Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Wanita yang Rakus Harta dan Suka Ghibah

Fuad Alyzen • Sabtu, 24 Mei 2025 | 17:55 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

HIDUP Ati, (bukan nama sebenarnya) 52 memang benar-benar sengsara. Dia menerima balasan atas apa yang diperbuat. Keluarganya selalu susah. Kondisi itu membuatnya lesu dan capek menjalani hidup.

Ekonominya juga terbilang tak mampu jika dibandingkan kehidupannya dulu. Orang lebih suka menyebutnya melarat.

Semua itu karena dulu Ati selalu zalim kepada orang lain. Selalu membuat cerita tidak benar setiap tetangga bahkan saudara yang tertimpa masalah ujian hidup.

Dahulu, di rumah wanita asal Kabupaten Probolinggo ini memang menjadi pusat perkumpulan ibu-ibu. Karena di rumah Ati dijadikan tempat arisan ibu-ibu di sekitarnya.

Tak ayal, ketika sudah berkumpul para ibu-ibu suka heboh. Termasuk biasa bikin gosip orang lain.

Tentang kehidupannya bahkan yang lainnya. “Biasa ya ibu-ibu kalau gosipin orang itu riwuh,” ujar adik Ati, sebut saja Marvel (juga bukan nama sebenarnya), 45.

Kata Marvel, kakaknya terkadang suka kelewatan jika ngegosip. Dia suka mengarang cerita atau menambahkan cerita negatif orang lain.

Misalkan cerita orang lain yang memiliki hutang, bukan hanya hutangnya diobrolkan. Melainkan cerita seks yang tidak pernah diketahui Ati.

Anehnya, cerita Ati membuat orang di sekitarnya percaya dan membuat mereka juga sinis pada seseroang yang menjadi sasaran ghibah. Fitnah jatuhnya.

Selain itu pada keluarganya sendiri, sering mengklaim tanah warisan yang sudah terbagi diakuinya. Karena saling mengklaim sampai berujung perselisihan.

“Mbak ini hobinya memang ghibah dan bertengkar sama orang lain. Bahkan sama keluarganya,” ujarnya.

Korban ghibah yang diklaim hartanya sudah sering dilakukan. Bahkan tanah tetangganya 1 meter, juga diakuinya.

Dengan iming-imingi penambalan tembok, lalu tanah itu digunakannya untuk kepentingan pribadi. Tanah itu lantas dijadikan dapur.

Setelah tetangga tidak terima, lagi-lagi perselisihan terjadi. Sampai tidak akur sesama tetangga.

“Sudah banyak. Ada tiga 3 tanah yang diklaim miliknya dengan alasan tanah itu milik mbahnya yang diwariskan,” katanya.

Contoh lainnya saat kondangan atau buwuh. Atip kerap membawa amplop kosong. “Nah ini yang belum saya jangkau. Apa tidak malu,” ujar Marvel.

Alhasil, Ati yang dulunya menjadi orang yang cukup, sekarang hidup susah. Dulunya Ati malah dianggap menjadi tokoh oleh banyak orang, sekarang malah menjadi bahan omongan orang lain.

Belum lagi faktor keluarganya. Anaknya menikah dalam kondisi istri hamil. Sehingga Ati sering menjadi bahan rasan-rasan.

Ati juga sering jadi sasaran untuk menagih hutang kepadanya. Sampai-sampai, kata Marvel, dia pernah mendengar, saudaranya itu diancam dan diumbar aibnyakepada orang di sekitarnya.

Marvel masih ingat, memang Ati sering pinjam uang sana sini hanya untuk mrncukupi kebutuhan. Namun saat ditagih, tidak ada uang untuk dibayar.

“Saat itu Mbak (Ati, red) seperti jadi musuh bersama. Siapa yang mau dekat dengan mbak. Melihat wajahnya saja banyak yang kurang suka,” katanya.

Dari sini, Marvel jadi ingat perjalanan hidup Ati. Dulu, sang kakak jika melihat musibah orang lain, justru dibuat gunjingan. Bukan ditolong. Padahal setiap orang akan pasti ada ujian masing-masing dalam hidupnya.

Apalagi jika sampai mengambil hak orang lain atau menguasai hak orang lain tanpa persetujuan pemiliknya. Itu sama dengan mencuri.

“Menurut saya itu balasannya jika rakus. Mbak ini sekarang malu jika mau keluar rumah. Padahal dulu seperti ratu,” sampainya. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
#Ghibah #harta #rakus