Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Rumah Warisan Orangtua Terjual Akibat Hutang

Arif Mashudi • Sabtu, 15 November 2025 | 16:10 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

KEHIDUPAN keluarga pasangan suami istri Rio, 45, (nama samaran) dan Putri, 35 (juga nama samaran) awalnya bahagia. Tapi mendadak suram saat pasutri ini menggemari berhutang hingga rumah mereka bahkan harus terjual.

Pasutri istri harus merasakan derita karena kebiasaan hutang. Kebiasaan buruk itu terjadi sudah lama.

Hingga akhirnya baru tersadar, saat harus menjual pertahanan terakhir mereka. Yakni menjual rumah yang ditempati untuk menutupi hutang-hutang tersebut.

Rio sebenarnya memiliki kerjaan yang dibilang sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.

Usaha yang dimilikinya hampir tidak pernah sepi dari pelanggan yang dating untuk menggunakan jasanya.

Di awal pernikahan, rumah tangga Rio dan Putri semua tampak terlihat mulus. Namun ternyata, Rio dan Putri sama-sama memiliki kebiasaan dengan mudah hutang atau pinjam uang.

Entah itu karena kebutuhan atau akibat tuntutan gaya hidup. Putri suka pinjam uang ke saudara. Begitu juga Rio, tak jarang berhutang ke saudaranya.

Anehnya, dari hasil hutang itu, tidak diketahui jadi barang atau simpanan. Uang dari berhutang selalu habis dengan mudah begitu saja.

Beberapa kali Rio mencari peruntungan dengan bertaruh di judol. Dengan harapan bisa dapat uang kaget.

Tapi seringkali dia gagal bertaruh. Justru Rio boncos karena kalah bertaruh. Dia menjadi peliharaan bandar judol.

Begitu juga dengan Putri. Saat tahu sang suami kerap judol, Putri harus memutar otak. Duit yang diberikan Rio acapkali kurang. Sehingga dia harus berhutang pula. Mulai dari ke saudara hingga ke pinjol pula.

”Awalnya istri saya pinjam dikit-dikit. Karena saya mau ke tetangga atau saudara istri, akhirnya saya pinjam ke saudara saya untuk bayar hutang istri. Sampai akhirnya, tanpa disadari hutang saya juga besar,” katanya.

Rio bercerita, sejak awal menikah, mereka berdua tinggal di rumah sederhana di atas lahan warisan dari orang tuanya. Rumah yang sebenarnya sudah cukup bagi mereka untuk berteduh dan membesarkan anak.

Namun ternyata, kebiasaan hutang membuat dirinya harus gali lubang tutup lubang.  Alih-alih bisa membayar dan melunasi hutang dengan pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol).

Keuangan keluarganya makin sekarat. HP mereka penuh dengan nada ancaman terror karena sering terlambat membayar cicilan. Belum lagi omongan tetangga dan relasi karena nomor HP ikut dicantumkan sebagai kenalan dekat.

Hutang yang jatuh tempo membuat Rio dan Putri semakin tak bisa mengontrol pengeluaran. Hingga akhirnya, mau tidak mau mereka berdua menjual rumah sederhana miliknya. Mereka pun harus pindah dari rumah itu.

”Saya sekarang tinggal di rumah mertua. Kebetulan mertua juga sedang sakit, ya sekalian merawatnya,” ungkap Rio berkilah.

Setelah rumahnya terpaksa harus dijual, diakui Rio, dari situlah membuat dia tersadar. Rio berusaha mengajak istrinya untuk merubah kebiasaan atau pola yang tidak baik, yaitu gaya hidup dan dengan mudah suka hutang tanpa ada alasan yang jelas.

”Saya sekarang fokus kerja, sambil melunasi hutang yang masih tersisa dikit-dikit mas. Setelah itu, fokus untuk memperbaiki kehidupan,” ujarnya.

Memang untuk merubah kebiasaan itu, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Rio begitu menyesal karena sudah menjual rumahnya yang semestinya menjadi pertahanan terakhir.

Rio juga kesulitan untuk keluar dari kebiasannya bermain judol. Tapi kali ini dia tidak bisa bergerak karena untuk makan saja kesulitan. “Apalagi jika mau deposit untuk bermain judol,” beber Rio. (mas/fun)

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#rumah dijual #pinjol #hutang