DRINGU, Radar Bromo - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten terus berupaya melakukan mitigasi bencana. Memasuki Agustus yang diprediksi merupakan puncak musim kemarau, petugas terus bersiaga meminimalisir terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Oemar Sjarief mengatakan, saat musim kemarau tiba, ada dua potensi bencana yang dapat terjadi yakni karhutla dan krisis air bersih. Karhutla cukup menjadi atensi karena saat kemarau titik api yang timbul dapat cepat membesar dan merembet. Sehingga tidak hanya membahayakan masyarakat. Tetapi dampak yang ditimbulkannya dapat mempengaruhi ekosistem lingkungan.
Begitu juga dengan krisis air bersih. Menyusutnya volume air baik dari sumur, sumber, maupun sungai berdampak pada kehidupan masyarakat. Sebab air bersih merupakan kebutuhan dasar kehidupan.
Setiap hari tidak bisa lepas dari penggunaan air bersih. Baik untuk minum, memasak, dan aktivitas rumah tangga lainnya.
“Meningkatnya suhu dan cuaca yang terik. Akan berdampak pada lingkungan. Lahan dan hutan mudah terbakar. Begitu juga menyusutnya air bersih dapat terjadi kapan saja. Sehingga perlu dilakukan mitigasi,” katanya.
BPBD telah memetakan setidaknya terdapat 16 wilayah yang diwaspadai berpotensi karhutla dan krisis air bersih. Meliputi Kecamatan Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Dringu, dan Gading. Lalu Kecamatan Kotaanyar, Kuripan, Leces, Lumbang, dan Paiton. Serta Kecamatan Pakuniran, Sukapura, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, dan Wonometo.
Karhutla dan krisis air bersih sewaktu-waktu bisa saja terjadi. Oleh sebab itu percepatan penanganan perlu dilakukan. BPBD menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk melakukan tindakan. Agar upaya yang dilakukan lebih maksimal koordinasi dengan pihak terkait juga dilakukan.
“Bulan Agustus ini diprediksi puncak kemarau. Potensi bencana juga sudah dipetakan. Harapannya nanti dapat memitigasi bencana yang terjadi,” pungkasnya. (ar/fun)
Editor : Abdul Wahid