Cinta memang tak selamanya bisa indah
Cinta juga bisa berubah menjadi sakit
Begitu yang kurasakan kini
Perih hatiku tinggal kehancuran…
LIRIK lagu berjudul “Cinta Tak Harus Memiliki” milik grup band ST 12 itu benar-benar dialami Reza (nama samaran), 40, saat dia merelakan Kartika (juga nama samaran), 39. Sejak SMA, Kartika menjadi kekasihnya. Tapi takdir memang tak bisa ditebak. Reza hanya sebatas menjadi penjaga jodoh orang.
Dia gagal menikah dengan Kartika yang sudah menjalin hubungan hampir satu dekade. Padahal, dia sudah merelakan hampir semua waktunya. Bahkan, nyaris menjadi pria yang sempurna karena selalu ada saat dibutuhkan.
“Tetapi konsep jodoh memang tidak simpel. Tidak cukup hanya dengan pengorbanan walau itu atas nama cinta,” kata Reza mengawali.
Pria yang bekerja di sebuah perusahaan di bidang telekomunikasi ini masih ingat, dia mengejar Kartika saat sejak masih duduk di bangku SMP. Dia terkesima dengan wanita yang saat itu menjadi mayoret marching band dan salah satu kembang di sekolahnya.
Seperti pria kebanyakan, tentu Reza hanya bisa mengintip dan mencuri-curi pandang. “Posisinya saat itu adik kelas, beda setahun. Dia banyak yang mengagumi. Hampir semua cowok di sekolah ingin menjadi pacarnya,” kata Reza.
Setelah lulus dari SMP, Reza sebenarnya sudah melupakan Kartika. Tapi saat dia beranjak ke kelas dua, ternyata Kartika masuk ke sekolahan yang sama dengannya.
Tentu Kartika yang beranjak makin besar, menjadi lebih cantik. Karismanya juga tak hilang karena Kartika lagi-lagi menjadi kembang sekolah.
Reza juga menjadi pria yang beruntung karena di saat kelas dua itulah, ternyata Kartika menerima sebagai pacarnya. “Kami tidak punya kesamaan hobi. Hanya saja waktu itu, saya pulang dari ekstrakulikuler dan dia tidak ada yang menjemput. Saya memberanikan diri untuk mengantar dan ternyata dia mau,” kata Reza mengenang.
Selama berseragam putih-abu-abu, kedua insan ini bikin iri seisi sekolah. Reza kerap menjemput dan mengantar Kartika ke sekolah. Acara apa pun, dia selalu ada di samping Kartika. Yang bikin senang lagi, ternyata keluarga Kartika menerima Reza.
“Mau apel tiap malam minggu, diterima. Acapkali sampai menjelang malam, sampai pukul 22.00. Jam yang zaman dulu sudah dianggap tabu untuk kencan malam mingguan,” kata Reza.
Dia juga pandai mengambil hati orang tua Kartika. Dari mulai sekadar membawakan martabak atau membenarkan motor milik adik Kartika. Terkadang ayah Kartika juga menitip pakan burung peliharaannya.
“Hubungan kami serius. Bahkan saat ada saudaranya nikahan, kami berdua pasti dilibatkan ke dalam acara. Entah itu jadi penerima tamu atau menyetor mobil jika acaranya di luar Kota Pasuruan,” beber Reza.
Sampai Reza lulus SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi, Reza juga setia. Dia selalu menjaga hati dan matanya untuk perempuan. Dia sangat yakin bisa berjodoh dengan Kartika.
Makanya saat Kartika juga sudah lulus dari SMA, dia meminta Kartika untuk ikut kuliah di Kota Surabaya. Dan, orang tua Kartika juga menuruti anjuran Reza. Alasannya, agar Kartika ada yang menjaga selama di perantauan.
Selama itu pula, Reza juga sering menjadi andalan bagi orang tua Kartika. “Mulai dari urusan motor mogok atau sekadar memasang lampu yang mati di teras rumahnya. Saya selalu dipanggil. Pokoknya saya manut jika dimintai tolong, apa pun itu,” kata Reza.
Setelah Reza wisuda dan diterima kerja, dia juga sudah mulai menyiapkan tabungan untuk resepsi pernikahan. Boleh dibilang ekonomi Reza cukup mapan walaupun gajinya hanya UMR.
Hingga Kartika pun lulus dari kuliah dan kembali lagi ke Kota Pasuruan. Saat itu Kartika dan Reza sejatinya sudah menyiapkan rencana pernikahan.
Sampai suatu waktu, Kartika bertemu dengan seorang pria yang bekerja sebagai abdi negara.
Sebut saja namanya Wahyu, yang kabarnya bertemu karena ayah Kartika mengenal orang tua Wahyu. Dari situlah pelan-pelan Reza mulai merasa disingkirkan.
“Entah mengapa dia (Kartika, Red) rupanya juga ada rasa. Komunikasi sudah mulai jarang. Dan saat saya apel ke rumahnya, ternyata ada dia (Wahyu, red),” kata Reza.
Jelas Reza cemburu dan manusiawi dia sempat marah. Apalagi semenjak itu, SMS-nya jarang dibalas. Telepon juga kerap di-reject. Reza mulai tahu bahwa Kartika sudah mulai meninggalkannya.
Tapi rencana pernikahan masih ada di benak Reza. Dia tentu tak bisa melupakan waktu dan pengorbanannya selama dia menjalin hubungan dengan Kartika.
Terlebih selama Reza bekerja di luar Pasuruan, orang tua Kartika masih kerap menghubunginya jika membutuhkan bantuannya.
Di situlah Reza masih meyakini, bahwa orang tua Kartika masih mendukungnya. “Saat itu Kartika juga bekerja di luar Pasuruan. Selama itu pula saya masih sering dimintai tolong oleh ayah dan ibunya,” kata Reza.
Tapi perasaan Reza akhirnya benar-benar hancur saat suatu malam, dia diminta datang ke rumah Kartika.
Reza masih ingat, saat itu persis di hari ulang tahun Kartika. Dia sudah menyiapkan kado istimewa berupa cincin emas putih.
Mendadak HP-nya berbunyi dan panggilan itu dari ibu Kartika. Secepat kilat dia meluncur ke rumah Kartika yang berbeda kecamatan. Dia sudah bersemangat dan mengira ada pesta kecil-kecilan yang sudah disiapkan.
Tapi begitu tiba, ternyata Kartika enggan menemuinya. Justru, ibu Kartika yang menemuinya. Saat itulah, calon mertuanya itu mengajaknya duduk di pojok rumah. “Dengan tegas, ibu Kartika meminta saya untuk menjadi kakak Kartika. Hati saya mak deg dan tak bisa berkata-kata,” kata Reza.
Selang enam bulan kemudian, Reza menerima sebuah surat undangan pernikahan. Undangan yang akhirnya tidak dia hadiri. (zen/fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni