CERITA cinta Jeni (bukan nama sebenarnya), 26, dan Iver (juga bukan nama sebenarnya), 27, memang penuh perjuangan. Sempat ditolak oleh keluarga lantaran Iver memiliki kekurangan. Kisah mereka bahkan kerap disebut seperti Beauty and The Beast.
Tahun 2016 merupakan pertemuan Jeni dan Iver. Keduanya bertemu di salah satu pondok pesantren di Kota Probolinggo. Di sana mereka saling kenal lantaran waktu itu ada sebuah acara.
Awalnya Jeni biasa-biasa saja. Ketika berkenalan dengan Iver pertama kali, dia menganggap semuanya hanya lingkup pertemanan.
Sebaliknya, Iver begitu terpesona dengan Jeni. Dia terpana melihat kecantikan Jeni. Semenjak saat itu, Iver selalu berupaya mendekati Jeni.
Iver selalu ke tempat Jeni mondok. Meski hanya sekedar memandang, itu sudah membuat Iver puas. Dia selalu menghampiri Jeni setiap hari.
“Setiap hari kok selalu ada Iver di depan sekolah pondok,” kata Jeni yang waktu menceritakan sembari diiyakan Iver, suaminya.
Jeni sempat bertanya-tanya ke diri sendiri, mengapa Iver selalu ada disana dan selalu memandangi dengan senyuman. “Saya curiga, apakah Iver menyukai saya,” sampainya.
Singkat cerita, Iver menyatakan perasaannya terhadap Jeni. Dia nyatakan ketika Jeni pulang liburan pondok.
Tapi tak gampang bagi Iver meluluhkan hati Jeni. Sebab tampang Iver yang kurang mapan. Dari segi penampilan, Iver kerap berpakaian kurang rapi.
Begitu juga dari segi fisik. Iver berkulit hitam. Sehingga saat Iver “menembaknya”, kontan Jeni langsung menolaknya.
Tapi Iver yang sudah jatuh cinta kepada Jeni, tak berhenti mengejar cintanya. Iver selalu memberi perhatian. Baik dengan sikap, memberikan barang berharga yang Jeni suka dan lainnya.
Berkat penuh perhatian itu, akhirnya beberapa tahun, Jeni mulai luluh. “Saya kok kasihan pada orang ini (Iver). Saya mulai memberikan respon,” ujarnya.
Namun Jeni sempat berharap, Iver tak jadi pasangannya. Jeni hanya membalas dan saling menerima telpon dari Iver.
Beberapa tahun berlalu, Iver berhasil membuat Jeni nyaman. Akhirnya Jeni sudah mulai membuka hatinya untuk Iver. “Meski tampangnya jelek, saya juga heran mengapa saya eman-eman melepasnya,” katanya sembari tertawa.
Suatu ketika, Iver yang alumni pondok, akhirnya diangkat menjadi guru. Itu membuatnya bisa selalu memperhatikan Jeni. Di samping itu Iver juga punya bisnis reparasi HP yang rusak.
Singkat cerita akhirnya Jeni menerima cinta Iver. Supaya menambah nilai jual, Jeni seringkali menyebut bahwa Iver adalah seorang gus (anak kiayi) di salah satu pondok di Kabupaten Probolinggo. Ini untuk menutupi tampang Iver.
Tetapi sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Beberapa tahun disembunyikam, akhirnya terbongkar juga. Gara-gara salah satu teman mengetahui berita kebohongan pacar Jeni akhirnya tersebar ke temannya.
Lagi-lagi Iver harus berjuang. Dia harus meyakinkan Jeni bahwa Iver kelak bisa membuatnya bahagia, jika Jeni tetap mempertahankan hubungannya.
Kisah cinta Jeni dan Iver tak sampai di situ. Setelah berhasil meyakinkan Jeni, Iver harus menghadapi orang tua Jeni. Posisi Iver yang kurang mapan, membuatnya ditolak mentah-mentah.
“Karena inginnya keluarga Jeni kerja kantoran. Jeni kan cantik,” kata Iver waktu menceritakannya.
Selama dua tahun perjuangan, Iver tidak dianggap oleh keluarga Jeni. Sampai Jeni sempat memutuskan untuk menuruti perkataan keluarganya. Begitu juga keluarga Iver enggan menerima Jeni karna keluarganya berkali-kali menolak Iver lantaran tampangnya dan pekerjaannya.
Iver yang masih belum putus asa, rela meski harga dirinya terinjak-injak. Ia tetap memaksa Jeni untuk menjadj pasangannya. “Saya bilang, saya tidak bisa jika pasangan bukan Jeni,” katanya sembari tersenyum.
Hingga perlahan keluarga Jeni ikut luluh juga. Mereka akhirnya ke pelaminan. Meski orangtuanya masih berat menerimanya.
Tahun 2024 keduanya akhirnya menikah. “Mungkin ini jalan takdirku. Pasanganku memang Iver. Ya berdoa saja semoga ke depannya semakin membaik dan menerima Iver sebagai mantunya,” tambahnya. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid