Tole (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pria paruh baya yang hidup sederhana bersama istrinya, Sari (juga bukan nama sebenarnya). Mereka sudah memiliki satu anak. Dari luar, rumah tangga mereka tampak biasa saja. pagi diisi dengan hiruk pikuk menyiapkan anak sekolah, malam dengan obrolan ringan sambil menonton televisi. Namun, di balik itu semua, Tole menyimpan rahasia besar yang menggerogoti hatinya perlahan-lahan.
RAHASIA itu adalah wanita yang sebut saja namanya Indah (nama samaran). Seorang pemandu karaoke. Cantik, muda, dan punya tawa yang bisa meluluhkan siapa saja.
Pertemuan mereka terjadi secara kebetulan, ketika rekan kerja Tole mengajaknya bersenang-senang selepas bekerja. Tole yang awalnya hanya berniat menemani, justru jatuh hati pada kelembutan Indah.
“Menatap wamatanya, hati bergejolak. Jatuh cinta kesekian kalinya mungkin,” kata tole.
Tatapan indah malam itu menjadi awal dari hubungan gelap yang berlangsung bertahun-tahun. Hubungan terlarang yang sebarnya haram dalam agama.
Tole bukanlah pria kaya raya. Celakanya, Tole selalu berusaha menyisihkan uang dari hasil kerjanya.
Ia sering meminta Indah untuk tidak bekerja jika ia tahu ada pelanggan lain yang ingin mengajaknya menemani malam.
“Inginnya agar jangan kerja. Aku sudah sisihkan sedikit rezeki. Aku tidak ingin orang lain memandangnya dengan cara yang sama seperti mereka memandang pemandu karaoke lain,” ucap Tole dengan penuh kesungguhan.
Hubungan mereka semakin dalam. Tiga tahun lamanya Tole hidup dalam dua dunia: dunia rumah tangga yang ia jaga sekadarnya, dan dunia gelap penuh janji dengan Indah. Hatinya terbelah, namun keyakinannya bulat ia sungguh percaya bisa menyelamatkan Indah dari jalan hidupnya yang penuh lumpur.
Suatu hari, Tole mendengar kabar yang membuat dadanya sesak. Salah satu rekannya bercerita bahwa Indah kini sering terlihat bersama seorang pengusaha yang bekerja di proyek Tol Probowangi. Pria itu bukan hanya kaya, tapi juga memiliki pengaruh besar di wilayah tersebut.
Awalnya Tole tak percaya. Ia menolak gosip itu, berusaha menepis keraguan dengan mengingat semua janji yang pernah Indah ucapkan.
Namun satu ketika dirinya di perlihatkan sebuah foto yang membuat dunianya runtuh. “Foto bersama pria lain. Glagatnya pun berbeda hari demi hari,” katanya.
Dadanya seakan diremas. Napasnya memburu. Dunia yang ia bangun dengan susah payah runtuh dalam sekejap. Kenyataan ini menusuk lebih dalam daripada sebilah pisau.
Malam itu, Tole pulang dengan langkah gontai dari rumah temannya. Dadanya penuh sesal, matanya basah. Sesampainya di rumah, ia melihat Sari sedang menidurkan Dinda. Wajah polos anaknya yang terlelap membuat Tole semakin hancur.
Dengan terbata-bata, Tole menceritakan semuanya. Tentang Indah, tentang uang yang ia sisihkan diam-diam, tentang luka hatinya malam ini. Ia menumpahkan semua beban yang selama ini ia pendam.
Tole menunduk, air matanya jatuh ke lantai. Malam itu juga ia bersujud, berdoa dengan sepenuh hati agar diberi kekuatan untuk berubah
Hari-hari berikutnya, Tole benar-benar berusaha menebus kesalahannya. Ia berhenti menghubungi Indah dan memutus semua akses yang bisa mengembalikan dirinya ke jurang lama.
Setiap waktunya ia habiskan untuk keluarga mengantar anaknya sekolah, membantu Sari berjualan, bahkan belajar mengaji kembali.
Hidupnya mungkin pernah ternoda, namun ia memilih untuk memperbaikinya. Cinta yang semu bersama Indah hanya meninggalkan luka, tetapi cinta tulus keluarga menjadi obat yang menyembuhkan.
Kisah Tole adalah cermin tentang betapa rapuhnya hati manusia ketika berhadapan dengan godaan.
Ia pernah tersesat, pernah lupa akan janji pernikahannya, namun akhirnya menemukan jalan pulang.
“Kesalahan memang tak bisa dihapus,” gumam Tole. “Tapi aku bersyukur, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki segalanya,” lanjutnya.
Dari situlah ia belajar: keluarga bukan sekadar tempat kembali. Tapi rumah sejati yang tak pernah meninggalkan, meski dirinya pernah berpaling. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid