Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Tabungan Terkuras saat World Cup karena Kecanduan Bertaruh

Fuad Alyzen • Sabtu, 6 Juni 2026 | 10:10 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

 

HAMPIR tiap kali momen World Cup atau Piala Dunia, Amrul (nama samaran), 40, selalu punya kenangan. Pria asal Kota Pasuruan yang kini membuka usaha wiraswasta ini pernah kecanduan judi.

Terlebih judi bola di momen pesta olahraga sepak bola seperti World Cup. Dia pernah menang hingga jadi miliarder bahkan nyaris miskin dan gagal menikah.

Sejak masih kecil, Amrul memang gemar akan sepak bola. Sejak masih duduk di bangku SD, Amrul pernah menimba ilmu untuk menjadi pemain bola. Meski tak pernah menjadi pemain hebat, Amrul pernah menjadi bagian dari sebuah tim terkenal di Pasuruan.

Tapi karena terpengaruh lingkungan, Amrul tak dilirik klub profesional. Karirnya mandek karena dia sudah menjadi perokok sejak masuk bangku SMA.

“Semenjak menjadi perokok, napas saya sering Senin-Kamis dan tersisih dari tim,” kata pria yang kini sudah memiliki tiga anak tersebut.

Walau begitu, Amrul tak pernah jauh dari dunia sepak bola. Hampir semua liga di Eropa, dia tonton. Apalagi saat orang tuanya masih berjaya, Amrul selalu berlangganan TV kabel yang boleh dibilang hanya dinikmati segelintir orang kala itu.

 “Bukan hanya Seria A Italia, Premier League punya Inggris, Bundes Liga punya Jerman, atau La Liga-nya Spanyol. Liga dari Skotlandia hingga liga-liga di Asia macam Jepang dan Arab saya tonton sejak masih SMP. Kebiasaan ini membuat saya sering terlambat berangkat ke sekolah karena laga-laga pertandingan rata-rata digelar dini hari,” kata Amrul mengenang.

Pun begitu dengan World Cup. Pesta olahraga sepak bola empat tahunan itu, tak pernah luput dia saksikan. Baginya, World Cup adalah momen yang tak boleh dilewati oleh maniak bola seperti dirinya. Melewati satu pertandingan saja meski itu negara kecil, Amrul selalu merasa akan kehilangan momen.

Saat itu, internet belum merambah Indonesia. Tapi karena sering berkumpul dengan kawan-kawan pamannya, Amrul mulai salah pergaulan. Sebab kawan-kawan pamannya kerap menjadikan World Cup sebagai ajang untuk bertaruh.

 “Mulanya hanya ikut kumpul-kumpul. Tiap kali Piala Dunia, biasanya kawan Om-Om saya sudah punya jago masing-masing. Saya masih ingat, saat itu diajak untuk bertaruh tebak juara. Kami punya jago lalu pasang taruhan. Yang tebakannya benar bisa membawa seluruh uang,” kata Amrul.

Dia masih ingat saat itu tahun 1994. Di tahun itu Amrul masih duduk di bangku kelas 2 SD. Amrul pun menjagokan Brasil sebagai juaranya. Tak disangka, Romario cs berhasil memenangkan turnamen setelah mengalahkan Italia dalam drama adu penalti.

Amsul masih ingat, saat itu uang taruhan dari yang awalnya Rp 5 ribu, terkumpul menjadi Rp 50 ribu karena ada 10 orang yang ikut. “Uang Rp 5 ribu itu adalah uang pemberian paman dan bulek saat Lebaran. Karena menang taruhan dari Brasil, saya akhirnya bisa membeli konsol game Nintendo,” kata Amrul.

Dari situlah bibit-bibit Amrul menggemari taruhan mulai muncul. Dari taruhan teman-teman pamannya di lingkungan rumah, dia bawa ke lingkungan sekolah. Mengajak kawan-kawan sekolahnya. Amrul mengaku, saat masih SD dia sudah beberapa kali menang.

Hingga saat SMP dan internet telah tersedia, Amrul rupanya “naik kelas”. Dia mulai mengenal situs judi.

“Walaupun dulu mau membuka situs harus mengoneksikan komputer ke telepon rumah atau ke warung internet dulu, itu saya lakoni. Saat masih SMP, saya sudah paham bagaimana caranya menaruh deposit,” katanya.

Deposit tentu tak jadi soal bagi Amrul. Sebab sejak masih SMP, dia sudah memiliki rekening bank. Selama itu pula, Amrul sudah pernah merasakan kalah maupun menang. Namanya bertaruh, Amrul pernah merasakan menang dari bandar hingga ratusan juta rupiah. “Saya pernah menang mulai ratusan ribu hingga ratusan juta. Bertaruh tebak juara. Tapi saya juga pernah kalah nyaris setengah miliar,” kata Amrul.

Gara-gara kekalahan hampir setengah miliar rupiah, Amrul bahkan hampir pernah menjadi gila.

“Bayangkan saja. Itu adalah uang hasil menabung yang ada di rekening. Uang itu pula yang sebenarnya saya siapkan untuk menikah dengan calon istri waktu itu,” kata Amrul.

Pria yang kini sudah memiliki tiga anak itu mengingat. Saat itu Brasil menjadi tuan rumah World Cup 2014. Usia Amrul saat itu 28 tahun dan dia sudah dalam posisi bertunangan dengan pacarnya. Bahkan dia sudah merancang bagaimana pesta pernikahan hingga rencana honeymoon ke Korea Selatan, sesuai impiannya dengan pasangannya.

Pernikahannya sudah ditetapkan akhir Juli. Amrul ingat, sebelum menikah, di rekening miliknya dia masih memiliki uang sekitar Rp 700 juta. “Itu rekening gaji sekaligus yang sering saya pakai untuk deposit. Jadi memang uang halal dan haram ada di rekening itu. Ha…ha…ha…,” katanya.

Sebelum Piala Dunia dimulai, Amrul sudah memasang banyak taruhan. Mulai memasang tuan rumah menjadi juara hingga pecahan-pecahan kecil di tiap pertandingan. Hingga saat piala dunia dimulai, Amrul beberapa kali menang dan kalah.

“Tetapi lebih banyak kalah ketimbang menang. Ini yang membuat saya panas,” beber Amrul.

Hingga Amrul benar-benar kehilangan akal sehatnya. Saat di tengah turnamen, dia mencatat sudah kalah hingga Rp 200 juta. Kontan saja Amrul geram. Dan di sinilah setan terus menggodanya.

Amrul lalu nekat bertaruh lebih besar. “Saat itu sudah semifinal dan karena saya kalah sudah banyak, maka saya harus cari cara agar uang di rekening kembali. Minimal sama,” katanya.

Singkatnya, Amrul benar-benar nekat bertaruh memasang 20 ribu dollar Amerika atau jika dirupiahkan saat itu nilainya sekitar Rp 430 juta. Dia nekat memasang besar karena yakin Brasil akan menang besar.

“Saya percaya tuan rumah (Brasil, red) pasti menang atas Jerman. Di luar prediksi, Brasil ditekuk 1-7!” katanya.

Praktis saat peluit panjang berbunyi, duit di deposit miliknya amblas. Amrul menangis. “Saya tak bisa berpikir jernih. Bahkan hampir melupakan rencana pernikahan yang hampir dua pekan,” kata Amrul.

Kalau saja ibunya tak memberi wejangan, Amrul mungkin sudah gila. Untungnya dia curhat ke sang ibu yang tentu saja kaget bukan kepalang.

“Saya sempat cerita ke ibu dan minta pernikahan dibatalkan. Karena saya malu. Uang sudah habis dan pasti tak jadi honeymoon sesuai impian saya dan istri,” kata Amrul.

Sang ibu yang syok tak ingin Amrul batal menikah. Ibunya  tetap menyuruhnya menikah. Soal honeymoon, ibunya mencarikan solusi. “Ibu menyuruh saya agar mengganti Korea Selatan untuk pergi umrah. Ini saya turuti dan ternyata ini pula yang membuat saya tak ternah lagi menyentuh judi bola,” beber Amrul.

Semenjak itulah Amrul berubah. Dia tobat dan tak pernah lagi membuka deposit dalam bentuk apapun. “Rekening gaji juga saya perbarui ke perbankan syariah. Dan istri tak pernah tahu bahwa saya pernah salah arah karena judi,” beber Amrul. (zen/fun)

 

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#Corl Cup #piala dunia #Taruhan