------------------------------------------------------------------------------------------------------
NURUL Huda terlahir dari keluarga sederhana. Dia anak mbarep dari tiga bersaudara dai pasutri Alm Sutadji dan Nikmah. Kehidupan Nurul Huda sejatinya tak kurang-kurang amat. Sebab dia bisa menempuh kuliah dan punya gelar sarjana pertanian.
Di bangku kuliah inilah jiwa entrepreneur pria asal Dusun/Desa Karangsono, Kecamatan Sukorejo, terbentuk. Dia tidak sekedar masuk dan menempuh ilmu di kampus saja. Dia rela usaha sambilan sekalipun menjadi juru ketik. Menerima job dari temannya sesama mahasiswa untuk menggarap tugas kuliah, praktikum, skripsi dan sebagainya.
“Pas kuliah, jadi juru ketik untuk mengisi waktu luang biar tidak nganggur. Sama teman-teman dibayar makan, dan tetap saya syukuri. Minimal bisa menghemat uang saku, buat ditabung,” kata suami dari Uyun Nadiratul Faidah itu.
Sifat kerja kerasnya berlanjut hingga lulus kuliah. Kebetulan kala itu, masih membujang. Bapak empat orang anak ini memutuskan nekad kredit satu unit truk tangki, atas masukan M. Alim, kawan satu dusunnya yang kini menjadi Kades Karangsono.
Truk tangki dibelinya dengan kredit tersebut, mulanya untuk muat pupuk cair dari Kecamatan Rejoso ke Tulungagung. “Truk tangkinya saya sopiri sendiri. Beli kredit 1996 lalu dan berlanjut hingga sekitar dua tahunan,” tuturnya.
Tiga tahun berselang, Nurul memuutuskan menambah satu truk tangki lagi sehingga dia punya dua unit. Ini setelah truk tangki pertamanya yang dibeli kredit, sudah lunas.
Dari dua unit truk tangki, dia berhasil menambah satu truk serupa. Semenjak itu dia memutuskan untuk mendirikan PT Lancar Sejahtera Abadi (LSA). Di perusahaan itu, dia jadi direktur sekaligus ownernya.
Setelah punya tiga truk tangki dan perusahaannya berbadan hukum, dia tidak lagi menjadi sopir. Nurul mulai merekrut karyawan.
Nurul Huda tak puas. Meskipun sudah punya tiga truk tangki, dia tetap mencari kerja. Bahkan walau harus menjadi karyawan di KUD Sumberejo unit pabrik produksi rokok sigaret kretek tangan (SKT).
Meski begitu konsentrasinya tak pernah pecah. “Untuk truk sudah ada yang mengurusi. Saya hanya tinggal pantau dan mengarahkan saja sembari menjadi karyawan di pabrik produksi rokok SKT,” bebernya.
Saat bekerja sebagai karyawan di pabrik rokok SKT, Nurul Huda mengawalinya dari nol. Dia jadi karyawan biasa. Karena kinerjanya bagus, dia dipromosikan menjadi supervisor produksi. Hingga karirnya cemerlang karena tahun 2005 lalu dia diangkat menjadi direktur, yang dijabatnya hingga sekarang.
“Alhamdulillah, oleh almarhum H.M. Roeslan selaku pemilik perusahaan, mendapat kepercayaan sebagai direktur. Dari beliaulah saya diajari bisnis, termasuk direkomendasi ke bank untuk mendapat pinjaman guna mengembangkan usaha truk saya,” ungkapnya.
Meskipun sibuk sebagai direktur pabrik rokok SKT, ternyata usaha truk miliknya juga berkembang pesat. Bahkan menjadi perusahaan transporter besar. Dari awalnya hanya tiga truk tangki, sekarang armada truknya berjumlah hingga ratusan. Selain truk tangki, juga ada truk boks, truk engkel hingga tronton, dan kontainer.
Para pekerja atau sopirnya, dia rekrut dari beragam. Mulai tetangga di kampung, saudara, hingga orang luar yang berkompeten. “Usaha transporter saya melayani ekspedisi pengiriman rokok, makanan dan minuman, kemasan dan sebagainya. Kerjasama dengan PMA dan PMDN, melayani rute Bali, NTB, Jawa hingga Sumatera,” ucapnya.
Sebagai pengusaha, bukan berarti Nurul Huda tak pernah mengalami kendala. Bisnisnya pernah merugi hingga miliaran rupiah. Ini terjadi tahun 2010 lalu.
Saat itu dia pernah memproduksi pupuk organik. “Ternyata bisnis pupuk organik saya tidak berjodoh. Akhirnya kembali fokus dengan pekerjaan yang ada, yang jadi basic selama ini,” tuturnya.
Nurul Huda mengenang, selama ini dia tak pernah bercita-cita jadi pengusaha. “hanya saja sewaktu SD dulu, saya pernah melihat buku bertuliskan Big Bos. Setiap melihatnya, saya selalu berdoa dan saat dewasa menjadi kenyataan,” ungkapnya.
Dari suksesnya sebagai seoarang pengusaha seperti sekarang, ia bersama sang istri memiliki cita-cita mendirikan panti asuhan. Keinginan itu belum terwujud. “Mudah-mudahan bisa tercapai. Minimal bisa membantu dan meringankan anak yatim piatu,” katanya. (zal/fun) Editor : Ronald Fernando