersebut tentu bukan perkara mudah. Mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun membutuhkan kemauan kuat. Apalagi, ketika seseorang pernah terbiasa mendapatkan uang melalui jalan pintas, mencari nafkah dengan cara yang benar bisa terasa lebih berat.
Tetapi, Mil kini memiliki alasan untuk bertahan. Ada istri yang mendampinginya dan anak yang menjadi tanggung jawabnya. Keduanya menjadi pengingat bahwa hidupnya tak boleh terus-menerus terjebak dalam cerita lama.
Di sisi lain, ia juga bersyukur memiliki istri yang menerimanya apa adanya. Perempuan yang kini menjadi pendamping hidupnya itu tak hanya hadir ketika keadaan baik-baik saja. Ia juga menjadi bagian dari perjalanan ketika Mil berusaha meninggalkan masa lalu dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Penerimaan tersebut bukan berarti membenarkan kesalahan yang pernah dilakukan Mil. Justru, kesempatan untuk menjalani hidup bersama keluarga menjadi tanggung jawab yang harus dijaga. Kepercayaan yang diberikan kepadanya tak boleh disia-siakan dengan kembali melakukan perbuatan yang sama.
Mil berusaha membalas penerimaan itu dengan terus berjuang. Ia belajar bersyukur atas apa yang dimiliki, meski belum banyak. Ia juga berusaha menerima bahwa kehidupan yang dibangun melalui jalan yang benar tidak selalu menghadirkan hasil besar dalam waktu singkat.
Ada harga diri yang ingin ia jaga. Ada kepercayaan keluarga yang ingin ia pertahankan. Dan ada masa depan anak yang tak ingin ia pertaruhkan hanya demi uang yang diperoleh secara instan.
Kini, Mil berupaya menjalani hidup dengan lebih tenang. Ia tak lagi ingin menjadikan pencurian sebagai jalan untuk memenuhi kebutuhan. Masa lalu itu tetap menjadi bagian dari kisah hidupnya, tetapi bukan berarti harus terus diulang.
Pengalaman pernah dipenjara, hampir diamuk massa, hingga berulang kali terjerumus dalam pencurian menjadi pelajaran yang tak ingin ia alami kembali. Ia tahu bahwa kesalahan masa lalu tidak bisa dihapus begitu saja. Namun, ia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki langkah dan menunjukkan perubahan melalui apa yang dilakukannya hari ini.
Bagi Mil, tobat bukan sekadar berhenti mencuri untuk sementara waktu. Ia harus terus menjaga diri agar tak kembali ke kebiasaan lama, sekalipun keadaan ekonomi sedang sulit. Sebab, godaan untuk mengambil jalan pintas bisa saja datang kembali ketika kebutuhan keluarga semakin banyak, sementara penghasilan belum mencukupi.
Di situlah perjuangan sebenarnya dimulai. Bukan hanya berani mengatakan ingin berubah, tetapi juga mampu bertahan ketika hidup tak berjalan sesuai harapan.
Ia kini memilih berjuang dengan apa yang dimiliki. Tak lagi mengejar uang dalam jumlah besar melalui jalan yang salah. Tak lagi menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk terus melakukan kesalahan. Ia ingin membuktikan bahwa seseorang yang pernah tersesat masih bisa berusaha menemukan jalan pulang.
Kisah Mil menjadi pengingat bahwa masa lalu seseorang memang tak selalu baik. Ada kesalahan yang pernah dilakukan, ada orang yang mungkin pernah dirugikan, dan ada konsekuensi yang harus ditanggung. Namun, selama masih ada kemauan untuk berubah, kesempatan memperbaiki diri tetap terbuka.
Meski begitu, perubahan tak cukup hanya diucapkan. Ia harus dibuktikan melalui tindakan yang konsisten, tanggung jawab terhadap keluarga, serta komitmen untuk tidak mengulangi perbuatan yang sama.
Kini, Mil memilih menjalani kehidupan sederhana bersama istri dan anaknya. Ia mungkin belum bisa memberikan segala sesuatu yang diinginkan keluarganya. Namun, ia ingin memastikan bahwa apa yang diberikan kepada mereka berasal dari hasil yang benar.
Sebab, bagi Mil, kebahagiaan keluarga tak lagi diukur dari seberapa banyak uang yang bisa dibawa pulang. Ada ketenangan yang lebih berharga ketika ia bisa duduk bersama istri dan anak tanpa dihantui rasa takut akan tertangkap karena mencuri.
Dulu, uang menjadi alasan baginya untuk terus mengulangi kesalahan. Sekarang, anak dan istrinya menjadi alasan untuk menjauhi kesalahan tersebut.
Pernikahan tak serta-merta menghapus masa lalu Mil. Namun, kehadiran istri dan anak membuatnya memiliki alasan yang lebih kuat untuk menata masa depan. Ia pun berusaha menjalani hari demi hari dengan cara yang berbeda, sembari belajar bahwa kehidupan yang baik tak harus dibangun dengan uang yang banyak, melainkan dengan usaha, kejujuran, dan tanggung jawab.
Bagi Mil, hidup sederhana dari hasil yang halal kini terasa jauh lebih berarti. Ia tak ingin kembali menjadi orang yang dahulu hanya mengejar uang tanpa memikirkan akibatnya. Ia ingin menjadi suami yang bertanggung jawab dan ayah yang bisa memberikan contoh baik kepada anaknya.
Masa lalu memang tak bisa diubah. Tetapi, langkah hari ini masih bisa menentukan seperti apa kehidupan esok hari. Dan bagi Mil, pilihan itu kini jelas, meninggalkan pencurian, menjaga keluarganya, serta terus berjuang mencari rezeki yang halal, meski hasilnya belum seberapa. (zen/fun)
Editor : Fandi Armanto