Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Buta karena Sejak Muda Doyan Tenggak Miras

Fandi Armanto • Sabtu, 14 Oktober 2023 | 14:35 WIB

 

Ilustrasi
Ilustrasi
 

Tiada hari tanpa mabuk-mabukan. Itulah masa muda Wagyo (nama samaran), 48.  Hobinya sedari remaja memang menenggak miras. Kebiasannya itu membuat penglihatannya mengalami kebutaan.

 

KATA dokter mata saya katarak parah. Saya mulai tak bisa melihat saat usia 35 tahun,” kata Wagyo.

Wagyo muda gemar menenggak khomer karena dia hidup di lingkungan yang salah. Bahkan sejak dia masih sekolah, Wagyo sudah hobi. Katanya, jika tak menenggak miras, rasanya ada yang kurang. “Mungkin karena dulu jarang hiburan,” beber Wagyo.

Celakanya, miras yang kerap dikonsumsinya adalah kategori receh. Mulai dari miras kelas “wong becakan”, arak hingga oplosan. Yang penting, kata Wagyo, bisa bikin kepala oleng. “Kadang malah beli alkohol murni dan dicampur dengan minuman energi,” katanya.

Kebiasaan itu dilakoni Wagyo sampai dia menikah. Bahkan saat dia sudah punya anak, hobinya itu tak surut. Justru makin menjadi. Padahal dari segi ekonomi, Wagyo sebenarnya orang yang tak berlebih. Dia hanya pekerja serabutan. Sementara mantan istrinya adalah karyawan pabrik.

Keluarganya, sebenarnya sudah seringkali mengingatkan. Apalagi, Wagyo pernah beberapa kali masuk rumah sakit karena saluran pencernaannya yang tak beres. “Pernah juga ada kawan yang meninggal karena pesta miras. Tapi saya tak pernah kapok,” katanya.

Sudah tak terhitung istrinya selalu ngomel ke Wagyo. Tapi pria yang sekarang menjadi tukang pijat itu, hanya menganggapnya angin lalu. “Waktu itu, mabuk pakai uang sendiri kok. Gak pakai uang gaji istri,” beber Wagyo.

Hingga sebuah kejadian membuat Wagyo tersadar. Suatu Ketika, Wagyo kembali pesta miras. Kawannya ada yang baru pulang dari pulau dewata dan membawa oleh-oleh arak. Jumlahnya cukup banyak. Kira-kira cukup untuk pesta sampai sepekan.

“Katanya arak yang terkenal. Namanya arak melon karena rasanya mirip jus melon,” beber Wagyo.

Dia tak ingat berapa sloki yang diminumnya. Wagyo hanya ingat, pesta miras itu digelar di dekat kuburan. Ada sekitar 10 kawannya yang ikut. Semuanya minum sampai kesadarannya menghilang. Wagyo dan kawan-kawannya “oleng”. Sampai menjelang subuh, pesta miras itu buyar. Waktunya Wagyo pulang.

“Tiba-tiba saat mau berdiri, mata saya blank. Tak bisa melihat. Saya sampai minta antar sama teman-teman. Tapi saat itu, teman-teman tak ada yang bangun,” katanya.

Alhasil, malam itu Wagyo menghubungi istrinya untuk minta dijemput. Tentu saja sang istri marah-marah saat tiba. Wagyo hanya bisa minta maaf lalu tidur begitu sampai di rumah. “Sampai rumah, mata tetap tidak bisa melihat sempurna. Saya kira mungkin karena efek arak,” bebernya.

Sampai keesokan harinya saat dia terbangun, Wagyo terkejut. Penglihatannya kabur. Untuk melihat jarum saja, dia tak bisa. Wagyo mulai panik.

“Saya minta dibuatkan asam hangat. Minum, terus tidur lagi. Tapi saat bangun kembali, mata masih belum bisa melihat. Masih remang-remang,” beber Wagyo.

Merasa ada yang aneh dengan dirinya, Wagyo lalu meminta diantar ke rumah sakit. Apalagi, ada rasa nyeri juga di perutnya. Wagyo sudah mulai ketakutan.

“Dokter lalu bertanya dan saya terus terang. Katanya, saya mengalami keracunan miras dan dampaknya ke mata. Seperti katarak tapi syarafnya sudah tidak bisa disembuhkan,” beber Wagyo.

Seketika itu Wagyo menangis. Apalagi saat dokter memvonis, penglihatannya tak akan kembali normal. Apa yang dialami Wagyo, ternyata juga dialami kawan-kawannya. Hanya, Wagyo yang paling parah.

Semenjak itu, Wagyo tidak lagi bisa bekerja. Wagyo yang biasanya kerap dipanggil menjadi tukang, jelas tak berani menerima panggilan jika ada yang membutuhkan tenaganya. Dia hanya bisa diam di rumah.

Kondisi itu menjadikannya stres. Sang istri sering memarahinya dan menganggap Wagyo tak berguna. Pertengkaran di rumah tangganya makin sering terjadi. “Saya seperti tak dianggap karena tak bisa cari nafkah. Istri sering memarahi saya dengan kata-kata kasar. Itupula yang membuat saya menceraikannya,” beber Wagyo.

Untungnya, Wagyo masih memiliki semangat. Dua anaknya yang menjadi semangat. Wagyo mulai belajar memijat dengan bermodalkan belajar dari tetangganya. Hingga kini memijat menjadi jalannya untuk mencari nafkah dan bertahan hidup.

“Memang saya menyesal. Saya tidak tahu nasib teman-teman yang doyan miras. Yang saya tahu sudah ada tiga kawan saya yang meninggal di usia muda. Belakangan saya juga tahu, arak yang saya tenggak terakhir, ternyata banyak korbannya karena mengandung methanol. Astagfirullah…” katanya menyesal. (fun)

Editor : Ronald Fernando
#miras oplosan #buta karena miras