Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Seorang Ayah yang Jarang Nafkahi Ibu Dibalas ke Anak

Fuad Alyzen • Jumat, 3 April 2026 | 19:15 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

 

Nasib hidup seseorang tergantung amal dan perbuatannya. Karena semua perbuatan akan mendapat balasannya. Ketika seseorang mendustai tanggungjawab, kelak akan mendapat pengalaman yang sama. Entah itu pada diri sendiri atau ke anak turunannya.

INILAH yang dialami Joy (bukan nama sebenarnya), 62. Pengalaman masa lalunya bak dejavu karena terulang di kehidupan anaknya. Dulu Joy jarang menafkahi istri. Sekarang anaknya menikah bersama pria yang malas bekerja dan kehidupannya begitu miskin.

Joy memiliki seorang istri dan merupakan istri yang kedua. Dari istri kedua, Joy satu keturunan yang masih berusia 5 tahun. Sedangkan dari istri pertama, Joy memiliki tiga anak perempuan, namun satu diantarannya meninggal dunia.

Joy merupakan keturunan orang yang rajin bekerja. Pria asal Kabupaten Pasuruan ini diwarisi tanah yang begitu lebar.

Joy sendiri juga rajin bekerja. Seharinya, Joy bekerja menjadi sopir angkut barang yang jarang sekali pulang ke rumah.

Namun walaupun bekerja, dia sangat pelit. Kondisi yang sama saat dia menjalani kehidupan dengan istri pertamanya dulu.

Padahal saat itu Joy dan istrinya memiliki anak yang menempuh pendidikan yang jelas memerlukan duit.

Namun Joy seolah tidak peduli dengan itu semua. Dia hanya sekenanya menafkahi istrinya. Itupun tidak rutin. Kadang mingguan dan lebih sering bulanan. Kondisi itu membuat dia dan istri pertamanya sering bertengkar.

Herannya, Joy yang mendapat tanah warisan dari orang tua Joy, dijual satu per satu. Warisannya hanya hanya menyisakan tanah selebar 7x6 meter, yang kini dibangun rumah oleh Joy.

“Ini tanah berhektar-hektar yang terbangun rumah. Dulu milik suami,” kata istri kedua Joy, sebut saja Mina (bukan nama sebenarnya), 50, sembari menunjukkan lahan yang dahulu pernah dimiliki Joy.

Mina melanjutkan, alasan itulah yang membuat Joy digugat oleh istri pertamanya. Uang dari hasil jual tanah itu memang diberikan sebagian ke istri pertamanya. Tapi tak sedikit uang itu dibelikan perhiasan pribadi dan untuk foya-foya.

Setelah berpisah itu kedua anak perempuan ikut bersama Joy.  Mereka tinggal di sebuah rumah baru dari hasil penjualan tanah.

Hingga akhirnya Joy pun menikah lagi, dengan Mina. Saat itu Minta masih ingat, Joy pernah mengajaknya tinggal bersama kedua anaknya. Mina mengiyakan dengan syarat ketiga anaknya juga ikut tinggal di sana.

Setengah tahun menikah, Mina mulai merasakan jarang dinafkahi Joy. Setiap pulang biasanya berjarak dua sampai tiga hari berada di rumah.

Mina mengira, tiap kali Joy pulang, dia akan diberikan nafkah untuk kebutuhan makan anak-anaknya. Tapi ternyata tidak. Di rumah, Joy hanya memuaskan kebutuhan biologi. Setelah itu berangkat bekerja kembali.

Polemik bersama anak sambung pun terasa. Anak Mina dikasih uang karena dia bersekolah. Sedangkan anak Joy tidak. Padahal uang itu hasil susah payah Mina berjualan keliling. Celakanya, anak Joy mengira uang itu dari ayahnya.

Karena konflik, anak kedua Joy sampai meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan ibu sambungnya. “Sampai sekarang tidak kembali. Katanya ada di suatu tampat bekerja. Sudah lima tahunan,” katanya.

Apa yang terjadi setelahnya, Joy malah memarahi Mina. Karena menduga sengaja membiarkan anaknya pergi. Anak Mina pun diusir oleh Joy. 

Mendapati itu Mina ikut pergi dari rumah itu. Dia lalu memilih mengontrak di rumah sederhana yang jauh dari rumah Joy.

Beberapa bulan kemudian Joy memilih untuk menjemput Mina dan tetap melanjutkan tumah tangga bersama. Setelah itu anak Joy yang pertama menikah. Namun Joy enggan menyetujuinya. Karena Joy mengenali pria calon mantunya seorang pemarah dan pelit serta malas bekerja.

Tetapi yang namanya cinta, rintangan apapun tentu harus dihadapi. Akhirnya anak Joy menikah. Setelah pernikahan itu benar dugaan si Joy, anaknya sering minta uang untuk membeli beras pada Mina. “Sering makan di sini. Saya tidak berani menayakan itu,” ujar Mina.

Bahkan baju pakaiannya itu-itu saja. Sampai memiliki dua anak kondisinya sama. Joy setiap pulang dari bekerja selalu marah. Karena ternyata suami anaknya tidak bekerja. Hanya di rumah saja. Bahkan pertengkaran anaknya selalu didengar banyak orang atau tetangga.

Mina kerap sedih di momen Lebaran. Anak Joy bersama keluarga selalu terlihat paling kumuh karena tidak selalu dibelikan baju. Anaknya yang belum tamat kelas dua SD sudah diberhentikan karena tidak memiliki ekonomuni.

Sampai kini kondisi itu sama. Joy rupanya enggan memberikan apapun pada anaknya maupun mantunya.

Mina berkata, Joy tidak mau pernah menyadarinya. Padahal Joy tahu, anaknya menderita karena ekonomi dan ini karma dari perbuatannya yang dari dulu tanpa dia sadari tidak pernah memberi nafkah pada istri.  (zen/fun)

 

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#Suami Tak Tanggung Jawab #Kikir #Meditasi #pelit