Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Makin Asyik Keliling Kota dengan Sepeda Ontel Gudel

Ronald Fernando • Minggu, 18 Juni 2023 | 20:30 WIB
TETAP ASYIK: Arief Arianto (kiri) dan Alif Riski Priambodo, pecinta speeda gudel berfoto bersama usai keliling kota. (Istimewa)
TETAP ASYIK: Arief Arianto (kiri) dan Alif Riski Priambodo, pecinta speeda gudel berfoto bersama usai keliling kota. (Istimewa)
GOWES menjadi salah satu cara berolahraga ramah lingkungan. Bersepeda mengelilingi kota, tak harus menggunakan sepeda keluaran terbaru. Menggunakan ontel klasik, juga asyik. Termasuk menggunakan ontel gudel atau si anak kebo.

Sepeda ontel atau juga disebut sebagai sepeda unta, pit kebo, atau pit pancal merupakan sebuah tipe sepeda standar dengan ban ukuran 28 inci. Sepeda ini biasa digunakan oleh masyarakat perkotaan pada zaman Hindia Belanda sampai akhir tahun 1970-an.

Namun, bukan berarti saat ini musnah. Masih banyak yang menggandrungi, termasuk kaum muda. Bahkan, ontel keluaran tahun-tahun lama dan masih orisinal, harganya bisa melangit. Terlebih bila ketemu kolektor.

Rupanya, ontel tak hanya yang berukuran gede dengan ukuran ban sampai 28 inci. Ada juga yang cebol. Banyak orang menyebutnya ontel gudel. Sesuai namanya, bentuknya mungil. Ukuran ban hanya berkisar antara 20 inci sampai 24 inci. Kalau bentuk rangka, tak beda jauh dengan ontel kebo atau unta.

Di Kota Pasuruan, ada sejumlah warga yang biasa menggunakan sepeda gudel. Tergabung dalam Kumpulan Piet Onthel Gudel. Mereka menyingkatnya Kumpo Gudel. Anggotanya masih minim. Baru 12 orang dari Kota dan Kabupaten Pasuruan.

Di sejumlah kota lain, komunitas gudel mulai menjamur. Bahkan, sering mengadakan kegiatan-kegiatan sosial. “Rata-rata ikut di komunitas Kosti (Komunitas Sepeda Tua Indonesia) wilayah Pasuruan. Untuk gudel sendiri masih sebatas forum. Tapi, tetap di bawah naungan Kosti wilayah Pasuruan,” ujar salah seorang anggota Kumpo Gudel, Alif Riski Priambodo.



Photo
Photo
KLASIK: Arief Arianto, jalan-jalan bersama anaknya menggunakan sepeda gudel. (Istimewa)

 

Warga Kelurahan Sekargadung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, ini mengatakan, selain ukurannya imut, para penikmat ontel gudel menyebutnya lebih ke candu. Sebab, tahun produksinya sudah terbilang tua. “Sekitar 1940-an. Ada juga tahun produksi yang sebelum 1940,” ujarnya.

Karenanya, para penikmat gudel semakin tertantang untuk meminangnya. Mendapatkan barang terbaik dan orisinal, menjadi kepuasan tersendiri. Karena itu, para penikmatnya rela hunting ke mana-mana untuk mendapatkan kepuasan.

Misalnya bisa mendapat yang full orisinal, kata Alif, merupakan bonus dan itulah inti dari candu untuk mendapatkan gudel yang benar-benar asli pabrikan dari merek ternama. Namun, untuk mewujudkannya tidak mudah. Karena, kebanyakan pemilik gudel juga enggan menjualnya. “Bejo-bejoan. Sekali ada, harganya tinggi,” ujar pria 37 tahun ini.

Anggota Kumpo Kebo lainnya, Arief Arianto, 39, menambahkan, filosofi gudel sendiri adalah anak kebo. Sepeda kebo merupakan sebutan sepeda kebo yang ukurannya normal. Karena sepeda kebo versi mini, maka dinamai gudel. “Filosofi gudel, anak kebo kan gudel,” ujarnya sembari tertawa.

Arief mengatakan, Kumpo Kebo sering mengadakan kegiatan berupa gowes bareng setiap Minggu. Para anggota meluangkan waktu untuk berkumpul dengan membawa si anak kebo.

Komunitas terus eksis untuk meramaikan Pasuruan. Tujuannya, mengenalkan sepeda klasik ini kepada masyarakat. Di Malang, kata Arief, sudah booming. Bahkan, paling ramai diantara kota lain di Jawa Timur. (zen/rud) Editor : Ronald Fernando
#hobi #sepeda ontel gudel