DALAM dunia properti, gaya rumah Scandinavian telah mengukir jejak yang mengesankan. Bahkan, kini gaya rumah ini telah mengambil hati banyak orang. Termasuk di Probolinggo.
Kombinasi gaya rumah Scandinavian terbilang unik. Memasukan antara kesederhanaan dan kedekatan dengan alam. Inspirasi ini berakar dari negara-neraga Skandinavia seperti Swedia, Norwegia, dan Denmark.
Alumnus Fakultas Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang Moh. Rikzan Wagianto, 24, mengatakan, model Scandinavian mengusung estetika minimalis yang diberkahi oleh sentuhan hangat dari material alam.
“Salah satu aspek utama yang membedakan gaya rumah Scandinavian adalah penggunaan material bata ekspose atau kayu lisplank di bagian fasad. Berpadu dengan warna-warna netral, seperti putih. Warna putih dapat menghadirkan kesan terang dan lapang. Memberikan kontras yang menarik dengan warna bata yang alami tentunya,” ujarnya.
Opsi lain bisa menggunakan unsur sejenis tanah liat untuk interior di bagian vas bunga atau ornamen lainnya. Dari bahan tersebut, tercipta tekstur unik yang membuat rumah seolah menyatu dengan alam.
Selain bermain dengan pewarnaan dan material bangunan, Scandinavian juga banyak melibatkan penggunaan bukaan. Baik berupa jendela besar ataupun taman. Fungsi jendela adalah memungkinkan aliran udara dan cahaya alami masuk secara bebas ke dalam rumah.
“Jendela besar bisa juga disubstitusi dengan penggunaan roster beton minimalis. Sedang tanaman yang cocok pada model rumah ini biasa didominasi dengan ilalang ataupun kaktus untuk menambah kesan hijau,” ujar pria asal Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo ini.
Ciri Khasnya Atap Tinggi
Bagian yang mencolok dari tipe Scandinavian adalah bentuk atapnya. Bentuk atapnya cenderung memiliki kemiringan yang curam. Karena model ini merupakan adaptasi dari bentuk rumah di luar negeri yang memiliki musim salju.
Dibuat curam agar salju tidak menumpuk di atap rumah. Di Indonesia, bentuk atap yang menjulang tinggi ini membuat hawa di dalam rumah menjadi lebih sejuk. “Dilihat dari tren perumahan saat ini, masyarakat lebih melirik Scandinavian ketimbang model rumah pelana biasa,” ujar salah seorang desainer bangunan di salah satu developer perumahan Kota Probolinggo, Barunia Andi Nara, 24.
Dari sisi penggunaan bahan, kata Barunia, sebetulnya Scandinavian lebih boros bahan ketimbang model pelana. Model pelana masih bisa dibantu oleh gewel. Di Scandinavian, kebanyakan murni dari kuda-kuda.
“Selain itu, pelana hanya membutuhkan satu talang. Yakni, di bagian belakang. Sedangkan, Scandinavian membutuhkan talang cor di bagian kanan dan kiri,” ujar perempuan asal Kelurahan Wiroborang, Kota Probolinggo ini.
Rumah dengan model Scandinavian, benar-benar membuat sejumlah orang kagum. Mereka begitu menikmati hunian yang mereka impikan. Suasananya terasa lebih nyaman dan sejik.
Seperti disampaikan salah satu pemilik rumah bergaya Scandinavian, Afiyati Nur Aisyah, 28. Warga Desa Pabean, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, ini mengatakan, karena banyak jendelanya dan plafonnya juga lebih tinggi mengikuti bentuk atap, jadi lebih sejuk.
“Di bagian depan dan belakang masih ada sisa lahan untuk taman. Ketika jendela maupun pintu saya buka, bisa tampak keindahan alam di luar ruangan,” katanya. (mg/rud)
Editor : Jawanto Arifin