Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Tradisi Berburu Takjil, Kenikmatan Bagi Pembeli, Berkah Bagi penjual

Inneke Agustin • Minggu, 17 Maret 2024 | 21:35 WIB
RAMAI: Sejumlah masyarakat yang sedang membeli takjil di depan listrikan, Jalan HOS Cokroaminoto Kota Probolinggo.
RAMAI: Sejumlah masyarakat yang sedang membeli takjil di depan listrikan, Jalan HOS Cokroaminoto Kota Probolinggo.

RAMADAN memiliki makna penting bagi masyarakat muslim di seluruh dunia.

Sebab, Ramadan juga merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh umat muslim baligh sebagai bentuk ikatan keimanan dan ketaatan pada Allah SWT. Ibadah puasa dilakukan mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Di bulan suci ini, erat kaitannya dengan tradisi unik yaitu berburu takjil.

Berburu takjil umumnya dilakukan pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadan.

Takjil identik dengan hidangan ringan yang disantap saat berbuka puasa untuk mengisi perut setelah seharian menahan lapar dan haus.

Sementara berdasarkan KBBI Kemendikbud, takjil artinya mempercepat dalam berbuka puasa.

Istilah takjil diserap dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia, untuk menunjukkan perbuatan menyegerakan berbuka puasa dan juga objek atau bahan makanan yang disantap saat berbuka puasa.

Di Kota Probolinggo, terdapat sejumlah titik yang menjadi tempat berburu takjil.

Salah satunya, di Jalan Pahlawan dan di Jalan Hos Cokroaminoto.

Para pembeli datang silih berganti, dari berbagai usia dan kalangan. Ada yang menggunakan motor dan juga mobil.

Ada pula yang memilih jalan kaki karena lokasinya berdekatan dengan rumahnya.

Seperti Devi, 20 yang tampak baru pulang dari bekerja. Ia tengah mengantre untuk membeli minuman.

Devi mengatakan, biasanya ia berkeliling dulu untuk mencari makanan atau minuman yang ia sukai.

Setiap berburu takjil, Devi mengeluarkan budget hingga Rp 30 ribu per harinya.

“Biasanya, cari di Jalan Pahlawan atau di sini (di depan listrikan Jalan HOS Cokroaminoto). Kalau cocok baru beli,” kata perempuan asal Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan ini.

Selain Devi, ada pula Mito, 59, yang tampak tengah memilih makanan berupa lauk.

Ia mengaku tidak tiap hari berburu takjil, namun ketika berbelanja terkadang ia menghabiskan dana hingga Rp 50 ribu.

“Biasanya ya beli makanan, lauk ataupun kue,” kata perempuan asal Kelurahan/Kecamatan Kanigaran ini.

Bagi sebagian orang, mencari dan membeli takjil dari penjual sepanjang jalan juga menjadi momen sosial dan kebersamaan dengan keluarga ataupun teman.

Aktivitas berburu takjil juga ikut memperkuat atmosfer Ramadan.

 

Pendapatan Pedagang Melesat

Berburu takjil memang tak hanya menjadi momen memuaskan selera.

Namun juga, ajang menjelajahi kekayaan kuliner Indonesia yang khas dan beragam. Berbagai inovasi dan kreasi baru setiap tahunnya, membuat tradisi ini menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Menu takjil seperti kolak, petulo, ketan, risoles, minuman kunyit asam, ataupun makanan pokok lainnya, laris manis diburu pembeli.

Geliat ekonomi semakin tumbuh berkembang, memasuki bulan Ramadan.

Bulan yang membawa berkah bagi seluruh masyarakat. Tak hanya warga biasa, namun juga bagi para pedagang.

Nuansa ini dapat dilihat di sepanjang jalan-jalan atau pasar-pasar tradisional yang dipenuhi oleh pedagang takjil.

Bagi para penjual takjil, Ramadan menjadi momen bisnis yang dinanti-nantikan, untuk meningkatkan penjualan dan mendapatkan rezeki lebih.

Mereka pun berlomba-lomba dalam memberikan pelayanan terbaik.

Biasanya, mereka memasang gerobak atau tenda di tepi jalan, ataupun di dekat masjid untuk menarik perhatian pembeli.

Selain memudahkan masyarakat dalam mencari makanan dan minuman.

Seperti Andre, 22, pedagang yang sudah lama berjualan es. Ia tampak menjual berbagai macam es.

“Tapi yang banyak diminati adalah yang rasa Milo dan Alpukat,” jelasnya.

Dalam sehari, ia mampu menjual sekitar 200 cup minuman.

Ia mempersiapkan dagangannya, pada bada Dhuhur dan buka hingga Magrib.

“Tiap gelasnya, dijual Rp 6 ribu,” urai pria asal Desa Bantaran ini.

Selain Andre, ada juga Anik, 54, yang juga menjual masakan dan kue-kue dengan harga rata-rata Rp 1 ribu hingga Rp 8 ribu.

Ia mengaku, pendapatannya bertambah pada saat Ramadan. “Sekarang, banyak jual risoles rebung yang harganya Rp 8 ribu,” akunya. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#ramadan #tradisi #Kota Probolinggo #berburu takjil #takjil