PERJALANAN cinta memang sering datang dari arah yang tidak disangka. Ada yang bertemu lewat bangku sekolah, dikenalkan keluarga, atau berawal dari media sosial.
Namun bagi Holis (nama samara), 47, warga Kabupaten Probolinggo, kisah cintanya tumbuh sederhana. Semuanya bermula dari rutinitas membeli dagangan seorang perempuan di tanah rantau.
Tak ada bunga, tak ada janji mewah. Hanya obrolan kecil di sela-sela pekerjaan sebagai kuli bangunan di Tasikmalaya, Jawa Barat. Namun dari situ, hidupnya berubah selamanya.
Holis mengaku merantau sejak usia muda. Saat itu kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus meninggalkan kampung halaman demi mencari pekerjaan. Tasikmalaya menjadi tujuan hidupnya. “Dulu berangkat sendiri. Modal nekat saja. Yang penting bisa kerja dan makan,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Di tanah Sunda itulah Holis menghabiskan masa mudanya. Tubuhnya masih tegap dan kuat. Kulit legam karena panas matahari menjadi saksi kerasnya pekerjaan sebagai buruh bangunan.
Meski mengaku tidak terlalu tampan, Holis dikenal mudah bergaul. Ia termasuk sosok yang tidak mudah marah dan senang membantu orang lain. Karakter itulah yang ternyata membuat banyak orang nyaman dengannya.
“Kalau ada teman kesusahan, saya bantu semampunya. Saya memang tidak punya uang banyak tapi paling tidak bisa bantu tenaga,” katanya.
Hari-hari Holis dipenuhi semen, pasir, batu bata, dan debu proyek bangunan. Sampai suatu ketika, ia mendapat pekerjaan di dekat tempat seorang perempuan berjualan makanan.
Awalnya sederhana. Holis sering membeli dagangan perempuan itu karena murah dan rasanya cocok di lidahnya. Dari sekadar pembeli dan penjual, keduanya mulai saling mengenal. “Sering beli, terus ngobrol. Lama-lama akrab sendiri,” kenangnya.
Perempuan itu ternyata lebih tua darinya. Namun bagi Holis, usia bukan masalah besar. Ia justru merasa nyaman karena perempuan tersebut perhatian dan sabar menghadapi kehidupannya yang serba sederhana.
Hubungan mereka berjalan pelan. Tidak buru-buru. Bertahun-tahun hanya saling mengenal dan berbagi cerita kehidupan. Holis mengaku jatuh hati bukan karena paras wajah semata. Tetapi karena ketulusan perempuan itu menerima dirinya apa adanya.
“Dia orangnya baik. Saya ini cuma kuli bangunan, tapi dia tidak pernah meremehkan,” ujarnya.
Seiring waktu, cinta itu tumbuh semakin dalam. Holis yang saat itu masih bujang, akhirnya memberanikan diri melamar perempuan pujaannya. “Waktu itu saya pikir, kalau bukan sekarang, kapan lagi,” katanya sambil tertawa kecil.
Meski sempat ada keraguan karena perbedaan usia, pernikahan akhirnya tetap berlangsung sederhana namun penuh kebahagiaan. Kehidupan rumah tangga mereka dimulai di Tasikmalaya. Tidak mewah tetapi hangat.
Setelah menikah, pasangan ini dikaruniai seorang anak laki-laki. Holis bekerja keras demi keluarga kecilnya. Ia tetap menjadi kuli bangunan dan menerima pekerjaan apa saja agar dapur tetap mengepul.
Namun ketika anak pertama mereka berusia sekitar lima tahun, Holis memutuskan pulang ke Probolinggo. Ada kerinduan yang begitu besar terhadap kampung halaman dan keluarganya di Jawa Timur.
Keputusan itu menjadi awal perubahan besar dalam hidup mereka. Istri dan anak Holis yang sejak lahir tinggal di tanah Sunda, harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Saat pertama datang ke Probolinggo, mereka hanya bisa berbicara bahasa Sunda.
Rencananya, kepulangan itu hanya sementara. Holis ingin mengumpulkan uang sebelum kembali lagi ke Jawa Barat.
Tetapi kenyataan hidup tidak semudah rencana. Uang yang dimiliki perlahan habis untuk kebutuhan sehari-hari. Biaya hidup, kebutuhan anak, dan berbagai keperluan rumah tangga membuat tabungan mereka tidak pernah cukup untuk kembali merantau. “Setiap mau nabung selalu kepakai lagi,” katanya.
Akhirnya mereka memilih bertahan di rumah sederhana milik Holis di Probolinggo.
Hari demi hari berlalu. Tahun demi tahun berjalan. Tanpa terasa, keluarga kecil itu sudah menetap selama satu dekade.
Selama itulah sang istri mulai benar-benar beradaptasi dengan lingkungan Madura. Istrinya yang awalnya hanya memahami bahasa Sunda, perlahan belajar bahasa sehari-hari warga sekitar. Mulai dari bahasa Jawa hingga logat Madura khas pesisir.
Kini, menurut Holis, istrinya bahkan sudah sangat fasih berbicara seperti warga lokal. “Sekarang malah kadang ngomong Madura terus,” ujarnya sambil tertawa lepas.
Tak hanya bahasa yang berubah. Kebiasaan dan cara hidup sang istri juga mulai menyatu dengan lingkungan sekitar.
Meski demikian, satu hal yang tidak pernah hilang adalah resep khas makanan Jawa Barat.
Kini Holis berjualan keliling pisang bolen Bandung menggunakan resep keluarga sang istri. Dari usaha kecil itulah mereka bertahan hidup hingga sekarang.
Pisang bolen buatannya cukup dikenal di beberapa kawasan. Rasanya yang legit dan aroma khas mentega membuat pelanggan tetap terus berdatangan.
Bagi Holis, usaha itu bukan sekadar mencari uang. Tetapi juga menjadi pengingat perjalanan cintanya di tanah Sunda puluhan tahun silam.
Pasangan ini sudah dikaruniai dua anak. Anak pertama laki-laki berusia 26 tahun dan kini bekerja merantau di Malang. Sedangkan anak kedua perempuan berusia 19 tahun.
Meski kehidupan mereka tidak bergelimang harta, Holis mengaku bersyukur.
“Yang penting keluarga sehat dan rukun,” tuturnya.
Baginya, cinta bukan soal kemewahan atau kehidupan serbamudah. Tetapi tentang bertahan bersama dalam keadaan sesulit apa pun. Dan setelah puluhan tahun menikah, perempuan Sunda yang dulu ditemuinya di tanah rantau itu kini telah menjadi bagian utuh dari kehidupan Madura di Probolinggo. (zen/fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni