DIAN, 37, (nama samaran), wanita yang terlahir dari keluarga sederhana di Kota Probolinggo. Meski demikian, Dian ingin sekali membahagiakan orang tuanya sama halnya dengan anak-anak pada umumnya. Sayangnya, Dian mengalami dua kali perceraian dan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Karena kondisi ekonomi keluarga, Dian hanya dapat menempuh Pendidikan hingga lulus SMA.
Kemudian, Dian mencoba untuk melamar pekerjaan di perusahaan swasta. Beruntungnya, Dian mendapatkan kesempatan dan diterima di bagian administrasi perusahaan tersebut.
Beberapa tahun bekerja, Dian memutuskan untuk menikah. Tentunya, dengan harapan mendapatkan suami yang bertanggung jawab dan hidup bahagia.
Hingga akhirnya dia menemukan sosok pria, sebut saja namanya Rio, yang dianggapnya bertanggung jawab. Dian lalu memutuskan menikah dengan pria yang usianya selisih 4 tahun lebih tua darinya.
”Suami pertama saya selisih usianya sekitar 4 tahun. Saya berpikirnya, dia sosok yang dewasa dan bisa menjadi imam bagi saya,” kata Dian yang kini memiliki dua anak.
Satu tahun pertama hubungan Dian dan suaminya berjalan dengan baik. Hingga akhirnya, Dian dikarunia anak perempuan.
Dua tahun kemarin, suaminya mulai terlihat sifat aslinya. Rupanya, Rio orangnya kasar dan suka marah.
Bahkan, Dian tidak jarang mendapatkan perlakuan keras dari suaminya. Pernikahan itu akhirnya kandas saat anaknya usia 3 tahun karena Dian merasa tidak kuat.
”Sebenarnya satu dua tahun pertama pernikahan saya, suami saya beberapa kali marah dan sempat mukul saya. Tapi saya pikir itu hanya terbawa emosi. Tapi ternyata, usia pernikahan ketiga dan keempat, suami sering marah dan main tangan,” ungkapnya.
Dian yang menjadi korban KDRT tidak sampai melapor ke polisi. Dian mengaku, dirinya tidak ingin ramai dan membuat nama keluarganya makin buruk. Dia lebih memilih fokus untuk merawat anak.
Meski sudah memiliki pekerjaan, Dian merasa tetap butuh sosok pria sebagai suami dan ayah bagi anaknya. Oleh karena itu, dirinya membuka diri untuk pria lain menjadi suaminya.
Hingga akhirnya, dirinya dijodohkan oleh keluarganya. Dia dikenalkan dengan Joni (juga nama samaran).
Dengan harapan, Joni bisa menjadi suami yang bertanggung jawab dan saya pada dirinya serta anaknya.
”Saya hilangkan rasa trauma dari pernikahan dengan suami pertama dan memutuskan untuk menikah lagi. Tapi ternyata, suami kedua lebih parah. Tidak hanya suka marah dan main tangan. Ternyata juga sudah main slot atau judi online. Bukannya bertangung jawab menafkahi, malah tidak ada nafkah sama sekali untuk keluarga. Jadi tidak lama menikah, akhirnya cerai lagi,” ceritanya.
Dua kali pernikahan harus berakhir cerai diakui Dian, membuat dia trauma dan syok. Dia berusaha tetap tegar dan fokus bekerja demi membesarkan anaknya.
Satu hingga dua tahun, dirinya merasa kuat menjalani hidup tanpa pendamping suami. Walau merasa keluarga tidak lengkap saat tidak ada sosok suami dan ayah bagi anaknya.
”Kalau ingat kekerasan dan cerai, saya tidak mau nikah lagi. Tapi gimana lagi, saya butuh suami dan anak saya juga butuh sosok ayah,” ujarnya.
Keluarganya pun mendorong dirinya untuk menikah Kembali. Hanya saja harus dipastikan pria pilihannya benar-benar bertanggung jawab.
Oleh karena itu, keluarga mendorong dirinya menikah dengan pria yang masih saudara, sudah tahu kebiasaan dan kepribadiannya.
Beruntung, ada pria (Doni-nama samaran) yang masih saudara menerima dirinya apa adanya. Meski dirinya sudah dua kali menikah dan gagal, Doni menerima dirinya apa adanya.
Meskipun usia Doni lebih muda dari saya, Doni sabar dan bisa menerima dirinya serta anaknya. Hingga akhirnya, dari pernikahan dengan Doni, memiliki anak laki.
”Alhamdulillah, suami saya sekarang yang bekerja di perusahaan swasta menjadi suami yang tanggung jawab. Semoga pernikahan saya ketiga kali ini, menjadi pernikahan yang terakhir kali. Saya dan suami saya ditakdirkan menjadi pasangan hingga tua dan mau memisahkan” harapnya. (mas/fun)
Editor : Fandi Armanto