Anak mami mau mandiri
Tapi masih nodong papi
Dikit-dikit nyari mami
Anak mami pulang lagi
Anak mami anak mami anak mami
Anak mami
Anak mami anak mami anak mami
Dijemput mami
LIRIK lagu Slank yang dirasakan Bunga (nama samaran), 25, saat menjalin Bunganan dengan dengan Yadi (juga nama samaran), 25. Sejatinya Bunga ingin Yadi tumbuh dewasa. Tapi perempuan asal Kota Probolinggo ini justru merasa, kekasihnya itu terlalu manja.
Bunga dan Yadi pertama kali bertemu saat mereka bersekolah di salah satu SMA di Kota Probolinggo.
Meski setelah lulus SMA, keduanya sempat hilang kontak karena Yadi kuliah ke luar kota. Sementara Bunga bekerja di Kota Probolinggo.
“Baru nyambung lagi ketika dia sudah masuk semester akhir saat itu,” kata Bunga mengenang.
Dari komunikasi yang bertaut kembali tersebut, Bunga jadi dekat dengan Yadi. Mereka berdua sering bertemu. Entah di rumah ataupun di kafe untuk sekadar ngobrol dan makan bersama.
“Kami biasanya mengunjungi kafe-kafe baru di Kota Probolinggo untuk mencicipi menunya. Sebab kami berdua suka kulineran. Kadang dia yang merekomendasikan, terkadang juga saya,” tuturnya.
Bunga mengatakan bahwa Yadi sebenarnya merupakan orang yang baik. Banyak cerita-cerita yang Bunga sampaikan pada Yadi. Begitupun sebaliknya.
“Ya saling curhat kegiatan sehari-hari. Masalah di kampus, seperti itu. Seru sih kalau curhat dengan dia. Kadang ada beberapa saran yang dia sampaikan,” katanya.
Atas perlakuan demikian, Bunga menilai Yadi merupakan sosok yang berpikiran matang.
Namun hal tersebut lambat laun berubah ketika Yadi mulai menampakkan sisi lainnya. Tak jarang keduanya berseteru karena selisih paham.
“Saya terbiasa dididik untuk bersikap mandiri oleh kedua orangtua sejak kecil. Namun sepertinya berbeda dengan Yadi. Dia seakan tidak memiliki pendiriannya sendiri dan selalu mengaitkan permasalahan dengan pandangan mamanya,” jelas Bunga.
Bunga mengatakan bahwa suatu ketika dirinya berdebat dengan Yadi. Hal tersebut lantaran Yadi bercanda yang menurut Bunga kelewatan.
“Dia membuat lelucon dari sebuah peristiwa duka. Saya kira itu kurang etis meski dengan alasan hanya bercanda. Akhirnya saya mengingatkan. Nah dia malah bilang ngapain atur-atur saya, mama saya saja tidak pernah memarahi saya, tidak pernah mengatur saya,” katanya.
Tak hanya sekali, namun beberapa kali Yadi melontarkan pendapat demikian ketika bermasalah dengan Bunga.
Bahkan Bunga pernah dikritik terkait penampilannya dan dibandingkan dengan penampilan mamanya oleh Yadi. “Dia bilang bahwa mamanya dulu itu penampilannya tidak seperti saya, lebih agamis. Kok saya tidak seperti mamanya. Begitulah intinya,” kata Bunga.
Bunga mengira bahwa perilaku Yadi ini hanyalah sebuah pengalihan. Kenyataannya Yadi hanya ingin lepas dari perdebatan panjang dengan Bunga.
“Tapi ternyata persepsi saya salah. Ketika bertemu dengan mamanya, mamanya lebih parah. Katanya bila wanita tidak berpenampilan agamis, sulit mendapat keturunan,” katanya.
Bunga mengatakan bahwa ia sakit hati mendengar pernyataan mama Yadi. “Ya karena orangtua saya sendiri tidak pernah mengatakan hal-hal buruk tentang Yadi. Baik itu dari penampilannya atau hal lain-lain. Kok ini baru pertama kali bertemu langsung seperti itu ngomongnya,” kata Bunga sambil tersenyum.
“Saya pun balik bertanya pada Mamanya Yadi, apakah dahulu ketika ia masih single alias belum menikah memang sudah berpenampilan agamis seperti sekarang. Dia jawab tidak. Dulu dia juga tidak berkerudung. Saya pun tersenyum tipis ke arah Yadi yang duduk di sebelah mamanya. Sepertinya Yadi mengerti maksud saya,” katanya.
Yadi juga tampak kaget mendengar jawaban dari mamanya. Ia yang sering menonjolkan segi agamis dan kebaikan sang mama, kaget ketika mengetahui bahwa sang mama baru mulai hijrah saat telah menikah. Sementara ketika masih single, penampilannya tak beda jauh dengan Bunga.
Sekitar sejam Bunga mengobrol dengan keduanya, akhirnya ia menyimpulkan bahwa Yadi bukan sosok yang cocok menjadi imamnya. Menurut Bunga, ia lebih berfokus pada ibundanya saja tanpa mau menimbang hal-hal lainnya.
“Meski berbakti pada ibu itu baik. Tapi menurut saya, sebagai seorang suami juga penting untuk menjadi penengah. Suami harus bisa membela pihak yang benar dan memberi pengertian pada pihak yang salah. Yadi tidak memiliki itu. Bila diteruskan, kemungkinan besar saya akan terus dibenturkan dengan pendapat mamanya,” jelasnya. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid