“SAYA tak pernah berniat menjadi orang ketiga. Saya tidak pernah membayangkan hidup saya akan sampai di titik ini,” begitu pengakuan Sinta.
Kalimat itu menjadi pembuka cerita Sinta, perempuan berusia 44 tahun yang meminta identitasnya disamarkan. Selama bertahun-tahun ia dikenal sebagai perempuan mandiri. Bekerja, mengurus keluarga, dan menjalani hidup seperti kebanyakan orang.
Namun, sebuah pertemuan yang awalnya terasa biasa perlahan mengubah arah hidupnya. Itu setelah dia mengenal seorang pria di lingkungan pekerjaannya.
Awalnya hanya sebatas teman berbincang. Mereka sering bertukar cerita tentang pekerjaan, keluarga, dan kehidupan sehari-hari. Tidak ada niat apa pun selain menjalin pertemanan.
"Dia pendengar yang baik. Waktu itu saya sedang banyak masalah. Saya hanya butuh seseorang untuk diajak bicara," tuturnya.
Percakapan yang semula hanya sesekali berubah menjadi rutinitas. Pesan singkat setiap pagi. Telepon saat malam. Hingga akhirnya muncul rasa saling bergantung.
Saat itu Sinta baru mengetahui bahwa pria tersebut sebenarnya sudah beristri.
"Saya sempat ingin mundur. Tapi dia selalu bilang rumah tangganya sudah lama tidak harmonis. Katanya mereka hanya bertahan demi anak-anak." ujarnya.
Ucapan itu membuat Sinta bimbang. Di satu sisi ia tahu hubungan tersebut salah. Namun di sisi lain ia merasa menemukan seseorang yang memahami dirinya.
Berbulan-bulan hubungan itu berjalan diam-diam. Mereka bertemu di luar kota, makan bersama, bahkan merayakan ulang tahun secara sederhana tanpa diketahui siapa pun.
"Setiap bertemu saya bahagia. Tapi setelah pulang, rasa bersalah itu datang. Saya tahu ada perempuan lain yang mungkin sedang menunggu suaminya pulang," kata Sinta.
Menurut Sinta, menjalani hubungan rahasia jauh dari kata romantis seperti yang sering digambarkan dalam film. Yang ada justru rasa takut.
Takut ada yang melihat. Takut ponsel berbunyi pada waktu yang salah. Takut keluarga mengetahui semuanya. "Kami tidak pernah benar-benar tenang. Bahkan saat sedang makan bersama, kalau istrinya menelepon dia langsung berubah panik," jelasnya.
Hubungan itu berlangsung hampir dua tahun. Selama itu pula Sinta terus berharap akan ada kejelasan."Dia selalu bilang sabar. Katanya suatu saat akan menyelesaikan semuanya," ujarnya.
Namun waktu terus berjalan tanpa kepastian. Sinta mulai menyadari bahwa janji demi janji tidak pernah benar-benar diwujudkan. Setiap kali ia menanyakan masa depan hubungan mereka, jawabannya selalu sama.
“Tunggu ya, belum waktunya,” kalimat itu terus diulang hingga akhirnya Sinta lelah. Puncaknya terjadi ketika tanpa sengaja ia melihat foto keluarga pria tersebut di media sosial. Mereka tampak tersenyum bahagia saat liburan bersama.
"Saat itu saya sadar, mungkin yang selama ini saya dengar hanyalah sebagian cerita. Bisa jadi rumah tangga mereka memang tidak seburuk yang dia ceritakan,” katanya.
Malam itu juga Sinta memutuskan mengakhiri hubungan tersebut. Ia menghapus nomor telepon, memblokir akun media sosial, dan berusaha memulai hidup baru.
"Tidak mudah. Berkali-kali saya ingin menghubunginya lagi. Tapi saya sadar, semakin lama saya bertahan, semakin banyak orang yang akan terluka,” ujarnya.
Kini, beberapa tahun setelah semuanya berlalu, Sinta mengaku tidak bangga dengan kisah tersebut. "Saya tidak ingin membenarkan perselingkuhan. Saya justru ingin orang lain belajar dari kesalahan saya,” ujarnya.
Menurutnya, perselingkuhan sering kali dimulai bukan karena cinta yang besar. Melainkan karena kebutuhan untuk didengar, diperhatikan, dan dihargai. Ketika kebutuhan itu dipenuhi oleh orang yang salah, batas-batas perlahan menjadi kabur.
"Kalau ada yang bertanya apakah perselingkuhan itu indah, jawaban saya tidak. Yang ada hanya kebahagiaan sesaat yang dibayar dengan rasa bersalah, kebohongan, dan penyesalan panjang,” ujarnya.
Sinta berharap siapapun yang sedang berada dalam situasi serupa, berani mengambil keputusan sebelum hubungan itu semakin jauh.
"Jangan percaya bahwa kita bisa membangun kebahagiaan dari kebohongan. Cepat atau lambat, semuanya akan menyisakan luka. Bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk pasangan, anak-anak, dan keluarga yang tidak tahu apa-apa,” jelasnya.
Di akhir perbincangan, Sinta terdiam cukup lama sebelum mengucapkan satu kalimat yang paling ia sesali. "Andai waktu bisa diputar kembali, saya akan memilih pergi sejak pertama kali tahu dia masih memiliki istri. Mungkin saya akan kehilangan seseorang yang saya sayangi, tetapi saya tidak akan kehilangan ketenangan hati saya sendiri,” ujarnya. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid