Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Bangunan Bergaya Kolonial, Pesona Arsitektur Klasik Yang Abadi

Inneke Agustin • Minggu, 24 Desember 2023 | 21:25 WIB
KAYU SOLID: Pintu di Stasiun Kota Probolinggo terbuat dari struktur kayu solid dengan aksen kaca, terdiri dari dua lapis, sementara bagian atasnya berbentuk setengah lingkaran dengan ventilasi.
KAYU SOLID: Pintu di Stasiun Kota Probolinggo terbuat dari struktur kayu solid dengan aksen kaca, terdiri dari dua lapis, sementara bagian atasnya berbentuk setengah lingkaran dengan ventilasi.

BANGUNAN bergaya kolonial menunjukkan warisan sejarah. Pesona arsitektur klasik yang masih memikat hingga saat ini menciptakan bangunan megah yang menonjol. Arsitektur kolonial didefinisikan sebagai gaya arsitektur yang menggabungkan antara budaya barat dan timur. Gaya arsitektur ini umumnya terkait dengan masa penjajahan bangsa Eropa di berbagai belahan dunia.

Tahun 1624 sampai 1820, gaya kolonial (dutch colonial) adalah gaya rancangan yang terkenal di Belanda.

Meski masa penjajahan bangsa Eropa telah usai, bangunan bergaya kolonial terus menarik perhatian. Bahkan, sering menjadi bagian dari pusat kota yang bersejarah. Sering diubah menjadi hotel mewah, restoran ekslusif, atau galerii seni.

SETENGAH LINGKARAN: Jendela di Stasiun Kota Probolinggo, terbuat dari kayu dengan bentuk setengah lingkaran pada bagian atasnya.
SETENGAH LINGKARAN: Jendela di Stasiun Kota Probolinggo, terbuat dari kayu dengan bentuk setengah lingkaran pada bagian atasnya.

Begitu pula dengan kedatangan pemerintah Kolonial Belanda, membuat Kota Probolinggo memiliki banyak bangunan bersejarah.

Salah satunya Stasiun Kereta Api Probolinggo di Jalan K.H. Mas Mansyur, Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Gedung ini dibangun pada akhir abad ke-19 atau kurang lebih pada 1920 higga 1930. Stasiun kereta api ini menjadi salah satu situs bersejarah di Kota Probolinggo.

Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia dalam perkembangannya terbagi menjadi tiga periode.

Pertama, Indische Empire Style yang berkembang pada 1808-1811. Gaya arsitektur ini kali pertama dikenalkan Herman Willen Deandels ketika menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Indische Empire Style (gaya imperial) pada awalnya berkembang di daerah pinggiran Batavia.

Arsitektur ini lahir dari pencampuran kebudayaan Belanda, Indonesia, dan sedikit budaya China.

Beberapa ciri utamanya adalah bangunan berbentuk simetris, terdapat ruang utama (central room) di tengah bangunan yang menghubungkan teras depan dan teras belakang. Sementara, teras biasanya luas dengan barisan kolom bergaya Yunani.

Sedangkan, ruang service seperti dapur, toilet, dan gudang diletakkan terpisah dari bangunan utama dan terletak di bagian belakang.

Ada kalanya terdapat paviliaun di samping bangunan sebagai kamar tidur tamu. Terdapat perbedaan antara kolom gaya kolonial dengan gaya Yunani.

“Kalau kolonial biasanya bentuknya kotak. Kolomnya biasa dihiasi list atau ornamen garis. Sementara untuk arsitektur Yunani cenderung berbentuk bulat,” ujar Moh. Rikzan Wagianto, 24, alumnus Fakultas Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

Pada 1890-1915 berkembang Arsitektur Transisi. Desain ini dipelopori Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Kolonial yang disebut BOW (Burgelijke Openbare Werken).

Arsitektur ini hampir mirip dengan gaya arsitektur Indische Empire Style. Hanya saja pada rumah yang berukuran besar, terdapat paviliun di samping bangunan.

Tidak ada pilar dengan gaya Romawi ataupun Yunani, namun gevel-gevel pada arsitektur Belanda muncul kembali.

Terdapat aksen-aksen yang berkesan romantis, menara di pintu masuk utama, bangunan utamanya terbuat dari kayu dan bata, penggunaan jendela masih terbatas, atapnya berbentuk pelana dan perisai, serta terdapat tambahan ventilasi pada atap (dormer).

Kemudian, pada 1915-1940 ada arsitektur Kolonial Modern. Pada desain arsitektur ini mulai dimasukkannya unsur-unsur tropis dan penggunaan material beton.

Denah yang digunakan lebih bervariasi dan tak lagi simetris. Teras di sekeliling bangunan juga sudah tidak digunakan lagi.

Melainkan menggunakan elemen penahan sinar. Tampak bangunan merepresentasikan clean design (form follow function).

Tak seperti bangunan bergaya lainnya, arsitektur kolonial sebagian bagian fondasi muncul di permukaan tanah.

Sehingga, bangunan terkesan lebih tinggi. Meski muncul di atas tanah, fondasi tersebut tak lantas diplaster.

Biasanya memang dibiarkan terbuka dan terlihat strukturnya. Sementara untuk dinding, barulah diplaster menggunakan semen.

“Biasanya fondasi itu kan diurug di dalam tanah. Pada arsitektur kolonial berbeda, ia malah muncul ke atas,” kata Rikzan.

Dinding bangunan bernuansa kolonial Belanda, kata Rikzan, biasanya dibangun lebih tebal.

Mayoritas biasanya menggunakan pasangan satu bata. “Jadi, tebalnya bisa mencapai 30 sentimeter,” ujarnya.

Selain itu, ukuran bangunan biasanya cenderung besar dan memiliki halaman yang luas. Soal plafon, biasanya cenderung tinggi.

Ini dimaksudkan untuk dapat beradaptasi dengan iklim tropis. “Sehingga, di dalam ruangan tersebut tidak cepat terasa panas,” katanya.

NETRAL: Warna bangunan Stasiun Kota Probolinggo cenderung netral, menggunakan perpaduan warna putih dan abu-abu.
NETRAL: Warna bangunan Stasiun Kota Probolinggo cenderung netral, menggunakan perpaduan warna putih dan abu-abu.

Ciri-Ciri Menonjol Arsitektur Kolonial

Beberapa ciri arsitektur kolonial adalah jendela yang lebar dengan panel-panel kayu. Jenis jendela didominasi jendela krepyak, berdaun gandan, dan berlapis dua.

Terdapat tralis besi di bagian dalam sebagai pengaman jendela. Desain ini tidak hanya memberikan tampilan indah, tetapi juga memungkinkan sirkulasi udara yang baik di dalam ruangan.

Sementara pintu biasanya berdaun ganda berlapis dua. Terbuat dari bahan kayu solid dengan permainan garis-garis atau permainan ornamen kaca.

Biasanya bagian atas berbentuk setengah lingkaran dan memiliki lubang angin atau ventilasi.

“Kalau untuk pintu, kadang ada yang menggunakan dua lapis, seperti jendela. Jadi ada tralis atau pintu kedua di dalamnya. Tapi, ini biasanya digunakan untuk bangunan-bangunan pemerintahan yang memang butuh pengamanan ekstra. Sementara untuk hunian rumah, biasanya hanya menggunakan satu lapis,” kata Rikzan.

Ciri-ciri lainnya adalah penggunaan warna netral dan cenderung pucat. Warna-warna yang digunakan seperti putih, krem, ataupun abu-abu. Warna-warna ini tidak hanya menciptakan tampilan yang bersih dan elegan.

“Warna-warna tersebut sebenarnya juga untuk memantulkan sinar matahari. Tidak mudah menyerap sinar matahari. Jadi, sangat cocok di iklim tropis. Tidak mudah panas,” katanya.

Terkait penggunaan lapisan penutup lantai, pada gaya Kolonial Belanda banyak menggunakan ubin.

Penggunaan ubin tegel berwarna abu-abu dengan ukuran 20 x 20 sentimeter dimaksudkan untuk dapat menyerap panas. “Sebab, karakteristik ubin memang cenderung dingin,” ujar Rikzan. (mg/rud)

Editor : Jawanto Arifin
#peninggalan belanda #Bangunan Kolonial