Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Memahami Pria Aktivis

Inneke Agustin • Sabtu, 17 Januari 2026 | 10:30 WIB

 

ILUSTRASI
ILUSTRASI

BAGI Rieke (nama samaran), 30, memahami seorang aktivis bukan perkara sederhana. Rasanya seperti memecahkan teka-teki tanpa petunjuk, memeras otak, sekaligus menguji kesabaran.

Namun di sanalah hubungan terasa hidup. Aries (nama samaran)—lelaki berusia 27 tahun dengan kepala penuh filsafat membuat relasi mereka tidak pernah padam, tumbuh perlahan, diam-diam, dan semakin dalam.

Pertemuan mereka terjadi tanpa rencana romantis apa pun. Tidak ada tatapan mata yang tertahan lama, tidak pula percakapan canggung penuh bunga-bunga. Semuanya bermula dari sebuah masalah hukum.

Aries datang mendampingi sahabatnya yang kebetulan masih satu almamater dengan Rieke. Nama kampus itu menjadi jembatan pertama. Rieke ikut nimbrung, awalnya sekadar membantu, sekadar mendengar.

“Dari situ kami saling bertukar kontak. Awalnya ya murni untuk komunikasi soal kasus itu,” kata Rieke.

Saat itu, Rieke sebenarnya sudah menutup lembaran hidup sebagai mahasiswa. Ia melangkah ke fase yang lebih ruwet: membangun bisnis sendiri sambil tetap bekerja di sebuah perusahaan.

Pekerjaannya menuntutnya bersentuhan langsung dengan banyak persoalan—konflik, krisis, manusia dengan kepentingan yang saling bertabrakan. Dunia public relation membuatnya terbiasa berpikir cepat dan melihat masalah dari berbagai sudut.

Namun, justru itulah yang membuat obrolannya dengan Aries terasa hidup. Cerita-cerita dari lapangan yang Rieke alami menjadi bahan bakar diskusi mereka.

Aries menanggapi dengan bumbu wawasan dan candaan ringan yang membuat Rieke tersenyum di balik layar ponselnya. Percakapan mereka tidak pernah benar-benar kosong; selalu ada ide, selalu ada sudut pandang.

Waktu berjalan tanpa aba-aba. Rieke pun seperti kebanyakan orang, sering mengunggah story receh di WhatsApp.

Tentang hal-hal kecil—masalah sosial di lingkungannya, keresahan pekerjaan, potongan memori masa kuliah, hingga curhatan personal yang terlalu jujur untuk sekadar disimpan sendiri. Aries kerap menimpalinya.

Awalnya hanya satu dua tanggapan. Lama-lama menjadi kebiasaan. Hingga suatu hari, Rieke mengunggah sesuatu yang berbeda: kesedihan.

Hubungannya dengan sang pacar kandas, cepat dan menyakitkan. Tidak ada klimaks dramatis, hanya perpisahan yang terasa menggantung dan menyisakan sunyi. Aries membaca itu.

Ia mengira Rieke sudah memiliki kehidupan cinta yang mapan. Bahkan sempat berpikir Rieke telah bersuami.

Kenyataannya, Rieke baru saja kembali menjadi seorang perempuan sendiri. Sejak saat itu, jarak di antara mereka menyempit dengan sendirinya.

Mereka mulai berbagi lebih banyak hal. Bukan sekadar isu di luar, tapi juga isi kepala dan isi hati. Rieke mengakui tanpa bertele-tele, bahwa ia menyukai Aries.

Bukan karena rayuan, melainkan karena wawasannya. Karena caranya memandang dunia. Karena kesukaannya pada buku—meski rak bacaan mereka tak pernah benar-benar serasi.

Aries menyukai buku-buku berat. Tentang arah pemerintahan, ideologi, pemikiran Tan Malaka. Madilog adalah santapannya. Rieke sebaliknya. Ia menyukai buku yang membicarakan pertumbuhan diri, keterampilan hidup, dan uang.

“Aku selalu ingin tahu bagaimana uang bekerja. Kenapa orang kaya bisa makin kaya, dan apa yang sebenarnya mereka lakukan dalam hidupnya,” katanya sambil tertawa kecil.

Di ruang belajarnya, puluhan buku tertata rapi. Rich Dad Poor Dad, The Psychology of Money, buku-buku investasi saham. Buku-buku yang baginya praktis, mudah dipahami, bisa diterapkan, bisa mendatangkan masa depan.

Madilog? Itu cerita lain. Bahasanya terlalu implisit dan berlapis. Ini membuat Rieke menyerah sebelum benar-benar paham. Tapi justru dari sanalah muncul satu alasan lagi untuk berbincang dengan Aries.

Ia ingin suatu hari duduk, berdiskusi, dan membedah buku itu bersama. Walau entah kapan terlaksana.

Selain isi kepalanya, Aries juga membawa aura lain yang sulit diabaikan. Sebagai aktivis, ia terbiasa berbicara di depan banyak orang. Tegas, terukur, dan penuh keyakinan. Lelaki dengan pendirian, pikirnya. Sosok yang sangat Rieke sukai.

Hari demi hari, percakapan mereka menghangat. Aries mulai membuka diri, menceritakan hal-hal personal yang tak sembarang orang dengar. Namun tetap saja, Aries adalah teka-teki. Kadang ia memberi harapan lewat pujian dan perhatian. Kadang ia menjauh, membiarkan Rieke menebak-nebak perasaannya sendiri.

Tidak ada status. Tidak ada janji. Hanya percakapan yang terasa terlalu bermakna untuk disebut biasa.

“Kalau saja aku boleh berharap bisa bersama dengannya. Mungkin setiap hari akan selalu ada hal yang ingin kami obrolkan bersama,” kata Rieke.

Dan begitulah cinta itu hidup di ruang abu-abu, di antara diskusi, buku, dan pesan-pesan yang tak pernah benar-benar berani menyebut nama perasaan. (gus/fun)

Editor : Abdul Wahid
#aktivis #cinta