Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Tepergok Mokel di Warung oleh Calon Mertua

Fandi Armanto • Sabtu, 16 Maret 2024 | 15:21 WIB
Photo
Photo

Bulan suci Ramadan biasanya disambut suka cita bagi umat Islam. Tetapi, tidak dengan Sueb (nama samaran), 35. Pria yang masih membujang ini, tak bisa merasakan indahnya bulan puasa. Dia malah merasa terbebani karena selalu tak kuat menahan dahaga dan lapar. Apalagi, sedari kecil dia juga tak banyak mendapat ilmu agama.

 

MAKLUM saja, orang tuanya adalah penganut kepercayaan Jawa Kuno. Ibunya juga mualaf yang tak pernah mendapat bimbingan utuh.

Praktis, semasa kecil hingga dewasa, Sueb jauh dari agama. Kalaupun dapat, itu dari sekolah yang hanya sekali dalam sepekan.

Dibesarkan dari keluarga yang sebenarnya cukup, Sueb jadi makin liar saat beranjak remaja.

Apalagi saat dia masuk kuliah. “Mungkin karena saya jauh dari Tuhan ya. Semenjak remaja sampai kuliah, hobi saya itu ya mabuk, medok, main (judi, red),” kata pria yang tinggal di Kota Pasuruan tersebut.

Mbeler alias nakal. Itu pula yang menjadi pandangan orang jika mengenal Sueb.

Bayangkan saja. Saat masih SMA, dia sudah kenal dengan yang namanya Tretes. Bukan hanya mengenal. Boleh dibilang, dia hafal dan kenal betul dengan para pemilik wisma-wisma yang ada di sana.

Hampir tiap pekan dia selalu naik dan main perempuan. Mabuk-mabukan dari miras hingga narkoba, sudah jamak bagi dia.

Semua itu dilakoninya dan orang tuanya tak pernah mengetahuinya.

“Ayah juga memberi uang saku yang sangat banyak. Mungkin karena saya anak tunggal ya. Apa pun yang saya minta, selalu dituruti,” kata Sueb.

Katanya, kedua orang tuanya hanya meminta agar dia nurut dan manut. Apapun yang diminta oleh ayah dan ibunya, pasti dia turuti. Pantang bagi Sueb untuk menolaknya, karena dia yakin hanya orang tuanya yang bisa memberikan materi dan kebahagiaan.

Hingga seusai dia lulus SMA, Sueb memilih untuk meneruskan kuliah di Kota Malang. Di sinilah petualangannya jadi makin liar.

 

 

Dengan kiriman uang saku yang selalu banyak, Sueb jadi raja kecil. Hampir tiap malam, dia melewati hari-harinya dengan senang-senang.

“Kalau gak dugem, ya pesta nyabu. Circle saya juga orang-orang yang sama. Jadi makin klop,” kata pria yang kini bekerja di sebuah perusahaan swasta tersebut.

Urusan perempuan, Sueb juga sering gonta-ganti pacar. Selain karena punya uang saku yang banyak,

Sueb sebenarnya punya wajah tampan. Maklum saja, ayahnya adalah ningrat Jawa. Sementara ibunya adalah warga keturunan Tionghoa blasteran Belanda.

Sehingga, Sueb sering didekati teman-teman wanitanya. Dan sudah beberapa kali pula dia berhasil merenggut mahkota para kekasihnya. “Bukan playboy juga sebenarnya. Tapi, karena atas dasar suka sama suka,” katanya.

Hingga pernah suatu ketika, Sueb berurusan dengan hukum. Tiba-tiba rumah kontrakannya digerebek polisi saat dia sedang nyabu bersama kawan-kawannya. Ada lima orang kawannya yang diamankan hingga Sueb sempat ditahan.

Kabar itu sampai juga ke orang tuanya yang jelas membuat ayah dan ibunya syok. Ibunya menangis dan menyesali kejadian itu. Sementara sang ayah sangat marah.

Singkatnya, berkat lobi-lobi dan koneksi ayahnya, Sueb dan kawan-kawannya tak jadi diproses hukum.

Konsekuensinya, Sueb harus rela mobil sedan kesayangannya, dijual untuk “membayar” para oknum aparat yang meminta uang haram agar kasusnya tak sampai ke meja hijau.

“Saat itu saya tidak masalah. Karena sebenarnya kuliah juga tinggal sedikit. Kalau sampai diproses hukum dan kampus tahu, pasti saya di drop out (DO).      Sueb komitmen hingga akhirnya dia lulus dan punya gelar sarjana teknik.

Seperti mahasiswa kebanyakan, Sueb lalu bekerja. Dia pun berkenalan dengan seorang perempuan yang ingin dijadikannya istri. Sebut saja saat itu namanya Siti. Seorang wanita saleha yang parasnya ayu.

Sueb dan Siti rupanya serius ingin menjalin hubungan. Mereka sudah merencanakan pernikahan. Sueb lalu disuruh menghadap ke calon mertua.

Tak disangka, calon mertuanya rupanya seorang tokoh masyarakat. Orang-orang bahkan menyebut calon mertuanya sebagai kiai kampung.

Sueb langsung dibuat bergetar saat dia diminta untuk menjadi imam salat Magrib. “Lha wong saya Alfatihah saja tak lancar. Ini malah disuruh memimpin salat. Mati aku,” katanya.

Untungnya Sueb punya alasan. Saat itu pakaian yang dikenakannya najis karena baru pulang dari kerja.

Secepatnya, Sueb pamit pulang dan selalu menghindar jika Siti mengajaknya ke rumahnya lagi.

Hingga saat bulan Ramadan tiba, Sueb kembali diminta datang untuk sowan ke rumah calon mertua. Dan lagi-lagi, Sueb selalu beralasan sibuk degan pekerjaannya.

Tapi, sepandai-pandainya tupai lompat, akhirnya jatuh juga. Orang tua Siti yang curiga, akhirnya ingin mencari tahu sendiri siapa Sueb.

Singkatnya, Sueb hendak makan di rumah makan di siang hari. Tanpa disadari, calon mertuanya dan Siti, membuntutinya. Maksudnya, ingin mencari tahu apa sebenarnya kesibukan Sueb.

Dan ketika Sueb masuk ke dalam warung, dia dipergoki sedang makan. Sueb tak bisa berkata apa-apa dan dia mengaku memang tak pernah puasa.

Semenjak itu, Siti tak pernah lagi menemuinya. Sueb pun jauh dari jodoh. Hingga saat ini, Sueb juga masih jauh dari agama. (fun)

Editor : Ronald Fernando
#playboy