Cerita Yul beberapa waktu lalu cukup membuat gempar masyarakat Probolinggo. Wanita asal Dringu ini nyaris kehilangan anak yang dilahirkan dari rahimnya. Hanya gara-gara dia merasa tak sanggup untuk melahirkan dan membesarkannya.
Kisah dimulai ketika Yul bertemu dengan Nov. Yul merupakan seorang janda satu anak. Anaknya masih berusia 5 tahun. Pun demikian dengan Nov, dia adalah duda satu anak. Usia anak Nov sama dengan anak Yul. Sama-sama berusia 5 tahun.
Pertemuan singkat keduanya menumbuhkan benih cinta. Keduanya klik. Dan sama-sama pernah merasa dikecewakan dengan pasangan hidup. Sehingga menjadi janda dan duda.
Merasa ada kecocokan, Yul dan Nov memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Pada Maret 2021, keduanya memutuskan untuk nikah. Tapi, waktu itu, hanya nikah secara agama alias siri.
Dalam pernikahan yang masih seumur jagung itu, keduanya dikaruniai anak. Yul hamil anak dari Nov.
Namun, kehadiran buah hati malah membuat hubungan keduanya memburuk. Pasalnya, Nov masih belum siap dengan kehadiran buah hatinya. Sebab, anak dari pasangan sebelumnya, termasuk anak Yul dari pasangan sebelumnya, sama-sama masih kecil-kecil.
“Semenjak itu, kerap terjadi pertengkaran. Bahkan, pada saat kontrol usia dua bulan, Nov tidak mau menemani dan jauh sebelumnya meminta agar anak ini digugurkan,” kata Yul.
Lantaran tertekan dengan situasi, saat kontrol Yul sempat iseng bertanya kepada salah satu bidan mengenai prosedur menggugurkan janin. Namun, oleh bidan disarankan agar tetap dipertahankan saja.
Bahkan, bidan sempat memberikannya bantuan. Jika memang Yul tak mampu merawatnya, maka akan dibantu dicarikan orang tua yang mau mengadopsi anak tersebut. Dari sanalah lalu timbul kesepakatan bersama.
Menginjak usia kandungan masuk 9 bulan, rupanya ada kabar dari bidan yang membantu merawat bayi Yul di kandungan. Sang bidan menyebut bahwa ada orang tua yang mau mengadopsi anaknya.
Saat itu Yul mulai ragu. Namun, karena sudah ada kesepakatan dari awal, Yul hanya bisa pasrah.
Hingga tiba kelahiran anaknya. Usai melahirkan, selanjutnya Yul bersama dengan bayinya dipertemukan dengan si pengadopsi yang berasal dari Surabaya. Saat itu juga bayi tersebut dibawa oleh si pengadopsi ke Surabaya.
“Saat itu, sekitar bulan Agustus, pukul 10 malam, anak saya dibawa oleh yang mengadopsi ke Surabaya. Usai diserahkan, entah kenapa hati saya terasa sakit. Air mata saya tidak bisa dibendung. Semalaman suntuk saya menangis. Sehingga paginya saya minta agar bayi saya dikembalikan lagi,” ucap Yul.
Sayangnya, bidan yang telah membantunya tersebut tidak bisa berbuat banyak. Sebab, bidan tersebut hanya membantu Yul saja.
Merasa tak ada jalan keluar, Yul lapor ke polisi. Ia melaporkan ketiga bidan yang membantunya dengan dugaan adopsi ilegal. Sebab, setelah dicari tahu, rupanya proses adopsi seperti itu tidak benar. Harus ada putusan dari pengadilan terlebih dahulu.
Berbekal dari secuil pengalamannya, Yul pun memutuskan untuk tetap berjuang agar anaknya kembali. Meski ia sadar, ia salah karena telah membuat kesepakatan tersebut. “Setiap harinya hati saya sesak. Selalu teringat tangisan anak saya. Oleh karenanya, apapun yang terjadi, saya akan berupaya untuk bisa mendapatkan anak saya kembali,” katanya.
Proses pelaporannya pun tak berjalan singkat, bahkan ia harus bolak-balik mendatangi Polres Probolinggo guna menanyakan kabar lanjutan dari kasusnya itu. “Dari pihak Polres sudah dikasih tahu untuk sabar. Sebab yang terduganya banyak. Namun, namanya anak mas,” katanya.
Sejumlah mediasi dilakukan. Dan pada akhirnya ketiganya dikumpulkan di Polres Probolinggo. Baik Yul selaku ibu kandung, kuasa hukum dari tiga bidan yang dilaporkan, termasuk si pengadopsi asal Surabaya yang saat itu juga membawa bayinya.
Kasus ini mulai diselidiki kepolisian. Namun polisi mengedepankan jalan keluar. Agar tak sampai proses hukum.
“Hasil mediasinya berjalan lancar. Bayi saya akhirnya kembali. Dan yang adopsi pun baik. Dia tidak menuntut apa-apa,” kata Yul.
Yul pun bahagia saat kali pertama dia memluk bayinya lagi usai dua bulan tak bertemu. Perasaannya langsung luluh. Tanpa disadari air matanya keluar begitu saja. Bahkan ia juga mengucapkan terima kasih kepada orang yang hendak adopsi tersebut. Sebab selama dua bulan terakhir sudah merawat bayinya dengan baik. Bobotnya pun bertambah. Ia berjanji akan menjaga baik bayinya.
“Ini merupakan kesempatan kedua saya. Saya tidak akan menyia-nyiakan lagi. Saya tetap akan merawat bayi ini, apapun yang terjadi. Entah ayahnya mau atau tidak, saya sudah tidak memikirkanya. Sejauh ini saya sudah pisah rumah dengan ayahnya. Bahkan kontrol dua bulan hingga lahir dan terlibat kasus ini, ayahnya jarang ada untuk menemani,” katanya.
Ia berpesan kepada seluruh ibu yang ada. Jangan sampai hal tersebut terjadi pada lainnya. Penyesalan datang di akhir. “Kondisi ekonomi memang menyakitkan. Tapi kehilangan anak lebih menyakitkan. Dan lagi saya percaya, jika saya mau berusaha untuk anak, maka anak pun akan membawa serta mendatangkan rezekinya masing-masing,” tandasnya. (rpd/fun) Editor : Jawanto Arifin