Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ketika Cinta Lama Bersemi Kembali Saat Sudah Punya Cucu

Fuad Alyzen • Sabtu, 15 November 2025 | 16:45 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

CINTA lama bersemi kembali (CLBK) memang banyak yang mengalami. Tetapi kisah

Karan (bukan nama sebenarnya), 62, dan Nami (juga bukan nama sebenarnya), 60, begitu unik.

Setelah masing-masing pasangannya meninggal dunia, mereka kembali bersatu dan menghalalkan hubungannya.

Sudah 13 tahun berjalan, rumah tangga Karan dan Nami terlihat harmonis walaupun belum memiliki seorang anak. Keduanya sudah memiliki anak dan cucu dari masing-masing pasangan sebelumnya.

Dahulu saat masih remaja, keduanya saling jatuh cinta. Namun mereka tidak menikah karena harus menuruti kehendak orang tua.  

Karan dan Nami saat saling suka tidak berani mengumbar pasangan seperti anak zaman sekarang. Mereka hanya sebatas komunikasi lewat pesan yang disampaikan melalui surat. Itupun dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan bertemu pun jarang.

“Jarang ketemu. Apalagi setelah saya menikah dengan istri pertama. Tambah jarang,” sampai Karan saat ditemui di ruang tamu rumahnya di Probolinggo.

Karan bercerita, awal bertemu Nami pada acara hajatan. Saat itu sekitar tahun 1970-an usianya baru belasan tahun.

Nami kala itu bersama kedua orang tuanya digandeng ke acara hajatan yang tidak jauh dari rumahnya.

Sebelumnya Karan mengaku tidak pernah tahu siapa Nami. Sebab jangkauan Nami bermain hanyalah di rumahnya saja.

Karan yang hanya satu desa dengan Nami, pada waktu yang sama berada di tempat yang sama. Karan bermain bersama teman-temannya. Hajatan tetangga merupakan hiburan anak remaja dulu.

Karan mengungkapkan, dari sekian perempuan, Nami-lah yang terlihat berbeda. Karan selalu curi-curi pandang Nami. Begitu pun juga Nami dia juga sebaliknya, walaupun kala itu Nami terlihat malu.

Beberapa hari kemudian tak sengaja Karan kembali berjumpa Nami. Karan yang berada di sawah membantu ayahnya yang posisinya di tepi jalan, Nami melintas dibonceng ayahnya mengendarai sepeda pancal.

Lagi-lagi saling curi pandang. Sejak itulah Karan meyakini Nami juga merasakan hal yang sama. Mereka rupanya saling menyukai.

“Iya saya pede saat itu. Hanya sebatas curi pandang sudah suka,” ujarnya sembari memberikan senyuman pada Nami yang duduk di sofa belakang Karan di ruang tamu tersebut.

Karan pun memberanikan diri, merencanakan mengirim surat. Sekedar rencana saja Karan sudah gemetar.

Apalagi saat menulis. Bahkan mengirim surat itu baru beberapa hari setelah sudah mengumpulkan mental.

Surat itu sengaja diantarkan sendiri ke rumah Nami. Kebetulan Nami waktu itu terlihat di jendela rumahnya dari luar rumah oleh Karan. Nami yang melihat Karan melemparkan sesuatu di dekatnya mencoba mengambil.

“Saya masih ingat itu. Saya lewat di depan rumah Nami pada sore hari. Kalau gak salah Sabtu,” ujarnya sembari tertawa bersama Nami.

Namun harapan Karan seketika itu pupus. Karena Nami tak kunjung membalasnya. Tanpa mengetahui, Nami sangat senang ketika mendapati surat dari Karan. Bahkan surat itu disimpan di bawah kasur tempat tidur Nami, dan dilihat saat hendak tidur.

Nami sebenarnya bukannya tidak mau membalas. Nami tidak memiliki akses untuk dikirimkan ke siapa surat balasan itu. Akhirnya Karan mengira Nami sudah membuang surat itu dan perkiraannya salah selama ini.

Surat balasan itu selalu dibawa Nami setiap dia pergi keluar bersama ayahnya. Berharap saat ketemu dia akan melemparkannya ke Karan.  

Benar saja dua minggu kemudian, keduanya berpapasan. Nami yang bersama ayahnya dan Karan yang sedang berjalan di jalan persawahan, terlihat memandangi Nami. Saat keduanya berpapasan, Nami menjatuhkan kertas yang sudah tidak rapi lagi, yang kemudian diambil oleh Karan. Setelah dibuka dan berupa tulisan, Karan sangat senang bukan main.

Dia tergila-gila dan ke arah sawah lalu membaca surat balasan Nami dengan bersembunyi dibalik reremputan. Sejak itu mereka saling mengirim surat cinta.

Tapi cerita bahagia itu hanya sebentar. Mendadak Nami dijodohkan oleh orang tuanya. Sampai akhirnya Nami dinikahkan oleh pria asal desa tetangga.

Informasi itu sampai ke telinga Karan. Dia yang tidak bisa berbuat apa hanya bisa menahan sakit dan menerima kenyataan.

Dia tidak lagi menulis surat. Sebab jika Karan pernah saling kirim surat dengan lawan jenis, jelas akan dimarahi orang tuanya.

“Pacaran orang dulu ya begini. Jangankan ketemu dan menyentuhnya. Mengirim surat saja gemetar,” sampai Karan.

Lima tahun kemudian Karan juga menikah bersama perempuan yang masih saudaranya. Pernikahan ini sudah direncanakan dua tahun sebelum pernikahan Karan.

Setahun kemudian Karan dikarunia anak perempuan. Sementara Nami baru memiliki seorang anak laki-laki pada tahun 1996. Disusul anak kedua pada tahun 2001 yang juga laki-laki.

Pada tahun 2004 suami Nami meninggal dunia. Pada akhirnya Nami menjanda. Dia hanya tinggal bersama kedua anaknya. Dia menjadi tulang punggung bekerja sebagai kuli tani untuk membiayai sekolah dan kehidupan anaknya.

Sampai tahun 2010, Karan yang sudah memiliki satu anak, ditinggal istrinya. Semenjak Karan menduda, dia tinggal bersama anak dan cucunya dari anak semata wayangnya tersebut.

“Saya sudah memiliki cucu dua sekarang. Yang pertama sudah kuliah. Yang kedua masih gadis. Sedang Nami tiga cucu dari anak pertama dan keduanya,” sampai Karan.

Jodoh memang tak bisa ke mana. Tahun 2014, keduanya yang sama berstatus janda dan duda, bertemu lagi, Singkat cerita, keduanya disuruh balikan sama temannya yang dulu mengetahui kisahnya. Karan yang mendengar itu mengaku langsung bernostalgia.

Namun Karan juga harus mematangkan rencananya dulu. Karena sebelumnya sudah banyak laki-laki yang melamar Nami menjadikan istrinya, namun ditolak.

Pada akhirnya Karan memberanikan diri main ke rumah Nami. Di sana Karan melamarnya. “Pertemuan itu Nami didampingi anak-anaknya,” kata Karan.

Nami menambahkan, mendapati lamaran itu, dirinya lantas meminta izin ke anak-anaknya. Semuanya langsung mengiyakan. Sebaliknya anak Karan juga menyetujuinya. Setelah sama-sama menyetujui menerima lamaran tersebut dan akhirnya menikah. Sampai kini mereka Karan dan Nami tinggal satu rumah di rumah Nami. “Anak-anak tinggal bersama pasangan masing-masing,” ujarnya. (zen/fun)

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#cinta #cinta lama bersemi kembali #clbk #cucu #lansia