Trend motor custom terus dicintai. Sejauh ini makin marak yang mengemari. Termasuk muda-mudi. Tampilannya yang keren dan tidak pasaran, menjadi daya tarik tersendiri.
Kecintaan terhadap dunia motor, bisa membuat seseorang rela merogoh kocek dalam-dalam. Terutama agar dapat mengubah tampilan motornya menjadi seperti yang diinginkan.
Di kota-kota besar sudah banyak garage yang menawarkan jasa modif motor. Bahkan, mereka sudah punya lisensi resmi. Aliran untuk modif motor ini beragam. Di anatranya, ada café racer, bobber, chopper, dan beragam lainnya.
Salah satu penggemar motor custom adalah warga Kecamatan Kanigaran, Kabupaten Probolinggo, Gede Maulana. Ia mengaku menggemari motor custom, karena tampilannya yang tidak mudah tergerus zaman alias timeless, sehingga bisa dipakai sampai kapanpun.
Pria yang akrab disapa Lana ini, mengaku awalnya mengtahui trend ini dari media sosial. Ketika masih duduk di bangku kuliah. Namun, baru bisa merealisasikan kegemarannya pada 2022.
“Suka karena timeless. Kalau motor biasa, sekarang trend, tapi nanti tahun berapa sudah hilang trendnya,” katanya.
Menurutnya, menggarap motor custom butuh perjuangan. Tak hanya harus mencari bengkel yang benar-benar terpecaya, namun juga harus menyiapkan anggarn yang tak sedikit. Meski cukup sulit, kata Lana, usaha tersebut akan sebanding dengan hasilnya.
Kali pertama Lana memodifikasi motornya dengan aliran café racer. Ia rela menghabiskan puluhan juta rupiah dan menunggu 3 bulan untuk mendapat hasil yang sesuai. Ia bahkan jauh-jauh mengirimkan motornya ke garage luar kota.
“Baru kesampaian pada 2022, karena masih harus nabung dulu,” ujarnya.
Terkait biaya custom motor, kata Lana, beragam. Antara belasan sampai puluhan juta rupiah. Tergantung permintaan user. Di Probolinggo, penggemar motor custom cukup banyak. Mereka ada yang tergaung dalam komunitas.
Lana juga banyak menjumpai pengguna motor custom meski belum masuk komunitas motor. Katanya, ini menandakan trend motor custom di Probolinggo, sudah mulai banyak.
“Di jalan saya sering ketemu, sepertinya memang banyak yang suka ya, mungkin sudah bagian dari lifestyle mereka,” ujar pria 29 tahun ini.
Motor cutom merupakan motor yang diubah drastis penampilannya. Baik dari segi rangka, bodi, atau mesinnya. Tak heran, bila biaya yang dikeluarkan bisa lebih besar dibanding membeli motor baru.
“Motor custom merupakan bentuk ekspresi pribadi pemiliknya. Serta, perwujuddan dari kreativitas dan identitas mereka,” ujar salah salah seorang pencinta motor custom asal Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Rokhim.
Menurutnya, memilih motor custom harus siap lahir batin. Selain anggaran yang bisa membengkak, perawatannya juga perlu modal gede.
“Tapi, biasanya pecintanya sudah siap. Memang harus pandai-pandai nabung kalau dana pas-pasan,” katanya. (mg/rud)
Tetap Patuhi Aturan Lalu Lintas dan Norma
MOTOR custom tak hanya nyaman digunakan untuk jalan-jalan. Ketika berangkat bekerja, juga nyaman ditunggangi. Meski kadang membuat lebih mudah capek.
“Karena memang sudah bagian dari kesukaan saya, ya saya pakai tiap hari. Kadang capek sih pundak, itu kekurangannya,” ujar Gede Maulana.
Menurutnya, modivikasi motor tetap aman secara hukum asalkan sesuai standart. Seperti tidak memakai knalpot brong dan memastikan surat-surat kendaraannya lengkap. Karena itu, hendaknya memilih bengkel yang sudah berlisensi, agar tetap memperhatikan keamanan pengguna.
“Aman sih asal pakai bengkel yang memang berlisensi. Selain itu, warnanya juga ikut dengan motor asli jangan diubah. Surat-suratnya harus lengkap,” ujarnya.
Meski ingin terlihat keren, kata Lana, peraturan lalu lintas harus tetap ditaati. Begitu juga dengan norma-norma di masyarakat.
Katanya, stigma terhadap klub motor menurut pandangan masyarakat masih buruk. Ia menekankan bahwa klubnya hanyalah komunitas pencinta motor custom, bukan sekomplotan orang yang kerap bikin gaduh.
“Kami hanya komunitas pecinta motor custom saja, bukan untuk bikin gaduh. Stigma itu yang ingin kami hapuskan,” ujarnya.
Bahkan klub motor yang diikutinya aktif dalam kegiatan sosial. Seperti menggelar bakti sosial di panti asuhan dan sering bagi-bagi takjil ketika Ramadan.
“Karena masih baru, kegiatan sosialnya hanya ke panti asuhan di daerah kota dan bagi-bagi takjil,” katanya. (mg/rud)
Editor : Ronald Fernando