Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Air Terjun Coban Centong Ditutup untuk Wisata

Jawanto Arifin • Senin, 20 Juni 2022 | 22:45 WIB
DITUTUP: Air terjun Coban Centong yang kini ditutup. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
DITUTUP: Air terjun Coban Centong yang kini ditutup. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
WISATA Coban Centong yang melewati hulu Coban Kebo Glundung sejatinya pernah dijadikan tempat wisata resmi. Tempat ini pernah dibuka pada 2019.

Kala itu, tempat wisata ini dikelola LMDH Sobowono bekerja sama dengan Perhutani KPH Prigen. Pengunjung yang masuk pun ditarik tiket resmi nilainya Rp 5 ribu.

Tepat 26 Agustus 2020, perjanjian kerja sama antara LMDH Sobowono dan Perhutani berakhir. Kontrak itu tidak diperpanjang lagi. Salah satu penyebabnya, karena saat itu terjadi pandemi Covid-19. Karena itu, sejak Agustus, Coban Centong resmi ditutup dan belum dibuka sampai sekarang.

“Selama resmi dijadikan sebagai tempat wisata, tidak pernah ada kejadian orang jatuh dan tewas dari air terjun ini. Para korban yang jatuh dan tewas justru semuanya terjadi saat wisata ini tidak dibuka alias tutup,” jelas Slamet Subagio, staf Perhutani RPH Prigen.

Begitu Coban Centong ditutup, menurut Slamet, tidak ada satupun petugas dari Perhutani yang standby atau berjaga di gapura masuk wisata ke Coban Centong. Perhutani bahkan mengembalikan fungsinya seperti semua. Yaitu, hutan pinus dan aneka tanaman lainnya. Kembali difungsikan segai hutan membuat kondisinya tetap alami. Satwa liar banyak ditemukan. Seperti kera, aneka burung, ayam hutan, dan lain-lain.

Setelah ditutup, Perhutani lantas memasang banner larangan berkunjung ke Coban Centong. Bahkan, bersama warga Perhutani memasang pagar bambu dan kawat berduri agar warga tidak bisa masuk.

“Jadi setelah ditutup, kami pasang banner larangan masuk. Kami juga pasang pagar bambu dibantu warga agar tidak ada yang masuk. Ini bentuk antisipasi. Kalau ternyata masih ada yang masuk, berarti memang nekat. Dan saya pastikan bukan warga Prigen,” tegasnya.



Yunus Haddy Key, ketua RT setempat di Lingkungan Pesanggrahan, Kelurahan/Kecamatan Prigen menambahkan, sempat ada dua buah warung semipermanen di dekat gapura masuk. Namun, dua warung itu lantas tutup bersamaan dengan ditutupnya wisata ini.

Selama Coban Centong ditutup, warga sekitar pun melarang pengunjung yang kedapatan naik. Warga biasanya langsung menegur pengunjung yang hendak naik dan diminta kembali.

“Rata-rata yang ke sana itu nekat dan sembunyi-sembunyi. Tapi, kalau ketemu warga pasti langsung disuruh balik. Walaupun mereka biasanya seringkali mendebat dan banyak dalih,” ucap Key -sapaan akrabnya-.

Perhutani sendiri ke depan, menurut Slamet Subagio, staf Perhutani RPH Prigen, belum akan membuka kembali wisata Coban Centong ini. Harapannya agar tidak ada lagi korban jiwa. Sebab, selama 11 tahun terakhir sudah ada empat orang yang jatuh dari Coban Kebo Glundung dan meninggal.

“Kami sepakat dan menyetujui saran dari Polsek Prigen. Mendingan tutup terus. Karena memang rawan dan jalannya licin,” ungkapnya.

Andai ke depan dibuka lagi, maka harus ada pengawasan dan pengamanan ekstra. Selain itu, akses jalannya harus diperbaiki.

“Dua hal itu harus diperhatikan betul. Kalau belum bisa memenuhi keduanya, lebih baik tidak usah dibuka lagi. Ditutup saja,” lanjutnya.



Arno Subali, seorang tokoh masyarakat di Lingkungan Pesanggrahan, Kelurahan/Kecamatan Prigen menuturkan, sejauh ini, Perhutani, LMDH, dan warga sekitar telah melakukan langkah antisipasi. Termasuk peduli dengan keberadaan dua coban tersebut.

Saat ditutup, warga tidak hanya ikut memasang banner dan pagar bambu di akses masuk yang ada di dalam. Warga juga ikut menegur dan melarang pengunjung dari luar yang kedapatan masuk ke wisata Coban Centong.

“Karena kalau ada apa-apa, lapornya kan ke warga sekitar. Termasuk kalau ada orang jatuh, warga di sini kompak turun ke lapangan mencari korban bersama BPBD, Polsek, dan Koramil Prigen,” tegasnya.

Arno pun sepakat Coban Centong ditutup saja. Sehingga tidak ada pengunjung luar yang masuk. Dengan demikian, juga tidak ada pengunjung yang main di Coban Kebo Glundung.

Sebab, medan atau akses jalan curam, juga terjal dan licin. Belum lagi saat musim hujan, lokasi ini rawan longsor dan banjir. Di sisi lain, pengawasan dan pengamanan yang belum maksimal selama ini untuk pengunjung. Sehingga rawan terjadi musibah.

“Memang untuk mengeskploitasi sangatlah mungkin sebagai tempat wisata. Seandainya ada sinergi antara masyarakat desa hutan, Perhutani, juga dinas terkait,” ujarnya.

Apalagi, Coban Kebo Glundung memiliki pemandangan yang indah dan masih alami. Lalu, ketinggiannya mencapai 151 meter. Menjadi air terjun tertinggi di Kabupaten Pasuruan.



“Pokoknya ini paling bagus kalau dilihat dari sisi eksotikanya. Tapi, untuk wisata sejauh ini memang belum layak. Karena medannya rawan dan membahayakan,” tuturnya. (rizal fahmi syatori/hn) Editor : Jawanto Arifin
#air terjun coban kebo glundung #wisata pasuruan #wisata prigen