Tak sedikit bagi orang Jawa yang percaya, ujian sesungguhnya dalam rumah tangga adalah ketika membangun rumah. Ini juga yang diyakini Syaiful (nama samaran), 33, saat menghadapi banyak cobaan dalam rumah tangganya.
HAMPIR setengah tahun ini Syaiful resmi menduda. Surat cerainya bahkan baru resmi sekitar lima bulan lalu.
Tapi sudah setahun ini dia menjalani hidup menduda. Dia sendirian putri semata wayangnya setelah sang istri enggan untuk mengambil hak asuh dan memilih untuk pergi selamanya.
Semua itu bermula saat mantan istri Syaiful sebut saja namanya Dina, 30, memilih bekerja. Keputusan Dina untukikut mencari nafkah juga bukan tanpa alasan.
Sebab, hampir tiap bulan dia selalu mencari utangan ke saudara maupun tetangga. Itu semenjak gaji Syaiful yang harus dipotong bank.
Sejatinya, rumah tangga Syaiful dan Dina baik-baik saja pada mulanya. Mereka menikah setelah dijodohkan orangtua.
Perkenalan singkat itu membuat Syaiful tak mengetahui betul bagaimana karakter Dina dan orangtuanya.
“Saat itu usiaku sudah hampir masuk kategori bujang lapuk. Sudah banyak teman-teman di kampung yang menikah,” beber Syaiful.
Pria yang bekerja di sebuah tempat usaha di Kota Pasuruan itu, mau-mau saja. Selain wajah Dina yang parasnya manis, Syaiful juga senang karena pernikahannya bisa digelar cepat.
Dia bahkan hanya membelikan cincin dan seperangkat alat salat sebagai mahar. Pesta pernikahan kecil-kecilan, tak jadi soal buatnya.
Setelah menikah, Syaiful dan Dina tinggal di PMI alias pondok mertua indah. Alasannya, terutama ibu mertuanya, masih merasa Dina terkadang seperti anak kecil. Syaiful tak keberatan.
Apalagi rumah mertuanya juga masih ada kamar kosong yang tak lain kamar Dina sehari-hari.
Hingga setelah setahun menikah, riak-riak kecil rumah tangga Syaiful dan Dina mulai ada. “Mulanya hanya persoalan beras dan lauk pauk. Aku dan istri memang nunut untuk makan, tapi tiap bulan juga rutin kasih uang ke mertua. Malah kadang listrik di rumah, aku yang bayar,” beber Syaiful.
Persis setelah ayah Dina pensiun, riak-riak kecil itu makin menjadi. Semenjak itu, mertua Syaiful acapkali sering meminjam uang. Jumlahnya memang tak sedikit.
Tapi itu cukup mengganggu keuangan Syaiful. Di sisi lain, Syaiful ingin menabung supaya bisa segera membeli rumah sendiri.
Syaiful makin tak nyaman tinggal di rumah mertua. Singkatnya, dia memberanikan diri untuk membangun rumah. Dengan bekal tanah warisan yang berupa tegalan, Syaiful membangun rumah.
“Waktu itu terbilang nekat. Bayangkan saja, gaji tidak sampai Rp 3 juta, tapi utang ke bank sampai ratusan juta. Tapi kalau tidak segera bangun, bisa-bisa saya tak akan punya rumah seumur hidup,” terang Syaiful.
Persoalan bukan hanya sampai di situ. Selagi rumahnya dibangun, ternyata biaya yang harus dikeluarkan njepat alias diluar prediksi. Sebab sudah banyak bahan-bahan yang harganya naik. Belum lagi untuk ongkos kirim.
“Rumahku itu kan ada di dataran tinggi. Jelas ongkos kirim jadi lebih mahal,” kenang Syaiful.
Setelah membangun hampir empat bulan, uang Syaiful habis. Padahal rumah kondisinya masih 60 persen. Mau tak mau, dia harus menjual motor dan kambing lima ekor miliknya, yang dititipkan di pamannya.
“Motor harus terjual dan saya membeli motor second yang sebenarnya tidak layak. Mogokan. Tapi mau bagaimana lagi. Yang penting bisa dipakai untuk kerja,” kata Syaiful.
Walaupun sudah menjual asetnya, lagi-lagi uang untuk membangun habis. Syaiful dengan terpaksa top up ke bank. Harapannya, dia bisa menyelesaikan rumah agar bisa ditempati layak.
“Belum peluran tapi atap sudah ada. Akhirnya, rumah ya jadi. Tapi di sini masalah mulai muncul,” beber Syaiful.
Apalagi jika bukan karena gajinya yang hanya tersisa 20 persen. Syaiful dan Dina harus rela makan tempe dan tahu setiap hari. Begitupun dengan anaknya. Dia harus tutup kuping jika anak minta jajan.
Kondisi ini rupanya membuat Dina sedih. Beberapa kali dia mengutang ke saudara, hanya supaya beras di rumah bisa terbeli. “Sebenarnya salahku juga. Akibat memaksa untuk membangun rumah, istri juga jadi ikut kesusahan,” beber Syaiful.
Hingga suatu ketika, ada saudara Dina yang bekerja di Surabaya, datang ke rumahnya. Saudara itu lalu menawarkan Dina untuk ikut bekerja di Kota Pahlawan. “Katanya jadi babby sitter. Dina langsung setuju, tanpa memikirkan, bagaimana nasib anak di rumah,” kata Syaiful.
Sebagai suami, Syaiful sebenarnya sudah memintanya untuk tak berangkat. Tetapi karena sering melihat Dina bersedih, Syaiful jadi tak kuasa. “Masa mau makan tempe dan tahu sampai 10 tahun. Utangku baru lunas sekitar sepuluh tahun,” beber Syaiful.
Dina akhirnya berangkat ke Surabaya. Semenjak itulah Syaiful kerap menemukan keanehan terhadap istrinya. Entah mengapa tiba-tiba Dina mulai sering sulit dihubungi.
Dan tak disangka, Dina ternyata memiliki kekasih. “Kecantol sopir di rumah tempat dia bekerja. Semenjak itu dia minta cerai. Karena emosi, permintaan itu aku iyakan,” kata Syaiful.
Kini Syaiful harus sabar menghadapi hidup. Dia mendapat hikmah dan percaya, bahwa membangun rumah itu pasti ada ujiannya. “Ini juga sudah dilontarkan kedua orangtuaku. Mbangun omah iku kudu sabar,” beber Syaiful. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid