PERAIRAN di Pasuruan menjadi spot yang menarik bagi pehobi mancing. Di sisi lain, perairan Pasuruan juga tak selamanya aman karena faktor cuaca. Tapi bagi para nelayan, pehobi mancing adalah ladang untuk mencari rezeki saat mereka harus libur melaut. Salah satunya menyewakan perahu bagi para pemancing.
Insiden perahu pemancing di perairan Lekok sampai saat ini masih menjadi tragedi. Ada lima pemancing yang akhirnya kehilangan nyawa dalam peristiwa yang terjadi di pertengahan Juli lalu. Tragedi itu bisa terulang lagi jika semua pihak abai.
Tapi tak semua orang menjadikan insiden di Lekok sebagai tragedi. Terlebih bagi pehobi mancing alias angler di laut lepas. Termasuk para nelayan di pesisir Pasuruan yang kerap jadi langganan bagi para pemancing. Mereka menganggapnya itu musibah yang sudah menjadi takdir.
Di Pasuruan sendiri, banyak spot perairan yang kerap dijadikan obyek untuk para pemancing. Selain di Lekok, di wilayah Kecamatan Nguling, Kraton, Rejoso dan di Pelabuhan Pasuruan juga jamak ditemui. Mereka menyewa perahu nelayan untuk berangkat ke banjang, atau memancing dari atas perahu.
Biasanya perahu nelayan yang dibuat untuk pemancing, memiliki ukuran antara 2 sampai 5 GT. Bahkan ada yang lebih. Nelayan yang menyewakan jasa perahu ini, jelas terbantu dengan angler.
Ini dibenarkan oleh Kepala Desa Wates Mahrus. Dia menyampaikan, sebenarnya perahu 3 GT dinaiki 50 orang sekalipun aman-aman saja. Dengan catatan lautannya sedang tenang.
“Saya sendiri juga pernah mengangkut barang berton-ton menggunakan perahu 3 GT. Kuat kok,” sampainya.
Memang kondisi ombak di perairan jadi faktor utama. Kata Mahrus, walaupun hanya satu atau tiga orang yang menaiki kapal dengan kondisi laut tidak tenang, menurut Mahrus, akan celaka juga.
Di wilayahnya sendiri, setiap mengantarkan pemancing, umumnya nelayan memberi tarif harga per orangnya 30 ribu. Biaanya uang jasa itu dibayar saat setelah mengantar pemancing.
“Tergantung antara pemilik kapal dan perahu. Mau bayar sebelum atau setelah memancing, bisa,” ujarnya.
Setelah menyewa perahu, mereka berangkat dari Pantai Pasirpanjang karena di perairan ini terdapat banyak banjang. Sebelum berangkat, para angler dari berbagai daerah ini menyewanya dulu dengan booking.
Kemudian mereka menyepakati jam dan hari apa untuk berangkat. Termasuk berapa orang yang akan memancing.
“Biasanya satu orang yang komunikasi yang sudah kenal dan langganan bagi nelayan. Temannya akan mengikuti. Semuanya begitu hanya melalui telepon,” ujarnya.
Memang selama ini, banyak nelayan yang menyediakan jasa ini, perahunya tidak dilengkapi pengaman. Namun terkadang, kata Mahrus, seringkali pemancing membawa pelampungnya sendiri. Terutama pemancing yang waswas di tengah lautan atau tidak bisa berenang.
Mahrus menyebut, nelayan juga sudah punya patokan sendiri. Misalnya apabila jika cuaca tidak bersahabat, maka perahu tidak akan berangkat. Pihak pemerintah desa juga sering mencegah pemancing yang memaksakan diri.
Nelayan sejatinya sudah tahu batas penumpang. Ini seperti yang diungkapkan Maskur, penyedia perahu pemancing lainnya. Kata dia, perahu yang disediakannya adalah lebih kecil daripada perahu Samudra, perahu yang terbalik di Lekok beberapa waktu lalu. waktu kejadian. Namun dia memastikan, orang yang menaikinya tidak melebihi batas atau overload.
Mayoritas kapal ukuran demikian antara 5 sampai 6 orang. “Biasanya memang mengantarkan ke banjang,” sampai pria asal Desa Jarangan, Kecamatan Rejoso tersebut.
Isinya lima sampai enam orang. Bedanya, tarif yang dikenakan Maskur, antara Rp 5 sampai 6 ratus ribu untuk sekali antar-jemput. Harga sewanya tergantung besar kecil perahunya.
Mengapa tidak menyediakan pelampung? Maskur menyatakan, selama ini tidak terpikirkan, tragedy di Lekok bakal terjadi. Apalagi pemancing membawa pelampung sendiri untuk berjaga-jaga.
Maskur juga selalu antisipasi dengan pengalamannya di lautan. Bila angin kencang, secepatnya akan kembali ke daratan.
Pemilik perahu lainnya yang tidak menyediakan pelampung adalah Saiful Islam, 33. Dia mengatakan, banyak pemancing menggunakan jasa jasa perahunya, lewat booking. Paling ramai saat weekend atau hari libur.
Bedanya, Saiful Islam biasanya menyewakan penuh perahunya seharian penuh. Bukan diantar ke banjang. Sistemnya, dia akan bersama pemancing selama sehari di tengah laut. Pagi hari berangkat dan sore pulang. Para angler membayar setelah tiba di daratan.
Sejauh ini dia tidak menyediakan pelampung, sebab pemancing sudah menyediakannya secara mandiri. “Banyak di toko-toko itu, biasanya ada pemancing yang membelinya dulu. Ada yang tidak,” katanya.
Sama seperti ucapan Mahrus dan Maskur, untuk mengantisipasi laka air, dia mengandalkan pengalamannya di laut. Dia mengaku bisa mengetahui kondisi angin dan ombak besar. “Feeling saja sih. Kalau perasaan gak enak, langsung ke daratan saja,” ujarnya.
Atas tragedi di Lekok, Maskur, Mahrus dan Saiful berharap kejadian serupa tidak akan terulang. Mereka juga sepakat, pengamanan perlu ditingkatkan. “Mengaca kejadian di wilayahnya kami akan tingkatkan keamanan bagi pemancing yakni menyediakan pelampung dan mengurangi penumpang kapal daripada sebelumnya,” ujar Mahrus, Kepala Desa Wates.
Perahu Overload adalah Pelanggaran Serius
Situasi dan kondisi cuaca sering diiinformasikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Informasi itu disampaikan tak hanya ke masyarakat luas. Tapi juga ke kelompok-kelompok yang pekerjannya berisiko seperti nelayan.
Di sisi lain, BPBD tidak bisa melarang nelayan untuk melaut. Termasuk saat nelayan menyewakan jasa perahu. Sebab pendapatan nelayan juga tak melulu mengandalkan dari melaut.
Sosialisasi masih menjadi andalan petugas untuk pencegahan hal yang tak diinginkan. Sosialisasi itu bukan hanya kondisi cuaca, tetapi soal muatan perahu. Di sinilah perlu peran kesadaran diri antara pemilik perahu atau nakhoda dengan para angler. Semuanya harus saling menjaga.
“Menjaga dalam arti saat cuaca buruk nahkoda melarang pemancing untuk keberangkatan ke tengah laut,” sampai Kalaksa BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi.
Kesadaran itu perlu ditanamkan pada nelayan dan pemancing. Lewat sosialisasi, cara ini diharapkan menimbulkan kesadaran terhadap masyarakat. Supaya insiden di Lekok tidak terulang kembali.
Memang, kata Sugeng, antara pemancing dan nahkoda tidak bisa menerima begitu saja sosialisasi dari petugas. Karena pemancing lebih mengedepankan hobi, sementara nahkoda jelas butuh pemasukan.
Tapi kesadaran untuk saling menjaga, harus dikedepankan. Misalnya, nakhoda atau pemilik perahu, selalu memerhatikan kondisi cuaca. Bahkan juga pemancing. Jika memburuk, jangan terlalu memaksakan. Termasuk soal ukuran perahu atau kapal, janganm sampai melebihi batas atau overload karena akan membahayakan dengan risikonya bisa kematian.
Pernyataan yang sama dengan Kasat Polairud Polres Pasuruan Kota AKP Edy Suseno. Selama ini pihaknya selalu melakukan patroli di wilayah hukumnya. Pihaknya sudah biasa melakukan pendekatan dengan nelayan, baik di wilayah kota maupun kabupaten.
Patroli ini untuk mencegahan di perairan Pasuruan. Mulai dari pelanggaran alat tangkap dan lainnya. “Kami juga akan sosialisasi terhadap nelayan-nelayan yang sering memberangkatkan pemancing,” katanya.
Nah, berkaca dari tragedi di perairan Pasirpanjang di Lekok, dia lebih menitikberatkan terhadap perahu milik nelayan. Termasuk insiden yang dialami perahu Samudra yang saat itu dinaiki hingga 21 orang. Padahal perahu ini hanya bermesin 3 GT dan maksimal untuk 5 penumpang. Praktis saat cuaca memburuk, bahaya akan lebih rentan terjadi.
Bila sosialisasi sudah digencarkan namun masih ada yang melakukan hal yang sama seperti di Lekok, maka kepolisian akan mengutamakan aturan. Terlebih bencana atau kecelakaan laut ini sampai menyebabkan orang meninggal dunia. Jelas ada yang bisa dikenai sanksi pidana.
“Perahu yang overload bisa dikenakan sanksi pidana, terutama jika menyebabkan kecelakaan atau kerugian yang signifikan,” sampainya.
Ini sesuai dengan UU Pelayaran Undang-Undang nomor 17 tahun 2018 tentang pelayaran. Di dalamnya mengatur sanksi bagi nahkoda yang melayarkan kapal dalam kondisi tidak laik laut, termasuk karena kelebihan muatan. Jika nahkoda dengan sengaja melayarkan kapal yang overload dan menyebabkan kecelakaan atau kerugian, ia bisa dikenakan pidana penjara dan denda.
“Intinya, overload pada perahu atau kapal adalah pelanggaran serius yang dapat berujung pada sanksi pidana. Terutama jika mengakibatkan kecelakaan, kerugian, atau korban jiwa,” ujarnya.
Tak Bisa Gantikan Sensasi di Laut
Bagi para angler, spot perairan punya tantangan tersendiri saat mencari ikan. Ada sensasi berbeda saat memancing ikan dari laut langsung, meski risikonya lebih besar daripada memancing di tambak atau sungai. Bahkan harus rela berjam-jam terombang-ambing ombak atau duduk di banjang terkena panas matahari selama berhari-hari.
Ada sensasi tersendiri saat memancing di laut lepas. Di laut lepas bisa mendapat luang berbagai jenis ikan. “Berbeda dengan mancing di sungai atau danau. Mungkin hanya ikan kecil,” ujar Cahyo Fajar, salah satu pehobi mancing asal Kelurahan Petamanan, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.
Pria yang pernah menjadi Ketua Komunitas Mancing Mania Pasuruan tahun 2019 – 2020 ini menjelaskan, memancing di laut memang penuh akan risiko. Tetapi ini bisa diminimalisir dengan persiapan yang matang.
Saat memancing di laut dan menyewa jasa perahu nelayan, pemancing seperti dirinya selalu membawa alat pengamanan. Seperti pelampung atau safety. Sebab tak semua nelayan menyediakan alat tersebut. Apalagi jika terjadi perahu terbalik karena terombang-ambing karena ombak, seseorang ytidak akan kuat berenang selama berjam-berjam di tengah laut.
“Minimal kita membawa alat sendiri. Jangan hanya alat pancing. Tapi keselamatan juga harus terjaga. Karena walaupun bisa berenang pun tidak akan sanggup berenang berjam-jam di tengah laut dengan ombak yang tinggi,” ujar pria yang juga menjabat Sekretaris di Disperkim Kabupaten Pasuruan.
Selain alat keselamatan, yang perlu diperhatikan adalah kondisi cuaca. Karena sepengalamannya memancing, cuaca tidak bisa diprediksi. Pagi cerah dan angin rendah. Namun bisa berubah saat siang hari. “Tiba-tiba angin berhembus kencang dan menimbulkan ketinggian ombak,” ujarnya.
Untuk itu yang pasti dilakukan sebelum keberangkatan adalah memastikan cuaca melalui aplikasi BMKG dan aplikasi lainnya. Di sana sudah bisa diprediksi pada hari yang sudah ditentukan akan alami cuaca buruk.
Walaupun aplikasi BMKG dan lainya kadang tidak sesuai, minimal yang perlu dilakukan adalah sebelum keberangkatan intens berkomunikasi bahwa mereka akan ke tengah laut. Sebab di tengah laut sering tidak ada signal. Jadi mau apa jika susah.
Dengan begitu seandainya terjadi insiden, maka orang akan tahu di mana lokasi mereka.
Seorang angler juga harus bisa bekerjasama dengan nakhodanya. Jika cuaca buruk, jangan terlalu memaksakan. Segera kembali saat menimpa.
Cahyo pun punya pengalaman buruk saat memancing di laut. Yang paling membekas dalam ingatannya ketika memancing di perairan Desa Sepuluh, Bangkalan Madura. Baru tiba di lokasi mencing (tengah laut) ombak menghantam setinggi 5 sampai 6 meter.
“Untung saya selamat. Langsung balik ke daratan dan langsung pulang. Tidak kembali melaut walaupun sudah bayar,” ujarnya.
Dia juga pernah memancing di laut selatan. Ceritanya sama, baru mancing selama satu jam, ombak langsung menerjang. Tanpa basa-basi, dia segera meminta balik dan mendarat. “Karena utamakan keselamatan daripada kesenangan. Kalau cuaca damai ya mancing sepuasnya,” ujarnya.
Dari tragedi di Pasirpanjang, Desa Wates, sebagai angler, dia menyebut pasti tidak akan menaiki perahu tersebut. Angler berpengalaman sudah tahu bagaimana kapasitas dari perahu yang akan ditumpangi. Mereka juga harus berani menolak untuk berangkat, bila pemilik perahu memaksakan.
Senada disampaikan pemancing lainnya, Taufik Suyitno. Memancing di laut punya peluang untuk mendapat ikan besar. Walaupun lama, pemancing akan sabar menunggu. Apalagi saat sudah strike, dan daya tariknya begitu besar yakni ikan besar sesuai harapan. Itu akan menjadi kesenangan tersendiri bagi pemancing.
“Sensasinya lebih besar mas. Kalau di sungai ikan itu-itu saja,” sampai pria yang juga anggota Satlantas Polres Pasuruan Kota.
Diapun membenarkan banyak spot mancing di laut Pasuruan. Mulai dari Rejoso berangkat dari muara Desa Jarangan, di Lekok di Dusun Pasirpanjang, Desa Wates, termasuk di Panggungrejo wilayah Pelabuhan Pasuruan. Namun dia memastikan, setiap kali menggunakan jasa perahu nelayan, keamanan harus diutamakan.
Pemancing lainnya Risky, 26, juga setali tiga uang. Bagi dia, taka da yang mengalahkan sensasi memancing di perairan lepas. Tantangannya lebih besar pula, tapi saat terombang-ambing dengan ombak, justru letak kesenangannya.
Namun feelling pun juga harus dijaga. Jika ombaknya semakin besar dan besar, pemancing haruslah lekas kembali ke daratan. Jangan sampai memaksakan tetap memancing. “Memancing memang menyenangkan, tapi utamakan keselamatan juga,” katanya. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid