DRINGU, Radar Bromo - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo selama kemarau mewaspadai potensi krisis air bersih. Hingga kini petugas mewaspadai wilayah rawan krisis air bersih.
Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang tak dapat digantikan. Pasalnya air bersih digunakan dalam semua aktivitas. Baik untuk kebutuhan konsumsi, memasak, hingga mencuci.
Tak heran saat air mulai mengering atau mengalami kendala dalam penyalurannya. Masyarakat menjadi resah, sehingga memerlukan pengiriman air bersih untuk memenuhi kebutuhan.
“Kebutuhan dasar air bersih tidak dapat digantikan. Harus tetap dipenuhi. Tentunya saat kemarau, potensi krisis air bersih menjadi atensi,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief.
Sejauh ini ada beberapa wilayah yang terus dipantau karena kerap dilanda krisis air bersih saat kemarau. Meliputi Kecamatan Banyuanyar, Gading, Leces, Lumbang, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, dan Wonomerto. Wilayah tersebut pada tahun 2025 lalu kerap mengajukan permohonan pemenuhan air bersih.
Ada beberapa alasan masyarakat mengajukan permohonan pemenuhan air bersih. Mulai dari menyusutnya sumber air bersih desa. Sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan air bersih warga desa.
Alasan lainnya adalah karena saluran air Perumdam tidak sampai ke rumah pelanggan. Hal ini terjadi karena pipa mengalami kerusakan.
“Apapun alasan krisis air bersih yang tejadi, jika ada permohonan pemenuhan air bersih maka akan kami berikan. Sampai benar-benar terpenuhi dan pasokan air kembali normal,” ucapnya.
Untuk memastikan wilayah rawan krisis air bersih tetap terpantau, BPBD melalui Tim Reaksi Cepat (TRC) secara berkala melakukan pemantauan dan pengecekan langsung. Saat upaya tersebut dilakukan, jika ada laporan atau temuan.
Maka petugas akan segera melakukan pengiriman air bersih. Sementara untuk penanganan permanen akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan OPD terkait.
“Pemenuhan air bersih begitu urgent. Maka harus segera ditindaklanjuti,” tandasnya. (ar/fun)
Editor : Abdul Wahid