Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menyesal Setelah Kehilangan Suami yang Super Penyabar

Fuad Alyzen • Sabtu, 11 Januari 2025 | 19:20 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

JANGAN pernah menindas suami yang memiliki sifat penyabar. Karena akan menyesal saat sudah meningglkan selama-lamanya.

Itu dialami Sukarni (bukan nama sebenarnya), 47,  warga Kabupaten Probolinggo. Karena hal sepele, Sukarni sering memarahi suami.

Dia tidak peduli meski suaranya lantang dan tidak sopan terhadap suaminya walau didengar banyak orang.

Suaminya yang penyabar, hanya mendengar tanpa melakukan perlawanan. Biasanya sang suami hanya berusaha mencoba menenangkan Sukarni saat marah. Sebab Sukarni sering mengeluarkan kata-kata kotor.

“Tidak terbayangkan setelah dia (suami, red) meninggal. Sudah setahun sejak suami meninggal, saya selalu bersedih. Dia tak tergantikan,” pengakuan Sukarni sembari menangis.

Sukarni bercerita, sejak pernikahan dengan suaminya yang sebut saja bernama Tuki, 50, Sukarni senang karena suaminya tidak pernah marah. Sekalipun keegoisan Sukarni selalu muncul pada keluarga kecil mereka.

Tuki, kata Sukarni, selalu bersabar dan membantu pekerjaannya. “Saat itu Tuki sering menyatakan, istriku setelah kau akad denganku, dirimu bukan hanya titipan orang tuamu padaku. Tetapi dirimu ini adalah titipan Allah padaku.

Tuki juga sering menyatakan akan selalu bertanggung jawab atas alihan tanggungjawab orangtuanya dulu.

“Maka dari itu jika kamu marah karena aku, maka marahlah,” kata Sukarni meniru ucapak Tuki.

Tetapi, Sukarni selalu tidak menghiraukannya. Dia masih saja selalu egois. Bukan hanya sabar atas keegoisannya. Tuki juga tak pernah marah kepada siapapun. Apalagi menyimpan dendam.

Dari pernikahannya dengan Tuki, Sukarni dikaruniai dua anak. Dua anak yang saat rewel, Tuki selalu turun tangan untuk memberikan kasih sayang. Dia membiarkan Sukarni untuk istirahat.

“Padahal Tuki sedang kelehan karena pekerjaannya. Tapi selalu membantu saya. Masak pun begitu. Kalau tidak sempat masak pun, sepulang kerja, dia langsung membawa saya untuk ke rumah makan dan memilih menu terenak,” kenangnya.

Kebiasaan ini tidak berubah sampai Tuki menjelang kematiannya. Sukarni selalu memarahinya. Celakanya lagi, Sukarni kerap memarahi suaminya sampai didengar banyak orang atau tetangganya.

Bahkan kedua anaknya saat sudah berkeluarga, Sukarni selalu memarahinya. Hingga di awal tahun 2024 lalu, kesehatan Tuki mulai terganggu. Dia mengalami sakit.

Hanya sepekan saja, Tuki lalu meninggal dunia.

Saat itulah Sukarni merasakan, betapa sakitnya ditinggalkan oleh orang yang begitu menyayanginya. Sukarni sangat merasa kehilangan.

“Sampai sekarang saya selalu menangis jika mengingatnya. Hidupku seolah tak berdaya tanpanya,” ucapnya sembari menangis. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
#suami #rumah tangga