Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Rela Makan Sehari Sekali demi Cita-Cita Jadi Dokter

Ronald Fernando • Sabtu, 4 Februari 2023 | 15:07 WIB
JALAN TERJAL: Dian Meiria di tempat praktiknya. Sebelum menjadi dokter, dia penuh perjuangan untuk mewujudkan cita-citanya. (Foto: Istimewa)
JALAN TERJAL: Dian Meiria di tempat praktiknya. Sebelum menjadi dokter, dia penuh perjuangan untuk mewujudkan cita-citanya. (Foto: Istimewa)
Menjadi dokter itu sulit. Ada anekdot, jika bukan karena sang ayah dokter dan punya rumah sakit, minimal harus punya banyak uang. Kalau beruntung dapat beasiswa. Ini pula yang dirasakan drg Dian Meiria. Dia berjuang keras untuk mewujudkan cita-citanya itu. Sekalipun harus makan sehari sekali.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

BIAYA pendidikan kedokteran memang tidak murah. “Tapi jika ada niat dan keinginan sungguh-sungguh, bisa diwujudkan,” kata Dian Meiria.

Sebelum menjadi dokter, dia lima tahun menempuh sekolah kedokteran di Universitas Airlangga Surabaya. Orang tuanya bukan dari keluarga kaya. Ayahnya, Hayat hanyalah karyawan perusahaan sementara ibunya. Sementara Tri Elia bekerja sebagai guru SD.

Sejak masih duduk di bangku SMA, dia sudah memiliki keinginan menjadi dokter. Dia ingin bisa menyembuhkan sakit yang dialami oleh orang lain. Bak gayung bersambut, kedua orang tuanya mendukung keinginannya itu.

Sebelum kuliah, dia menempuh pendidikan menengahnya di SMA Taruna Leces, Kabupaten Probolinggo. Saat duduk di bangku kelas 3, mayoritas temannya memilih Universitas Gajah Mada (UGM) Yogya. Namun, ia memilih Unair dengan pilihan pertama, kedokteran umum dan kedokteran gigi sebagai pilihan kedua.

“Saya memilih Unair karena tidak jauh dari rumah di Kota Probolinggo. Waktu itu saya ikut jalur reguler melalui seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB). Sebab jalur mandiri mahal, sudah ratusan juta,” ungkapnya.

Ternyata dia lulus di pilihan kedua pada 2006 silam. Karena keterima di jalur reguler, ia harus membayar uang gedung sebesar Rp 3,8 juta dan uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) Rp 700 ribu tiap semesternya.

Untuk SPP, orangtuanya masih bisa membiayai karena relatif terjangkau. Namun biaya pendidikannya yang tidak sedikit. Meitia masih ingat, dia harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk fotokopi materi saja. Apalagi materi kedokteran gigi itu cukup tebal.

Belum lagi, biaya praktikum yang mencapai Rp 500 ribu setiap semesternya. Sehingga ia pun harus pandai mengelola keuangan.

“Kalau butuh uang banyak untuk fotokopi, uang makan saya yang disesuaikan. Saat itu jatah sekali makan dibatasi Rp 10 ribu sehari. Mungkin kalau dikalkulasikan sekarang kira-kira Rp 30 ribu. Kadang ya makan sekali sehari,” katanya.

Meiria beruntung karena saat semester kedua, ia berhasil menerima beasiswa peningkatan prestasi akademik (PPA) sebesar Rp 1,25 juta. Uang ini langsung digunakannya untuk membayar SPP dan biaya praktikum. Ia puas karena bisa meringankan beban orang tua.

Pada semester tiga, istri dari Dian Prasetya ini sempat mencoba bisnis multi level marketing (MLM) untuk produk kosmetik. Ia diminta mencari member sebanyak mungkin sesuai target yang diinginkan. Ternyata, ia cukup berhasil di MLM ini.

Hasil yang diperolehnya ditabung dan digunakan untuk membiayai kebutuhan sehari hari saat kuliah. Sehingga, uang kiriman dari orang tuanya bisa digunakan untuk kebutuhan hidup selama di Surabaya.

“Ayah saya itu karyawan PTKL Leces. Kalau ibu guru SD. Saya bukan dari keluarga kaya, jadi harus pandai mengelola keuangan. Sebab biaya pendidikan saya tidak sedikit,” sebutnya.

Saat menempuh pendidikan di semester lima, ia mendapatkan kabar kurang menyenangkan. PTKL Leces yang jadi tempat ayahnya bekerja sudah mulai goyang. Di tahun itu pula, adiknya yang bernama Indra Eko Prabowo, butuh biaya besar untuk masuk kuliah.

Di saat yang bersamaan, wanita yang tinggal di Perum Mutiara Village, Kota Probolinggo ini harus menempuh koas kedokteran. Biaya yang dibutuhkan untuk program profesi mahasiswa kedokteran ini, cukup besar.

Ia harus membeli alat-alat kedokteran gigi yang tidak murah. Karenanya, ayahnya pun mengajukan pensiun dini.

Syukur saat itu, ayahnya berhasil mendapatkan uang pesangon sekitar Rp 100 juta. Uang ini digunakan untuk biaya kuliah adiknya dan biaya untuk membeli alat yang dibutuhkan selama koas.

“Tapi, ternyata biaya koas itu lebih banyak dari yang saya kira. Selama koas, kami harus cari pasien untuk bahan penelitian. Bahkan terkadang harus membayar agar orang itu mau jadi pasien,” terang Dian.

Ibu tiga anak ini pernah mendapatkan pengalaman kurang menyenangkan selama koas. Saat itu ia melakukan penelitian untuk kasus gigi palsu. Kebetulan, pasiennya yang ditemukan adalah seorang tukang becak.

Ia dan tukang becak itu memiliki kesepakatan, jika ia akan membayar sebagai ganti transport selama jadi pasien. Dari tahap awal sampai selesai cetak untuk gigi palsunya, pasien ini selalu datang.

Namun, ternyata saat gigi palsu ini sudah dikirim ke laboratorium, ia tidak mau datang. Akhirnya, perempuan yang praktik mandiri di Jalan Kyai Hasan Genggong Kota Probolinggo ini dibantu oleh temannya. Hingga tukang becak ini mau datang, tapi harus dibayar dua kali lipat.

Biaya koas ini luar biasa karena rata rata pasiennya minta dibayar. Sementara ia harus mencari kasus sebanyak mungkin.

“Kadang mengurangi jatah uang makan saya. Tapi, akhirnya bisa menempuh koas dengan lancar. Saya menempuh pendidikan kedokteran gigi selama 10 semester dan lulus pada 2011,” sebut Dian.

Dari pengalaman Meiria, siapapun berhak bermimpi setinggi mungkin. Meskipun orang itu bukan dari kalangan keluarga berada, namun boleh memiliki cita cita menjadi dokter. Yang terpenting baginya tekad dan kesungguhan.

“Bisa mengejar beasiswa prestasi. Pandai pandai mengatur keuangan. Menahan diri untuk membeli yang tidak perlu hingga kerja sampingan. Saya pernah ikut MLM untuk membantu biaya selama kuliah,” pungkas nya. (riz/fun) Editor : Ronald Fernando
#usaha transporter #pengusaha sukses