Aisyah (bukan nama aslinya), ingat betul kejadian yang dialaminya pada 2019 silam. Ia kehilangan suaminya di tanah Papua. Sejatinya hal ini menyingkap luka mendalam yang sebelumnya sudah mulai dikubur olehnya.
“SESAK dada jika ingat kejadian itu. Tapi tidak apa-apa untuk berbagi pengalaman dengan masyarakat,” kata wanita yang sampai saat ini masih menjanda itu.
Aisyah dan suaminya memang sama-sama merantau ke tanah Papua. Satu tujuan mereka saat itu. Mereka ingin kondisi ekonomi keluarganya sejahtera.
Sebelum berangkat, mereka sudah tahu risiko yang akan dihadapi. Tapi tinggal dan berdiam diri di Probolinggo, rasa-rasanya akan sulit untuk mewujudkan impiannya Bersama sang suami.
Singkat cerita, Aisyah dan suaminya berangkat ke tanah Papua. Sayang, daerah ini diterpa kondisi yang kurang kondusif. Terjadi kericuhan dan sempat membuat gempar nusantara. Di situlah Aisyah kelhilangan suaminya.
Ia ingat harus berjalan, dan menumpang mobil dan motor petugas keamanan dan orang saat tragedi di Papua 2019 lalu.
Saat terjadi kerusakan di sebuah distrik meledak ke wilayah kota yang ada di Papua. Hal itu dilakukannya untuk mencari Subhan (bukan nama sebenarnya) suaminya yang saat itu tak dapat dihubunngi.
“Sore itu, suami masih bisa dihubungi. Namun setengah jam berikutnya, saat dicoba sudah tidak bisa. Suami kulakan barang ke pasar,” katanya.
Dalam komunikasi terakhirnya, Aisyah sempat berpesan kepada suaminya untuk berhati-hati saat kulakan barang untuk kebutuhan toko kecilnya.
Aisyah merasa khawatir karena tujuan suaminya dekat dari wilayah yang sedang terjadi kericuhan.
“Sebelum tidak bisa dihubungi, suami bilang kalau dekat dengan wilayah yang sedang konflik. Jadi saya was was, dan akhirnya lost kontak. Waktu itu saya kurang faham juga apa permasalahan kok bisa rusuh. Yang jelas orang Papua asli yang rusuh,” kenang Aisyah.
Saat suaminya tak dapat dihubungi, firasat seorang istri pun datang. Ia merasa sedang terjadi sesuatu pada suaminya.
“Akhirnya agak malam, saya dengar kabar sudah banyak korban. Karena khawatir saya coba mencari sendiri,” katanya.
Aisyah mulanya mendatangi rumah sakit di sekitar wilayahnya tinggal. Namun dia tidak menemukan suaminya. “Saya cari ke rumah sakit, rumah sakit pertama tidak ada,” katanya mengingat.
Tak mendapatkan hasil, akhirnya ia kembali mencari ke rumah sakit lainnya. “Saya datang ke dua rumah sakit lainya.
Tidak ada juga. Saya datang ke rumah sakit dengan nebeng petugas TNI dan polisi. Saya minta diantarkan,” bebernya.
Tapi di rumah sakit kedua, nihil hasil. Aisyah makin panik karena sang suami juga tidak menghubungi balik.
Dengan kondisi yang kelelahan, akhirnya Aisyah kembali ke rumah sakit pertama yang didatanginya.
Ia langsung menuju ke kamar mayat. Dan benar saja. Di ruangan yang berada di belakang rumah sakit tersebut, ia mendapati suaminya sudah tidak bernyawa. Tubuhnya bersimbah darah karena banyak luka bacokan.
“Tubuh ini rasanya ada yang merahkan ke kamar mayat. Saat itu saya melihat bagian tubuh salah satu jenazah yang tak ditutup terpal. Saya penasaran dan akhirnya membuka. Ternyata benar suami saya,” katanya.
Hal itu tentu membuatnya syok. Belahan hatinya sudah dalam kondisi tak bernyawa.
Aisyah akhirnya menghubungi kerabatnya yang juga merantau di Papua. Sampai akhirnya ia membawa jenazah suaminya keesokan harinya untuk dibawa ke Probolinggo. Kampung halamannya.
“Nasi sudah menjadi bubur, niat hati mengejar harta, ternyata pulang bukan membawa untung, malah nestapa suami meninggal,” katanya. (mu/fun)
Editor : Ronald Fernando