Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mulanya Sales Rokok, Rochmawan Jadi Bos Rokok

Jawanto Arifin • Sabtu, 21 Januari 2023 | 15:19 WIB
DARI NOL: Gaya Rokhmawan saat berlibur. Dia adalah pemilik PT RMS di Gempol. (Foto: H. Rochmawan for Jawa Pos Radar Bromo)
DARI NOL: Gaya Rokhmawan saat berlibur. Dia adalah pemilik PT RMS di Gempol. (Foto: H. Rochmawan for Jawa Pos Radar Bromo)
SEBELUM menjadi bos pabrik rokok ternama di Gempol, H Rokhmawan harus jatuh bangun. Dia paham betul kesuksesan tidaklah instan. Butuh tekad, ketekunan dan kerja keras untuk menggapai impian. Dia bahkan pernah 10 kali mendaftar jadi TNI dan semuanya gagal.

Dia tak mengira bisa meraih kesuksesan seperti sekarang. Karena sebelum menjadi bos rokok, ia pernah mengalami getirnya kehidupan. Demi untuk bisa mengurangi beban orang tua, ia bahkan harus rela mengganti waktu bermainnya untuk bekerja saat masih sekolah.

Kaji Mawan -sapaannya- mengaku, dirinya dilahirkan bukan dari orang yang kaya. Hidupnya sederhana. Bapaknya petani dan ibunya pedagang peracangan. Ia merupakan anak pertama dari lima bersaudara.

Sebagai anak tertua, ia memiliki tanggung jawab besar untuk terlibat dalam membesarkan adik-adiknya. “Saya tidaklah lahir dari orang yang berada. Orang tua saya harus bekerja keras banting tulang, untuk membesarkan saya dan adik-adik saya,” kisah lelaki kelahiran 4 Mei 1978 silam tersebut.

Beratnya beban yang dipikul orang tua, membuat hatinya tergerak untuk tidak menjadi anak yang manja. Mawan bertekad untuk bisa membantu orang tuanya. Supaya, beban mereka teringankan.

Karena itulah, sejak duduk di bangku SMP ia pun memilih untuk bekerja. Ketika teman-teman seusianya menghabiskan waktu untuk bermain ketika pulang sekolah, tidak demikian dengannya.

Ia pergi ke besali untuk membantu perajin perak. Di sanalah tempat “bermainnya”. Ia menyibukkan diri, dengan bekerja sebagai perajin perak. Aktivitas itu bahkan dilakoninya bertahun-tahun lamanya. Sejak SMP hingga SMA. Dari situlah ia bisa mengantongi rupiah.



Uang hasil kerajinan perak digunakan untuk berbagai kebutuhan. Bukan hanya untuk uang sakunya, tetapi juga untuk makan sekeluarga. “Dari memoles, ngamplas dan aktivitas lain di tempat perakan. Hasilnya, untuk meringankan beban orang tua,” kenang Mawan.

Lulus SMA, dia mencoba peruntungannya dengan mendaftarkan diri sebagai anggota TNI. Ia mengidamkan menjadi anggota TNI karena merupakan cita-citanya. Karena baginya akan tampak gagah ketika menjadi anggota TNI. “Jika menjadi anggota TNI, setidaknya perekonomian keluarga terbantu. Saya bisa membantu orang tua, untuk menghidupi adik-adik saya,” ungkapnya.

Namun tak mudah hal itu diwujudkan. Rentetan tes yang dilakoni, membuatnya gagal untuk memenuhi cita-citanya. Ia pun gagal saat mendaftarkan pertama kali sebagai anggota TNI.

Gagal yang pertama tak membuatnya menyerah. Ketika ada pendaftaran kembali dibuka, ia pun mencobanya lagi. Hasilnya sama. Lagi-lagi ia gagal untuk memenuhi impiannya.

Kegagalan yang kedua itu, tak juga lantas membuatnya menyerah. Buktinya, ia kembali mendaftarkan diri ketika ada perekrutan kembali untuk menjadi anggota TNI. Meski akhirnya, juga kembali membuatnya gagal.

Tercatat sudah 10 kali ia gagal untuk bisa lolos seleksi TNI. Mulai dari angkatan darat, laut hingga angkatan udara. Semuanya sama. Tidak membuatnya lolos untuk memakai seragam doreng.

Hingga akhirnya usianya tak lagi memungkinkan untuk menjadi anggota TNI. Ia pun benar-benar harus memupus impiannya. “Saya daftar TNI, sejak tahun 1996 hingga tahun 2000 lalu. Setiap ada pendaftaran TNI mencoba. Entah itu Angkatan Darat, Laut maupun Udara. Tapi, semuanya gagal,” tandasnya.



Mawan mengaku, sebenarnya ia sempat berpeluang menjadi TNI ketika pendaftaran yang kesembilan. Ketika itu ia dinyatakan lolos seleksi. Bahkan, surat penerimaan dari TNI sudah dikirimkan. Sayangnya, ia terlambat menerimanya. Sehingga, ia pun dinyatakan gagal.

“Waktu itu, suratnya dikirim ke Balai Desa. Saya baru menerima, ketika semuanya sudah terlambat. Akhirnya, kembali gagal,” imbuhnya.

Meski begitu ia tak menyerah. Buktinya ia kembali lagi mendaftarkan diri untuk menjadi TNI. Namun lagi-lagi ia memang tak dijodohkan untuk menjadi abdi negara. “Saya tidak putus asa. Karena memang, ada ustad atau kyai yang bilang, kalau basic saya bukan menjadi anggota TNI,” jelasnya.

Gagal menjadi TNI, ia pun memilih untuk bekerja seadanya. Pernah jualan peracangan membantu ibunya. Pernah pula menjadi kernet truk hingga pekerjaan lain, termasuk menjadi sales rokok.

Dari pekerjaan sebagai sales rokok itulah, ia mempelajari banyak hal tentang bisnis rokok. Layaknya makan, banyak orang yang membutuhkan rokok. Bahkan bagi sebagian orang, rela tidak makan asalkan bisa merokok.

Hal ini pun menginspirasinya untuk bisa mendirikan usaha sendiri. Perusahaan rokok. Ia mencoba peruntungannya dengan merintis bisnis rokok sekitar tahun 2003-an silam.

Tekadnya yang bulat membuatnya berani menerima risiko apapun. Termasuk pinjam modal ke bank dengan jaminan sertifikat rumah orang tuanya.



Ketika itu, ia mendapat suntikan dana sekitar Rp 20 juta. Dana itulah, yang kemudian digunakannya untuk memulai bisnis produksi rokoknya ditambah simpanannya dari bekerja sebagai sales rokok. Namun, memulai usaha tidaklah semuah yang dibayangkannya.

Usaha yang dirintisnya itu sempat dilanda kegagalan. Dia bangkrut lantaran masih awam dengan bisnis rokok yang sebenarnya. “Saya merugi lantaran ditipu orang. Bahan baku yang sudah saya pesan tidak dikirimkan, meski uang sudah saya setorkan. Saya jatuh bangkrut hingga rumah orang tua saya nyaris disita bank,” cerita bapak satu anak ini.

Hal itulah yang membuatnya akhirnya memilih untuk belajar kembali tentang bisnis rokok. Ia kembali menjadi sales rokok untuk memperdalam ilmu dan jaringannya. Serta mencari uang untuk bisa menjadi modal dan juga membayar cicilan bank.

Pelan tapi pasti, dia pun memiliki kecukupan modal. Dari modal itulah ia kembali menerjuni bisnis yang sempat dilanda kegagalan. Dia tak kapok untuk menekuni usaha rokok.

Awalnya memang kecil-kecilan. Hanya merekrut beberapa pekerja. Perusahaan rokok tersebut dirintisnya sekitar tahun 2006 silam. Hingga lambat laun, dia menemukan jalan untuk mengembangkan usahanya.

Sampai akhirnya usaha yang digelutinya itu terus berkembang pesat. Ribuan karyawan dimilikinya. Sederet mobil berjajar di parkirannya. Beberapa cabang pun dikembangkannya. Ia kini menjadi sukses dengan bisnis rokok yang digelutinya hingga sekarang.

“Sekitar 2007 silam, usaha terus ada peningkatan. Lambat laun, usaha rokok saya berkembang. Permintaan berdatangan dari luar pulau Jawa seperti Kalimantan dan provinsi lainnya,” paparnya.



Sebagai orang yang sukses seperti sekarang, ia pun tak pernah lupa dengan masa lalunya dulu. Dia tak mau disebut kacang lupa kulitnya. Karenanya ketika ada orang yang kesusahan, ia senantiasa membantu mereka. Sebab, dari situlah, kesuksesan itu akhirnya bisa didapatkan.

“Jangan lupa untuk membantu dan memberikan sebagian rizki yang kita miliki kepada orang yang membutuhkan. Karena dari situlah, rezeki yang kita miliki akan terus bertambah. Sukses pun akan didapatkan,” pesannya. (one/fun) Editor : Jawanto Arifin
#pt rms #perusahaan rokok #bos rokok