SEBUAH kafe berkonsep unik dibuka di Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Kafe ini mengusung tema vernakular. Mengadopsi desain joglo yang merupakan rumah tradisional khas Jogjakarta.
Arsitektur vernakular sebenarnya sudah dikenal sejak 1800-an. Konsep vernakularisme dalam bangunan muncul dalam bahasa Inggris sejak 1600-an. Sementara, istilah arsitektur vernakular secara spesifik mulai digunakan pada 1818. Ketertarikan para arsitek terhadap penggunaan vernakular dalam teori arsitektur mulai terlihat pada awal abad ke-20.
Pada 1964, sebuah pameran foto tentang arsitektur vernakular bernama "Architecture Without Architects" diadakan di Museum of Modern Art (MOMA) New York. Pameran ini menjadi titik penting dalam pengakuan arsitektur vernakular dalam dunia arsitektur tinggi. Diselenggarakan oleh Bernard Rudofsky, pameran ini bertujuan untuk memasukkan arsitektur vernakular ke dalam kategori beaux-arts.
Frank Lloyd Wright menggambarkan arsitektur vernakular sebagai bangunan yang berkembang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sesuai lingkungan setempat. Dibangun oleh individu yang memahami kebutuhan tersebut dengan baik.
Arsitektur vernakular dipengaruhi berbagai aspek. Mulai perilaku manusia hingga kondisi lingkungan yang menyebabkan variasi bentuk bangunan sesuai dengan fungsinya. Istilah vernakular berasal dari bahasa Latin vernaculus, yang berarti domestik atau pribumi, sementara verna berarti budak pribumi.
Pemilik kafe, Achmad Mustain Nawawi, 47, mengatakan, konsep awal kafe diperoleh dari sang anak yang tengah berkuliah di Jogjakarta. “Katanya di sana banyak kafe semacam ini dengan menu-menu yang ramah di kantong. Terutama bagi para pelajar, sehingga anak saya ingin membuka kafe serupa di Kota Probolinggo,” katanya.
Selain dari bentuk arsitektur kafe, menunya dibuat dengan cara-cara yang tradisional. Seperti kopi, tidak menggunakan mesin ekspreso, namun masih diproses dengan cara ditumbuk menggunakan lesung. Ini menghadirkan aroma kopi yang khas. Berbeda dengan kopi yang digiling menggunakan mesin.
“Aroma kopi akan tetap terjaga bila dihaluskan dengan cara ditutu. Terlebih kopinya menggunakan kopi khas dari daerah Krucil, Kabupaten Probolinggo, kopi nangka. Termasuk susunya juga dari daerah Krucil, sehingga murni tanpa ada bahan pengawet,” jelas pria yang akrab dipanggil Mus ini.
Mus mengatakan, arsitektur kafe banyak menggunakan kayu-kayu bekas. Baik sebagai struktur bangunan ataupun interior. Mayoritas kayunya menggunakan jati. Bahkan, rak penyimpanan dan meja pemesanan terbuat dari kayu. Mus juga menambahkan papan pintu gebyok di belakang kafe. Ini berfungsi sebagai pemecah angin yang terlalu kencang masuk ke dalam area utama kafe.
“Kayunya dari mengumpulkan sedikit demi sedikit. Kemudian di desain sesuai keinginan. Lalu, saya gambar. Hasilnya saya serahkan pada mertua. Kebetulan mertua saya perajin kayu, sehingga bila butuh kursi atau meja bisa langsung pesan,” katanya. (gus/rud)
Ciptakan Suasana Autentik
SEBUAH desain bangunan selalu memiliki ciri khasnya tersendiri. Bahkan, setiap ciri khas ini akan memberikan identitas yang membedakan gaya arsitektur satu dengan gaya arsitektur lainnya.
Arsitektur vernakular merupakan istilah yang juga merepresentasikan arsitektur primitif atau asli, arsitektur adat, arsitektur leluhur atau tradisional, arsitektur pedesaan, arsitektur etnis, arsitektur informal, atau arsitektur tanpa arsitek.
Pada arsitektur vernakular proses pembangunannya tidak menggunakan bantuan tenaga ahli ataupun teknologi modern. Selain itu, arsitektur vernakular hanya memanfaatkan bahan bangunan tradisional yang ditemukan di daerah tersebut. Selain itu, bahan alam yang digunakan dipastikan tidak akan mengganggu ekosistem yang ada.
“Seperti yang dilakukan oleh pemilik kafe. Ia menggunakan kayu-kayu bekas sebagai struktur bangunan hingga interior ruangan,” ujar Mahasiswi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Arsitektur, Anastasia Nadliratul Lail.
Tasya menjelaskan, ruangan utama kafe didesain dengan bentuk joglo. Memiliki bentuk atap yang tinggi, simetris, serta struktur kayu yang kokoh. Arsitektur ini tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya dan filosofi Jawa yang mendalam.
Dalam kafe ini, elemen-elemen khas joglo seperti tiang-tiang kayu dan susunan ruang yang terbuka dipertahankan untuk menciptakan suasana yang autentik.
“Ruangannya dibiarkan terbuka, sehingga view persawahan di sekitarnya bisa tampak oleh pengunjung kafe. Ditambah tanaman-tanaman yang sengaja ditambahkan di sekitar. Tentunya ini memberi kesan sejuk dan asri ke dalam ruangan kafe. Sebab udara tersuplai dengan baik. Ruangan juga dibuat tanpa sekat memberikan kesan yang luas,” katanya.
Interior kafe dipenuhi dengan furnitur kayu yang elegan. Dilengkapi dengan dekorasi tradisional yang membuat pengunjung seolah-olah berada di rumah tradisional Jawa. Penggunaan lampu yang sederhana dan ditambah lampu berbentuk petromak menambah kesan Jogjakarta tempo dulu.
“Lantainya juga dibuat simple dari semen. Ini mempermudah cara perawatan. Dindinnya juga dibentuk menyerupai bata ekspose, tentunya akan mengurangi biaya pembangunan. Ini adalah ide yang menarik. Dan vibes semacam ini menambah kesan merakyat sehingga membuat kesan nyaman bagi pengunjung untuk berlama-lama disana,” jelasnya.
Dengan perpaduan antara desain tradisional dan fasilitas modern, kafe ini menawarkan pengalaman unik yang sulit ditemukan di tempat lain. Bagi mereka yang merindukan suasana Jogjakarta atau ingin merasakan kehangatan budaya Jawa, kafe ini adalah destinasi yang sempurna.
“Kehadirannya di Probolinggo, ini tidak hanya menambah variasi kuliner dan tempat nongkrong, tetapi juga menjadi simbol pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman dengan mengangkat keindahan dan kearifan lokal,” ujar warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo ini. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando