Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gagal Kuliah di Perguruan Tinggi Negeri karena Guru Teledor

Inneke Agustin • Sabtu, 21 Oktober 2023 | 16:10 WIB

 

Ilustrasi
Ilustrasi

 

Masuk ke perguruan tinggi dan bisa menempuh bangku kuliah adalah keinginan semua siswa setelah lulus SMA. Apalagi jika bisa masuk ke universitas idaman. Perjuangan apapun akan dihadapi demi meraih cita-cita.

 

ITULAH keinginan Friska, 24, (nama samaran). Saat dia masih duduk di bangku kelas 12 di salah satu SMK di Kota Probolinggo. Dia hunting info terkait pendaftaran kuliah. Teman-temannya juga banyak yang membahas universitas mana yang akan mereka tuju selepas lulus nanti.

Berbeda dengan Friska yang berlatar belakang dari keluarga yang kurang mampu. Meski ia tergolong siswi teladan di sekolahnya, namun dari lubuk hatinya dia sempat bimbang. “Karena saat itu saya masih memikirkan orang tua. Apakah mereka mampu untuk membiayai saya kuliah. Jadi saya pikir mungkin akan lebih baik bila lulus nanti, saya bekerja saja. Pikir saya begitu,” katanya.

Namun Friska mendapatkan dorongan dari para gurunya untuk meneruskan pendidikan. “Mungkin karena saya juara kelas waktu itu. Jadi mereka menganggap sayang bila saya tak meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi,” jelasnya.

Alhasil Friska menyampaikan hal tersebut pada kedua orangtuanya. Untunglah orangtuanya menyetujui. Friska mulai mempersiapkan berkas-berkas apa saja yang diperlukan. Hampir tiap hari Friska berkonsultasi ke guru BK nya.

Anehnya terkadang guru BK nya pun jarang update info terkait pendaftaran kuliah ini. “Jadi kadang masih sering miss. Dan akhirnya saya cari info sendiri. Beberapa kali harus telpon panitia pusat bahkan. Tapi tetap saya ikuti alurnya,” katanya.

Friska juga diarahkan untuk mengikuti jalur bidik misi oleh guru BK-nya. Sebab dengan mengikuti jalur tersebut, ada kesempatan mendapatkan beasiswa pendidikan. “Karena orangtua saya juga hanya buruh, tergolong tidak mampu. Jadi disarankan ikut bidik misi supaya dapat beasiswa saat itu. Tapi ya begitu, syarat-syaratnya se-abrek. Mulai dari fotokopi sertifikat kejuaraan hingga foto rumah. Sudah saya lengkapi semua,” jelasnya.

Ada dua jalur yang digunakan Friska kala itu. Jalun SNMPTN Bidik Misi dan PMDK. Untuk SNMPTN memang saat itu seluruh berkas hanya di-upload melalui portal elektronik. Di kesempatan SNMPTN Bidik Misi, Friska memilih S1 Teknik Sipil di sebuah politeknik ternama di Kota Malang. “Memang agak berbeda dengan kebanyakan dari teman-teman saya. Teman-teman saya banyak yang memilih S1 Pendidikan Teknik Sipil di universitas yang berbeda pula. Saya memang lebih ingin Sipil murni saja, bukan yang pendidikan. Karena saya pernah meraih juara di ajang kompetisi jembatan di Universitas Brawijaya, saya optimistis bisa diterima,” katanya.

Berbeda dengan PMDK yang saat itu juga memerlukan pengiriman berkas cetak. Friska telah mempersiapkan segala berkas dengan rapi. Mulai dari fotokopi rapor hingga sertifikat-sertifikat kejuaraan yang pernah ia menangkan. Semuanya juga telah dilengkapi legalisir dari sekolah.

Saat akan mengumpulkan di ruang BK, ia bertemu salah satu guru BK. “Lalu guru saya bilang, jangan dikumpulkan dulu ya. Deadline waktunya masih lama. Khawatir kalau dikumpulkan disini nanti malah hilang. Dibawa dulu saja. Nanti seminggu lagi kan sudah deadline, nah baru kumpulkan kesini lagi ya,” katanya.

Mendengar perintah demikian, Friska lantas membawa kembali berkas-berkasnya. Berkas itu sudah dimasukkan ke dalam map. “Sudah rapi dan lengkap. Tinggal kumpulkan saja sih,” katanya.

Seminggu kemudian, Friska kembali membawa berkas-berkasnya. Ketika akan mengumpulkan, tampak guru BK yang meminta Friska untuk membawa kembali berkas miliknya, tengah sibuk menata berkas-berkas murid lainnya. Tapi yang membuat Friska kecewa adalah ketika guru tersebut malah meminta Friska untuk mengirimkan sendiri berkasnya melalui pos ke politeknik tujuannya.

“Saya tidak tahu kenapa guru tersebut malah berbalik dan mengatakan demikian. Meminta saya kirim sendiri berkas tersebut. Padahal sudah jelas peraturannya bahwa semua berkas harus dikirim kolektif dan atas nama sekolah melalui rekom kepala sekolah. Kenapa berkas saya ditolak, sedang milik teman-teman saya diterima. Seketika saya sudah memiliki firasat bahwa saya tidak akan lolos PMDK saat itu. Karena persyaratannya administrasinya sudah tidak terpenuhi,” kata Friska sambil menunjukkan raut muka kecewa.

Meski mendapat penolakan sepihak saat itu, Friska masih berusaha untuk kirim berkasnya melalui pos ke alamat politeknik. “Tapi jujur hati saya sudah hancur saat itu. Saya tahu bahwa saya takkan lolos. Tapi mengirim berkas masih merupakan ikhtiar saya,” katanya.

Sebulan berlalu, hasil PMDK maupun SNMPTN sudah muncul. Di PMDK, tentu saja Friska tak lolos. Seperti dugaannya. Sementara di SNMPTN dirinya juga tak lolos. “Sebenarnya saya tak keberatan bila memang tidak lolos. Toh saya dari awal sudah memilih ingin bekerja terlebih dahulu. Cuma karena masih menghormati keinginan dari sekolah juga, ya apa salahnya dicoba,” katanya.

Hanya saja Friska kecewa adalah tanggapan dari guru BK yang sempat menolak berkasnya beberapa waktu lalu. “Guru tersebut malah berbalik mengatakan hal yang berbeda. Dia menuduh saya tidak mengumpulkan berkas tersebut. Padahal saya mengumpulkan, hanya saja ditolak. Dan saya mengumpulkan itu ada saksinya, teman saya. Saya kirim berkas itu ke kantor pos juga bersama dia. Eh malah dibilang saya yang tak mengumpulkan,” katanya.

Bahkan Friska sempat mendengar celetukan yang intinya menyalahkan pilihannya. “Ini untuk yang SNMPTN ya. Katanya pilihan saya untuk kuliah di universitas sebesar itu, terlalu tinggi. Makanya tidak lolos. Saya hanya tertawa dan heran mendengarnya. Namanya juga cita-cita ya harus tinggi dong. Apa salahnya bila kita memiliki keinginan untuk bisa belajar di kampus ternama. Saya pikir tidak ada salahnya,” kata Friska.

Meski begitu, Friska mensyukuri jalan hidup yang ditakdirkan untuknya. Dia tak kuliah, tapi dia berhasil dalam dunia kerja. Ia tergabung dalam kontraktor sebagai desainer. Hasil gambarnya sudah banyak digunakan untuk hunian, ruko, hingga kafe di dalam atau luar kota.

Friska mulai mengumpulkan pundi-pundi keuangannya dan menggunakan itu untuk mengejar cita-citanya lagi. Friska bahkan telah mendapat gelar S1 Hukum dari sebuah universitas lokal di daerahnya. “Saya tidak akan berhenti berusaha dan berkarya. Selama saya mampu, saya akan perjuangkan itu,” katanya.

Anehnya pula, adik Friska juga mendapatkan perlakuan serupa di sekolah yang berbeda. “Guru BK-nya teledor tidak kirim berkas di hari deadline. Alhasil portalnya sudah tertutup. Untunglah masih bisa dilobi. Jadi harapan saya untuk semua guru yang bertugas mengawal siswa siswinya ke jenjang perguruan, tolong betul-betul didampingi. Jangan teledor terkait info sekecil apapun. Selalu update info dan meneruskan semua info pada muridnya. Sehingga mungkin bisa mendongkrak jumlah murid yang diterima juga nantinya. Kan itu bisa kembali pada sekolah juga, nama sekolah juga akan terdongkrak,” katanya. (mg/fun)

Editor : Ronald Fernando
#gagal kuliah #pmdk #bidik misi