HIDUP Eko (bukan nama sebenarnya), 45, berubah 180 derajat. Dari yang awalnya alim, mendadak keranjingan ilmu ghaib. Dia pun mengalami gangguan jiwa.
Dulunya, pria asal Kabupaten Probolinggo ini dikenal baik dan dermawan. Keberadaannya selalu membuat nyaman sesamanya. Apalagi kawan-kawannya.
Tetapi sekarang, banyak orang menghindarinya lantaran keberadaannya membuat tak nyaman. Orang takut bila didekatinya. Sebab wajahnya suram dan selalu mengamuk jika mendengar pernyataan ajaran syariat islam.
Eko berasal dari keluarga sebenarnya sederhana. Bersama kedua orang tuanya, Eko tinggal tinggal di wilayah pesisir Kabupaten Probolinggo. Mereka tinggal se rumah yang agak jauh dari pemukiman.
Sejak kecil, orang tuanya selalu menanamkan kebaikan. Selalu merendah, mengutamakan ahlak, hidup dermawan meski ekonomi sendiri tidak cukup untuk kebutuhannya.
Eko yang terbiasa berperilaku baik, punya banyak teman. Tak sedikit yang menganggapnya seperti saudara.
Singkat cerita, Eko akhirnya lulus dari salah satu sekolah menengah atas Kota Probolinggo. Untuk membantu ekonomi orang tuanya, Eko bekerja sebagai karyawan pabrik di salah satu perusahaan di Probolinggo.
Eko bertahan sampai dia berumah tangga dan memiliki satu anak. Waktu itu banyak sekali temannya yang mendekatinya. Bahkan teman di semasa SD saja, masih berhubungan baik.
Namun hidupnya berubah setelah Eko mengenal media sosial. Eko kerap menonton ajaran-ajaran ghaib, yang akhirnya membuatnya penasaran untuk mempelajarinya langsung.
“Tidak tahu tujuannya apa dan kemana, Eko sudah mulai sering pergi sendirian waktu itu,” kata, Sapik 52 (juga bukan nama sebenarnya), kakak sepupunya.
Beberapa bulan kemudian, peruhahan Eko semakin nampak. Eko selalu menyendiri duduk bersila sembari memandangi lautan yang tidak jauh dari rumahnya. Itu kerap dilakukannya saat tengah malam.
Padahal Sapik masih ingat, Eko sangat jarang ke laut. Bahkan saat ayahnya pergi melaut, Eko tidak membantunya. Karena Eko sedang trauma dari pengalaman teman ayahnya tersengat ular di laut lalu meninggal dunia.
“Kata Paklek (ayah Eko, red) Eko selalu nonton ajaran-ajaran ghaib di HP,” ujarnya.
Benar saja tak lama kemudian Eko sudah mulai terganggu jiwanya. Acapkali Eko sering geladur pernyataannya. Dia selalu menyebut nama-nama seperti Nyi Roro Kidul, Gajah Mada, jin penguasa Bromo dan banyak lainnya.
Katanya Eko mengenali semuanya di Nusantara ini. Tak tega melihat anaknya gangguan jiwa, orang tuanya membawanya ke RSJ Lawang Malang untuk diobati. Berharap Eko bisa sembuh.
Tiba di rumah sakit Eko selalu menatapi ke sisi yang ada orang. Kadang tersenyum. Bahkan sekedar menyapa. Padahal tidak ada orang di sebelahnya.
“Dibawa ke RSJ setelah sudah beberapa kali berobat pada orang pintar. Tapi tak kunjung sembuh,” ujarnya.
Dua bulan kemudian Eko dipulangkan dari RSJ. Karena dia mulai ada perubahan. Pulang-pulang banyak temannya yang menyambutnya. Berharap mereka bisa berkumpul lagi bersama Eko.
Eko memang komunikasi seperti biasa. Namun dia mulai ada perubahan. Setiap berbicara selalu tentang kefiktifan akhirat.
Misalnya tentang ibadah, tujuan semua yang berhubungan dengan hukum islam. Semua dibantahnya dan selalu ada perlawanan.
Sampai kini Eko masih dalam kondisi yang sama. Tingkahnya selalu aneh, kurus dan kotor.
Keluarganya bahkan orang tuanya hanya bisa pasrah dan berharap Eko bisa kembali seperti dahulu kala. (zen/fun)
Editor : Ronald Fernando