Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menunggu Cinta dari Dunia Virtual

Agus Faiz Musleh • Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:29 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

 

Selama sepuluh tahun terakhir, hidup Rania (bukan nama sebenarnya,red) 32, warga Probolinggo, dipenuhi oleh sebuah penantian yang mungkin sulit dipahami banyak orang. Bukan karena hubungan jarak jauh yang pernah bertemu, bukan pula karena pasangan yang bekerja di negeri seberang. 

RANIA memilih menunggu seorang pria yang dikenalnya melalui sebuah permainan daring. Mereka belum pernah bertatap muka, belum pernah berjabat tangan, bahkan belum pernah menghabiskan waktu bersama di dunia nyata.

Perkenalan mereka bermula pada tahun 2016 ketika keduanya bermain sebuah game online yang sama. Awalnya mereka hanya saling membantu menyelesaikan misi dan berbincang mengenai strategi permainan.

Lambat laun, obrolan mereka berkembang menjadi percakapan tentang kehidupan sehari-hari, keluarga, impian, hingga harapan di masa depan.

"Awalnya saya menganggap dia hanya teman bermain. Tapi semakin sering kami berbicara, saya merasa dia orang yang sangat perhatian. Dia selalu ada saat saya sedang sedih atau kehilangan semangat," ujar Rania saat ditemui di kediamannya.

Meski hubungan mereka semakin dekat, keduanya tidak pernah benar-benar merencanakan pertemuan. Berbagai kendala, mulai dari kesibukan pekerjaan, kondisi ekonomi, hingga situasi yang berubah dari waktu ke waktu membuat rencana itu selalu tertunda.

Namun, bagi Rania, semua itu bukan alasan untuk mengakhiri hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. "Saya percaya seseorang bukan hanya dinilai dari seberapa sering bertemu. Kadang hati bisa mengenal seseorang lewat cara dia memperlakukan kita setiap hari," katanya sambil tersenyum tipis.

Selama satu dekade, Rania mengaku tidak pernah membuka hatinya untuk pria lain. Beberapa kali keluarga memperkenalkannya kepada calon pasangan, tetapi semuanya ia tolak secara halus.

"Banyak yang bilang saya membuang waktu. Ada juga yang mengatakan saya terlalu percaya pada hubungan di dunia maya. Saya tidak marah mendengarnya, karena memang dari luar terlihat seperti itu," tuturnya.

Menurut Rania, keputusan untuk tetap melajang bukan karena tidak memiliki kesempatan menikah. Ia hanya merasa belum bisa mengabaikan perasaannya kepada pria yang selama ini selalu hadir melalui layar ponsel dan komputer.

"Kalau memang akhirnya kami tidak berjodoh, saya ingin tahu itu dari kenyataan, bukan karena saya menyerah lebih dulu," ucapnya.

Komunikasi mereka hingga kini masih berlangsung. Meski tidak sesering dulu karena kesibukan masing-masing, keduanya tetap saling memberi kabar dan sesekali bermain game bersama saat memiliki waktu luang.

Rania mengaku tidak pernah memaksa pria tersebut untuk segera datang menemuinya atau memberikan kepastian mengenai masa depan hubungan mereka.

"Saya tidak ingin cinta berubah menjadi tuntutan. Kalau suatu hari dia datang, saya akan bersyukur. Kalau ternyata tidak, saya juga harus belajar menerima kenyataan," katanya.

Di sisi lain, keluarga Rania sempat merasa khawatir melihat putrinya terus menunggu seseorang yang belum pernah ditemui secara langsung.

"Ibu sering bertanya, 'Kamu yakin dia benar-benar ada?' Saya hanya menjawab bahwa selama ini dia selalu menghormati saya, tidak pernah meminta hal-hal yang aneh, dan selalu memperlakukan saya dengan baik," ujarnya.

Meski demikian, Rania mengakui bahwa hubungan yang dibangun di dunia virtual memiliki banyak risiko. Karena itu, ia selalu berhati-hati dan tidak pernah memberikan informasi pribadi secara berlebihan maupun mengirimkan uang kepada pria tersebut.

"Saya tetap memakai logika. Percaya itu penting, tetapi menjaga diri juga tidak kalah penting," katanya.

Bagi Rania, sepuluh tahun bukan sekadar angka. Waktu itu menjadi saksi bagaimana dua orang yang dipisahkan jarak tetap berusaha mempertahankan komunikasi, meski belum pernah bertemu secara langsung.

"Saya sering ditanya, apakah saya menyesal? Jawabannya tidak. Karena selama sepuluh tahun ini saya belajar tentang kesabaran, kepercayaan, dan menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana," ungkapnya.

"Semua orang berhak memiliki pendapat. Saya tidak meminta siapapun mengikuti jalan hidup saya. Ini adalah pilihan yang saya ambil dengan sadar," katanya.

Kini, setelah sepuluh tahun berlalu, Rania masih menyimpan harapan sederhana: suatu hari nanti ia bisa bertemu dengan pria yang selama ini hanya dikenalnya melalui suara dan pesan singkat di dalam permainan daring.

"Saya tidak meminta akhir cerita yang sempurna. Saya hanya ingin ada kesempatan untuk bertemu, melihat wajahnya secara langsung, lalu mengetahui apakah perjalanan panjang ini memang memiliki tujuan. Jika ternyata kami berjodoh, saya akan sangat bersyukur. Jika tidak, setidaknya saya sudah menutup penantian ini dengan sebuah jawaban, bukan dengan tanda tanya," tutup Rania. (mu/fun)

 

Editor : Abdul Wahid
#games #cinta #virtual