Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pernah Hampir Meninggal Dunia Karena Penyakit yang Diderita

Fuad Alyzen • Sabtu, 31 Agustus 2024 | 22:25 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

SELALU perhatikan kondisi anak sedari kecil. Agar tidak seperti Mulu, 29, (bukan nama sebenarnya) warga Kabupaten Probolinggo.

Ia pernah dinyatakan meninggal dunia, usai penyakit kencing batu yang dideritanya kambuh. Rupanya sedari kecil, Mulu sering menahan kencing, gara-gara jarak kamar mandi yang jauh.

Itu terjadi 12 tahun yang lalu. Kala itu, usia Mulu masih 17 tahun. Ia sudah menderita penyakit kencing batu.

Bahkan, sejak usianya 7 tahun, ia mengalami susah buang air kecil. Sampai-sampai, ia kerap mengeluarkan darah dan nanah saat kencing.

“Makanya jangan sering menahan kencing. Kalau ingin buang air kecil, tuntaskan. Jangan ditahan, biar tidak jadi penyakit,” ungkap Mulu.

Mulu berkisah, sedari kecil rumahnya memang sempit. Untuk membangun kamar mandi pun, tidak ada kecukupan lahan.

Sehingga, orang tuanya memanfaatkan kamar mandi milik neneknya. Lokasinya pun cukup jauh. Sekitar 100 meter dari rumahnya.

Untuk menuju rumah nenek, harus melintasi rawa-rawa. Saat malam hari, terasa angker. Lantaran minim penerangan.

Kondisi itulah, yang membuat Mulu enggan ke kamar mandi. Apalagi, kalau malam hari. Ia takut. Sehingga, memilih untuk menahan buang air kecil.

Mungkin saat usianya masih 5 tahun hingga 10 tahun, Mulu tanpa malu membuang air kecil di depan rumah.

Namun, setelah baligh, perasaan malu akhirnya muncul. Ia enggan kencing sembarangan. Dan memilih untuk buang air ke kamar mandi.

Namun saat hendak kencing malam hari, Mulu ketakutan. Jika harus pergi ke kamar mandi yang kondisinya menyeramkan. Meski sudah kebelet, Mulu memilih untuk menahannya, hingga pagi.

Hal itu menjadi kebiasaannya, bertahun-tahun lamanya. Saat usianya menginjak 12 tahun, ia pernah diperiksakan ke dokter. Ketika itu, didapati batu mirip kristal pada kemaluannya.

Ia hanya bisa menahan sakit. Karena biaya untuk operasi, tidak mencukupi kala itu. Apalagi, orang tua Mulu berpikir, penyakit tersebut bisa disembuhkan dengan cara lain.

Sebab ayah Mulu juga menderita hal yang sama. Bisa disembuhkan dengan obat, yang kemudian batu kristal itu, bisa keluar melalui kemaluannya.

Akhirnya Mulu dibiarkan dengan hanya membeli obat yang pernah membuat ayahnya sembuh.

Namun sayang, meskipun rutin minum obat, kebiasaan Mulu menahan kencing sampai pagi masih dilakukannya.

Sehingga di tahun 2012 lalu, penyakit yang dideritanya tiba-tiba kambuh. Bagian penisnya kesakitan. Sebab terdapat banyak batu yang menutup saluran pembuangan air kecil tersebut.

Mulu langsung ngedrop seketika. Banyak orang yang menangis karenanya. Sebab mata Mulu sudah memutih. Orang-orang juga sudah siap memakamkannya. Mereka mengira, Mulu akan tiada.

Namun orang tuanya masih memiliki keyakinan. Setelah dioperasi Mulu akan sembuh. Dengan sigap orang tua Mulu ke rumah sakit.

Meski orang menyatakan Mulu akan meninggal dunia. “Saya sudah tidak ingat apa-apa. Tiba-tiba sudah di rumah sakit,” kenangnya.

Katanya, ibunya seperti membawa jenazah saat membawanya ke rumah sakit. Warna badannya sudah mengungu. Mata memutih. Ia kemudian disuntik dan diobati.

Semula di RSUD dr M Saleh Probolinggo. Namun, tidak mampu hingga akhirnya ia dirujuk ke RSSA Malang.

Di sana Mulu dioperasi dan menjalani perawatan selama beberapa hari. Seminggu kemudian, ia baru sadar. Kalau sudah ada di rumah sakit dan menjalani perawatan.

Karenanya, ia berpesan jangan sampai menahan kencing. Keluarkan agar tidak mengalami penderitaan sepertinya. Jika terdapat gejala segera periksakan ke dokter.

“Intinya jangan menahan kencing. Keluarkan saja. Jika terdapat gejala segera periksakan ke dokter agar bisa diatasi,” sarannya. (zen/one)

Editor : Jawanto Arifin
#kencing batu #meninggal #sakit