MENIKAH dan membina rumah tangga yang harmonis tentu menjadi impian bagi setiap pria yang telah mampu.
Namun tidak bagi Boris (bukan nama sebenarnya), 45, warga Kecamatan Maron. Dirinya lebih memilih membujang lantaran ibunya sudah sepuh dan sering sakit.
Sore itu selepas pulang kerja, pria paro baya terlihat duduk santai di kursi bambu di teras rumahnya.
Secangkir kopi hangat menemaninya saat gerimis hujan kala itu. Sesekali pria ini beranjak dari kursinya lalu mengecek burung cendet yang ditempatkan dalam kandang kecil menggantung di depannya. Itulah aktivitas yang dilakukan Boris saat senggang.
Boris merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Memiliki dua adik perempuan yang saat ini sudah tidak lagi serumah dengannya.
Setelah menikah mereka ikut suaminya. Di rumah tersebut hanya tinggal Boris bersama dengan ibunya yang saat ini usianya sudah 70 tahun lebih.
“Adik-adik semua ikut suaminya, saya hanya tinggal bersama ibu,” katanya sambil menyeruput kopi.
Sekilas kehidupan Boris terlihat sama seperti pria sepantarannya. Namun di balik itu semua, dia kerap merasa kesepian.
Bukan karena rumahnya yang hanya diisi oleh dirinya dan sang ibu. Melainkan karena dirinya hingga kini memutuskan belum menikah.
Keputusan ini diambilnya bukan tanpa alasan. Sebab dirinya merasa kasihan kepada ibunya yang sudah sepuh. Ditinggal dua anak lainnya yang sudah menikah.
Perjalanan hidupnya ini dimulai ketika Boris masih berusia 27 tahun. Adik pertamanya Ani (juga bukan nama sebenarnya) setelah menuntaskan mondoknya memutuskan untuk menikah dengan pria pujaan hatinya. Sementara saat itu usia adiknya sudah cukup untuk melangsungkan pernikahan.
Walaupun pernikahan dilakukan melangkahi sang kakak, keluarga tetap menyambut bahagia. Bahkan pernikahan itu dilaksanakan secara meriah.
“Dulu saya memang tidak terburu-buru menikah. Sebab masih ada adik-adik, sementara bapak hanya bekerja sebagai pedagang dan ibu tidak bekerja. Jadi saya berusaha membantu biaya pendidikan adik-adik,” ucapnya.
Tak lama kemudian sekitar 3 tahun setelahnya, adik keduanya sebut saja namanya Wardah juga dipersunting oleh pria.
Sama seperti mbaknya, dia menikah dengan pria pujaan hatinya setelah menuntaskan pondoknya. Lagi-lagi pernikahan ini dilangsungkan secara meriah. Sebab pernikahan merupakan acara sakral yang dilakukan sekali seumur hidup.
Kini tinggallah Boris, si anak sulung yang belum menikah. Tak heran kedua orang tuanya mendesak agar dirinya segera menikah. Sebab usianya sudah cukup dan kedua adik perempuannya sudah berumah tangga.
Bahkan saking inginnya kedua orang tuanya Boris menikah, beberapa kali Boris di-comblangin dengan perempuan. Tetapi selalu tidak cocok.
“Setelah adik-adik menikah, saya diminta cepat nikah. Dijodohkan juga pernah, bukan menolak hanya saja belum ada yang cocok,” tuturnya.
Di tengah pencarian pasangan hidup, rupanya tuhan berkata lain bapak tercinta Boris yang getol menyuruhnya segera menikah meninggal dunia. Seketika itu duka yang mendalam menyelimuti hati Boris.
Dalam hatinya timbul perasaan menyesal tidak segera menikah dengan perempuan yang pernah dikenalkan padanya. Dalam duka tersebut, Boris menatap wajah ibunya. Lalu terketuk hatinya, ibu yang sebelumnya memiliki pendamping, kini sudah tidak ada lagi.
Sepeninggal bapaknya, ibu Boris sering melamun. Rumah yang sebelumnya dihuni oleh 3 orang yakni Boris, ibu dan bapak, berubah hanya dihuni berdua. Ibunya terlihat kerap melamun nampak jelas rasa kehilangannya.
Beberapa kali Boris mengingatkan dan meminta ibunya agar tidak terlalu kepikiran. Sebab hal itu akan mengganggu pikirannya.
“Sepeninggal bapak, ibu selalu kepikiran. Jadi saya khawatir dengan kesehatannya,” bebernya.
Rasa kehilangan tersebut kemudian membuat ibu Boris kemudian sakit. Beberapa kali berobat rupanya sakit dikarenakan sering kepikiran. Lalu membuat kesehatan si ibu terganggu.
Dokter sudah memberi beberapa resep obat untuk menyembuhkan sakitnya. Dokter meminta Boris untuk mengajak rekreasi ibunya, untuk menyegarkan kembali pikirannya.
Sayangnya perasaan tersebut hilang seketika saja. Tetapi saat kembali ke rumah, sang ibu tetap terkenang almarhum bapaknya.
Boris dan dua adiknya bahkan berniat untuk menjual rumahnya agar ibunya sembuh tidak kepikiran terus-menerus yang mengganggu kesehatannya.
Tapi si ibu menolak dengan keras. Selain rumah tersebut merupakan warisan dari neneknya, tempat berteduh itu tersimpan banyak kenangan dan menjadi sejarah perjalanan hidup orang tuanya.
“Kami berencana menjual rumah tapi ibu tidak setuju. Akhirnya kami bersepakat tidak menjualnya, tetapi ibu harus sehat tidak terlalu kepikiran,” terangnya.
Di tengah sakit ibunya tersebut, niatan Boris untuk menikah mulai pudar. Berganti rasa kasihan kepada ibu. Dalam benaknya tidak ada lagi yang bisa merawat ibu dengan tulus kecuali sang anak. Sehingga Boris memutuskan untuk menunda menikah.
Boris juga merasa khawatir jika menikah nanti akan mendapatkan istri yang kurang menerima kondisi sang ibu. Tak terasa keputusan tersebut sudah dilalui belasan tahun. Sementara si ibu semakin sepuh.
“Jujur untuk saat ini masih belum kepikiran untuk menikah. Masih ingin merawat ibu, sebab kondisinya memerlukan perhatian lebih,” pungkasnya. (ar/fun)
Editor : Abdul Wahid