ADA uang abang disayang. Nggak ada uang, abang ditendang. Klise tersebut, sepertinya pas untuk menggambarkan apa yang dialami Tejo (bukan nama sebenarnya, red).
Betapa tidak, saat uangnya melimpah, ia begitu disayang oleh istri keduanya.
Namun, ketika uangnya habis dan sakit-sakitan, ia malah diusir dari rumah sang istri.
Kisah pilu dialami Tejo, dimulai ketika pertemuannya dengan Surti (bukan nama sebenarnya, red). Tejo yang seorang duda, jatuh hati dengan paras ayu Surti.
Tak mau pujaan hati direbut orang, lelaki 45 tahun itu, datang untuk melamarnya. Bak gayung bersambut, Surti menerima. Singkat cerita, keduanya pun menjalin ikatan pernikahan.
Pesta kecil digelar di rumah Surti. Alunan lagu dangdut, menghiasi pesta pernikahan keduanya.
Manisnya pernikahan, dirasakan betul oleh Tejo, ketika awal membingkai rumah tangga dengan Surti. Tejo yang tanah warisannya terkena landasan jalan tol Gempol-Pasuruan, menjadi awal pemikat hati Surti.
Banyak uang. Apalagi, Tejo dikenal royal. Tak hanya membelikan perhiasan untuk pujaan hati. Rumah Surti yang semula kecil, dibangun bertingkat. Lantai dua. Tak hanya itu, ia juga membeli dua unit mobil. Suzuki Ertiga dan Kijang Inova Reborn.
Uangnya, tak lain dari hasil pembebasan lahan tol. Namun, indahnya pernikahan, hanya diawal. Karena dua tahun pernikahan, semuanya tampak berubah. Rumah Surti yang dibangun Tejo, bak neraka.
Surti sering marah-marah. Apalagi, ketika uang belanja habis. Tejo yang merupakan karyawan swasta, hanya bisa pasrah. Kondisi semakin parah, ketika ia mulai sakit-sakitan. Ada yang menyebut, ia diganggu orang.
Hal itulah, yang membuat Surti tak lagi menaruh cinta. Bahkan, Surti dengan tega, mengusir Tejo dari rumahnya. “Mobil saya sudah habis terjual semua. Saya juga tidak lagi bisa bekerja. Sejak itu, perlakuan istri saya, beda. Saya tidak lagi diharapkan di rumah. Saya akhirnya memilih pergi ke Banyuwangi, ke rumah saudara,” kisah Tejo.
Sejak itulah, ia hidup merana. Tidak lagi ada harta yang dimilikinya. Rumah peninggalan orang tuanya, juga sudah tak ada. Sehingga, ia hanya bisa hidup menumpang ke saudara.
“Sekarang, saya mencoba untuk menata hidup kembali. Semoga bisa menjadi lebih baik lagi,” tandasnya. (one/fun)
Editor : Abdul Wahid